Keceprek Melinjo “Dermayu”, Wajib Pakai Kayu Asem

Pandeglang, BantenTribun.id – Keripik atau keceprek melinjo, itu nama populer makanan cemilan dari   Kecamatan Karangampel Kabupaten Indramayu.

Di Pandeglang Banten, kudapan  yang satu ini dikenal dengan “Keceprek”. Kedua makanan ini sama-sama berbahan baku dari buah melinjo atau yang memiliki nama latin Gnetum Gnemon.

Pengusaha kripik / keceprek melinjo Karangampel, memang lebih senang  menggunakan bahan baku asal Pandeglang. Home industri dari  Kota Mangga ini sudah masuk skala menengah.

Pengusaha di Indramayu rata-rata  memproduksi 500 Kg hingga 1 ton buah melinjo perhari untuk dibuat keceprek melinjo

Sementara kemampuan produksi keceprek melinjo di Pandeglang sendiri, sebagai kota penghasil buah melinjo, relatif lebih kecil, jauh jika dibandingan dengan produksi keceprek melinjo di Indramayu

Perbedaan cara pengolahan, dimulai dari proses pemecahan kulit keras, racikan bumbu, sistem pengupahan, penggunaan alat,  juga cara  memukul atau memipihkan  buah berbentuk oval itu sendiri, menjadi faktor tinggi rendahnya produksi keceprek melinjo.

Di Pandeglang, memproduksi keripik melinjo atau keceprek, umumnya menggunakan alas dan pemukul dari batu. Sedangkan di Karangampel, Indramayu, alat pemukul harus menggunakan kampak yang terbuat dari besi.

Dan yang paling penting, alas  atau talenan yang digunakan harus dari Kayu Pohon Asam Jawa.

Penggunaan Kayu Asam Jawa sebagai talenan, menurut pengakuan pengusaha  keripik melinjo Karangampel, dianggap memiliki kekerasan yang ideal dalam memipihkan buah melinjo. Sehingga tidak terjadi goncangan saat memipihkan

Kayu ini juga dinilai tidak mempengaruhi  rasa melinjo, serta tidak mudah meremukkan keripik melinjo yang sudah di pipihkan pada saat penggorengan.

“Kami sudah mencoba dengan alas dari kayu  seperti Jati, Mahoni atau kayu keras lain, tapi hasilnya tidak sebagus dengan menggunakan kayu Asam Jawa,” kata Citut (36), pemilik merk dagang Putra Ibu Sariah di Desa Sendang Kecamatan Karangampel, saat dihubungi BantenTribun, Selasa(22/8) kemarin.

“Kalau pakai batu, selain bentuknya mudah pecah, serpihan pecahan batu juga kadang terbawa. Jadi alas pemukul wajib pakai Kayu Asam Jawa, itu yang terbaik,” kata Warganda (51) meyakinkan. (Kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.