Kawasan Banten Lama, Identitas Siapa?

identitas banten lama
Tiar Pandapotan Purba – Pengamat Perkotaan

Pusat bersejarah kota, adalah jantung identitasnya, apabila ditinggalkan, identitas kota juga menghilang. Akhirnya, pekerjaan regenerasi kota yang berfokus pada pelestarian dan sejarah menjadi sangat penting untuk menyelamatkan identitas kota (Yakup Egercioglu-Dep City and Regional Planning, IKC University, Turkey-2015).

Tulisan ini merupakan lanjutan dari kegiatan road map pembangunan perumahan dan kawasan permukiman di Kota Serang tahun lalu, di mana diskusi informal tersebut akhirnya mengarah kepada pembangunan Kawasan Banten Lama.

Saya tidak ingin mengatakan secara tiba-tiba bahwa jantung pergerakan ekonomi Kota Serang adalah Kawasan Banten Lama, sementara kita ketahui bersama bahwa pergerakan ekonomi di Kota Serang merupakan akibat dari adanya kegiatan perdagangan dan jasa terutama Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B).

Sewaktu kami berdiskusi dan memikirkan visi pembangunan perumahan dan kawasan permukiman di Kota Serang, kami berusaha untuk mencari ruh utama dari Kota tersebut. Sepanjang pengkajian kami, walaupun permasalahan perumahan dan kawasan permukiman di Kota Serang sangat tipikal dengan kota-kota lainnya di Indonesia, kami ingin mendapatkan hal utama yang harus dibenahi sehingga efek dari pembenahan tersebut bisa sampai kepada masyarakat dan membuat bangga serta memiliki dampak tambahan bagi ekonomi lokal dan regional.

Kota Serang, di dalam dokumen Pembangunan dan Tata Tuang Banten ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) selain Cilegon. Namun, fakta yang mencengangkan adalah kondisi perumahan dan kawasan permukiman sangat memprihatinkan daripada wilayah kota lain seperti Cilegon dan Tangerang Selatan.

Dasarnya adalah angka-angka yang mencengangkan dari permasalahan akses hunian layak, akses air minum, akses sanitasi layak, rumah tidak layak huni, dan kondisi prasarana di lingkungan perumahan. Perhatian utama adalah soal besarnya luas kawasan kumuh yang harus ditangani sementara kemampuan fiskal pemerintah daerah dan prioritas pembangunan daerah memperlihatkan hal yang tak berpihak.

Wajah Kota Serang memang indah jika kita berjalan di pusat kota terutama pada jalan-jalan utama, namun jika kita masuk ke dalamnya ada banyak persoalan yang harus dibenahi. Mulai dari drainase, jalan lingkungan perumahan, rumah tak layak huni, kemiskinan, persampahan, air minum dan sanitasi. Kota Serang terlalu mudah untuk dilupakan dengan segudang permasalahannya.

Kota Serang, mudah dilupakan karena tidak banyak elemen citra pembentuk kota yang membuat orang mau menikmati, belajar dan membuat kenangan, bahkan mau kembali lagi karena kenangan tersebut. Kota Serang ibarat gadis yang diputus cinta oleh kekasihnya.

Kevin Lynch (1960) dalam buku Image of the city, mempertanyakan “seperti apa bentuk kota yang sebenarnya bagi orang-orang yang tinggal didalamnya?”. Pertanyaan tersebut ia kaji di tiga (3) Kota Besar saat ini yakni Los Angeles, Boston dan New Jersey. Kemudian menghasilkan beberapa kriteria baru dalam membentuk citra sebuah kota dan atau membangun kembali sebuah kota.

Salah satu hasil studinya menyebutkan bahwa elemen-elemen pembentuk kota seperti path, edges, district, nodes dan landmark, menjadi sangat penting dalam pembentukan citra kota.

Path didefinisikan sebagai jalur-jalur penghubung gerak warga kota yang bentuk fisiknya dikenal dengan jalan, gang, lintasan kereta api, dan saluran air kota. District dan atau yang dikenal dengan fungsi-fungsi ruang yang homogen semisal kawasan pemerintahan, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan olah raga, kawasan wisata dan kawasan fungsi lain yang secara tegas membentuk identitas ruang.

Edges, atau dikenal dengan citra yang membentuk batas aktifitas, kepemilikan atau desain yang berfungsi untuk menyatukan atau penyatuan.  Nodes atau simpul, citra pembentuk kota di mana orang bisa merasakan awal dan akhir masuk ke sebuah kota. Dalam bentuk fisik, dapat dikenal dengan stasiun, pelabuhan, taman, terminal, bandar udara dan simpul pergerakan lalu lintas.

