Kenapa Banyak ASN Malas Berinovasi?

Banyak alasan mengapa ASN malas berinovasi, namun semuanya itu bermuara kepada diri ASN itu sendiri. Perubahan mindset dan niat ibadah menjadi kunci agar ASN tak patah hati dalam berinovasi.

kenapa asn malas berinovasi
kenapa asn malas berinovasi ?. ilustrasi: pixabay

BantenTribun.id- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak  belum lama kembali meraih penghargaan dari pemerintah pusat, kali ini dari Lembaga Administrasi Negara berupa apresiasi terhadap inovasi administrasi negara yang dikenal dengan INAGARA award.

Pemkab yang dipimpin oleh Iti Octavia itu dianggap punya komitmen kuat dalam meneyelenggarakan inovasi dan telah melaksanakan semua tahapannya pada tahun lalu.

Sebuah pencapaian yang patut di apresiasi mengingat inovasi saat ini masih menjadi barang langka, terlebih di dunia teknokrat dan birokrasi

Lalu apa yang dimaksud dengan inovasi, kemudian kenapa pemerintah saat ini begitu mendorong aparaturnya untuk berinovasi?

Simon Sumanjoyo Hutagalung, M.P.A dan Dr. Dedy Hermawan, M.Si dalam buku Membangun Inovasi Pemerintah Daerah menjelaskan, inovasi merupakan sebuah penemuan baru, berbeda dari yang sebelumnya, dan berupa buah dari ide dan pemikiran dan daapt dikembangkan, diimplementasikan dan dirasakan manfaatnya.

Inovasi bagi pemerintah memiliki manfaat yang penting, terlebih saat ini di tengah pandemi covid-19, dimana banyak perubahan yang ‘mau tidak mau’ harus dilakukan.

Terkait dengan manfaat inovasi, Richard Heeks mengelompokan inovasi kedalam beberapa tingkatan manfaat, pertama, manfaat pada tingkat proses. Dalam hal ini sebuah inovasi dapat menghemat biaya, waktu dan mengurangi keterbatasan melalu layanan pemerintah berbasis online yang dapat diakses masyarakat kapan dan dimanapun.

Dalam tingkat ini, pimpinan dapat mengambil keputusan lebih baik, mampu mengontrol kinerja staf, kegiatan, hingga mengetahui kebutuhan organisasinya.

Manfaat yang kedua adalah pada tingkat pengelolaan, dalam tahap ini inovasi berperan untuk mengubah perilaku aparatur, misalnya mencegah korupsi, bekerja lebih efektif dan efisien, serta melakukan layanan publik tanpa diskriminasi.

Pemerintah di tingkat pusat menyadari arti penting dan manfaat inovasi bagi peningkatan kinerja aparatur dan layanan publik di berbagai level. Dorongan inovasi dan transformasi digital menjadi solusi konkrit dalam menjalankan roda pemerintahan, terlebih dimasa pandemi dan Adapatasi Kenormalan Baru (AKB)

Mereka bahkan telah menyiapkan berbagai regulasi, sosialisasi dan bimbingan teknis untuk Pemerintah di level Provinsi dan Kabupten/Kota.

Berbagai penghargaan pun diberikan mulai dari INAGARA Award seperti yang diraih oleh Pemkab Lebak dan Pemkot Cilegon, Sistem Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) dari Kemenpan RB, hingga Innovative Government Award dari Kementerian Dalam Negeri.

Sayangnya, meski telah melakukan banyak upaya, pada faktanya pelaksanaan inovasi di tingkat daerah tidaklah mudah. Banyak faktor penghambat yang membuat Aparatur Sipil Negara atau ASN malas berinovasi

Dr Ayuning Budiati SIP MPPM (Berkacamata dan Kerudung Coklat) dari prodi Administrasi Publik Fisip Untirta, saat mengajar Nasionalisme dan Pancasila bagi Anak-Anak Papua di Kodim Bali. Foto: BantenTribun

Kenapa ASN Malas Berinovasi?

Ada banyak alasan mengapa ASN malas berinovasi dan mencari hal baru untuk perbaikan kinerja dan layanan bagi masyarakat. Hal itu ditengarai oleh beberapa faktor.

Dr. Ayuning Budiati S.IP.,MPPM, Dosen Program Studi Administrasi Publik, Universitas Tirtayasa (Untirta) mengatakan, penyebab ASN malas berinovasi yang paling mendasar adalah karakter atau akhlak yang tak mau berubah lebih baik. Selanjutnya baru sistem.

“Sistem disini maksudnya adalah semua komponen, mulai dari budaya kerja, gaya kepemimpinan, reward and punishment, kolaborasi dan ego sektoral, manajemen dan SDM intinya Man, Money, Material, Methode, Techinque yang semacam itu.” terang Dr. Ayuning, via Whatsapp, pada Banten Tribun, Kamis (13/8).

Lebih lanjut, Dosen yang juga lulusan Monash University Australia mengatakan, apresiasai pemimpin daerah punya peran penting mendorong ASN berinovasi.

Hanya saja, menurut Wanita yang juga mengajar di Lembaga Adminstrasi Negara Jakarta, dan Bandung itu, agar pemimpin daerah mau mengapresiasi bawahannya ia harus lebih dulu memahami inovasi dan memahami bawahannya sebagai makhluk sosial.

“Pemimpin daerah harus juga memahami apa inovasi, sehingga ia mau mengapresiasi. dalam era 4.0 inovasi, transformasi, kolaborasi dan co-kreasi penting sekali. Inovasi harus dilakukan dengan kolaborasi dan co-kreasi, manusia makhluk sosial. Artinya pimpinan harus Paham itu dulu untuk dapat mengapresiasi,” terangnya.

Penjelasan Dr. Ayuning Budiati soal  kenapa ASN malas berinovasi itu senada dengan Sanford Borins, penulis  buku The Challenge of Innovating in Government.

Borins menulis setidaknya ada tiga hal yang menghambat sebuah inovasi dapat berjalan dengan baik. Pertama penghambat yang berasal dari birokrasi itu sendiri, hal ini berupa sikap skeptis dan keengganan untuk berubah yang oleh Dr. Ayuning dianggap sebagai masalah ‘akhlak’ yang tidak mau berubah lebih baik.

Kedua, pengaruh politik, hal ini berkaitan dengan lingkungan politik yang tidak kondusif, seperti regulasi dan kebijakan pimpinan, serta kepentingan sebagian golongan dan pimpinan yang menghambat. Sementara yang Ketiga adalah hambatan yang berasal dari keraguan publik terhadap efektivitas sebuah program inovasi.

Inovasi Adalah Ibadah

Dr. Ayuning menjelaskan dimensi inovasi itu sebenarnya sangat luas, bukan ‘melulu’ soal teknologi informasi atau transformasi digital.

“Pelayanan masyarakat dengan sistem jemput bola ke tiap RT dengan tetap memperhatikan protokol Covid-19, penggunaan masker untuk melayani masyarakat, program kecamatan keliling untu melayani kebutuhan masyarakat juga inovasi,” ungkapnya.

Menurut dosen yang juga puteri dari Profesor Yoyo Mulyana, M.Ed itu hal paling penting dalam melakukan inovasi adalah niatkan untuk ibadah dan mencari Ridho Allah. “Mindset ‘ridho Allah’ itu penting agar ASN tak lagi malas berinovasi,” terangnya.

Lebih jauh, Dr. Ayuning juga menilai saat ini ASN sejatinya lebih bersyukur karena teknologi menjadi ‘tools’ yang memudahkan mereka melakukan perubahan.

“Kemajuan teknologi informasi sekarang ini apabila pegawai memiliki inovasi dapat di share melalui TI ini. Mulai darr yang kecil, dari diri sendiri dan mulai sekarang. Maka inovasi atau kebaikan itu dapat ditularkan. Lalu kita akan menjadi role model untuk orang lain bahkan untuk pemimpin kita sendiri yang kurang mengapresiasi tadi. Jadi tak ada lagi alasan ASN malas berinovasi.” Pungkas Dr. Ayuning. (kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.