Landmark atau simbol sebuah kota dalam wujud fisik yang menarik dan perwujudan utuh dari sebuah kota. Landmark dibuat sangat menarik baik dari sisi ukuran maupun visual. Jika melihat kota-kota di Indonesia dapat dilihat beberapa contoh landmark seperti Borobudur di Jogjakarta, Monas di Jakarta, Merlion dan Marina By Sand di Singapura, Patung GWK di Bali, dan Patung Surabaya di Surabaya.

Dalam diskusi, disimpulkan bahwa ada masalah dalam melihat Kota Serang secara utuh saat menempatkan Banten Lama sebagai Landmark Kota, dan Landmark Banten dalam skala yang lebih luas. Cara melihat ini, menjadi pelik ketika sudah masuk dalam pembahasan kewenangan pengelolaan obyek sejarah dan kawasan. Lebih peliknya lagi adalah tumpang tindih program/kegiatan pemerintah, baik itu K/L, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota Serang dan Pemerintah Kabupaten Serang. Masing-masing berusaha untuk membenahi obyek dan kawasan dengan tujuan utamanya melindungi sejarah dan pelestarian kawasan.

Lebih dalam kami membahas, jikalah Kawasan beserta situs Banten Lama menjadi pusat perhatian skala kota dan wilayah, maka selayaknya Kawasan Banten lama dan sekitarnya menjadi kawasan terbaik dari sisi urban design dengan tema utamanya adalah perlindungan dan pelestarian obyek sejarah.

Lebih jauh, urban guidelines-nya menjadi yang terbaik karena telah ditetapkan menjadi di kawasan strategis provinsi, kabupaten dan kota. Pandangan kami ke depan, jika Kawasan ini tidak menjadi perhatian nasional, maka tekanan kegiatan untuk bermukim, kegiatan perdagangan, jasa dan industri akan menghancurkan sejarah kejayaan Banten tersebut. Kawasan ini dapat menjadi pusat kegiatan strategis  nasional seperti Monumen Nasional yang terintegrasi dengan Masjid Istiqlal, ruang terbuka publik dan kawasan bisnis/komersil sekitarnya.

Bentuk urban desain ini tidak mudah, karena harus merevitalisasi dan restorasi beberapa obyek cagar budaya dan sejarah serta mengatur kembali obyek agar mampu bercerita kembali kisah di zaman itu.  Selain itu integrasi dengan kawasan pelabuhan perikanan dan perumahan di sekitar kawasan menjadi elemen penting. Makna lainnya, adalah kami ingin mengatakan bahwa Kawasan Banten Lama akan menjadi kawasan paling elit selayak Central Business District, Hunian Terbaik dalam kerangka visi Heritage Elite City.

Selanjutnya, kami berpikir lebih jauh, ketika pemerintah  sibuk menghabiskan anggaran multi tahun yang tak kunjung menyelesaikan masalah utamanya, kami justru berfikir bagaimana caranya agar hotel bintang lima hingga penginapan kelas murah dapat berada di Kota Serang karena adanya Kawasan Banten Lama. Cara berfikir ini untuk mengungkapkan bahwa belum ada Grand Desain Terbaik yang dapat diberikan kepada kepala daerah di Kota dan Provinsi untuk merestorasi Kawasan Banten Lama. Ini penting karena kondisi fiskal, keterlibatan multipihak dan waktu yang dibutuhkan sangat panjang.

Analogi lain, yang coba kami bahas adalah melihat model District Marina Bay Sands, di Singapura yang membangun elemen-elemen baru dan berhasil menjadi daya tarik baru, karena patung Merlion dan kawasan sekitarnya mulai menjemukan. Obyek Destinasi berupa landmark yang sangat banyak membuat wisman harus membuat daftar panjang yang semaksimal mungkin dapat dikunjungi dalam waktu yang singkat. Padahal, makanan dan minuman disana biasa saja dan sangat mahal. Melalui penciptaan elemen-elemen pembentuk kota terutama landmark, citra Singapura kembali menjadi perhatian warga dunia dan membuat decak kagum.

Dalam diskusi lanjutan kami, ketika membahas Gran Strategi Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman di Banten, permasalahan adu kuat kewenangan menjadi sangat kental ketika masyarakat menuntut hak atas tanah hunian dan perluasan huniannya. Sisi lain, dari Balai Cagar Budaya merasakan adanya ancaman dari aktivitas permukiman yang mendegradasi obyek budaya.

Rekomendasi kami saat itu adalah segera membentuk unit dibawah Gubernur/Wakil Gubernur dengan tujuan utamanya adalah mewujudkan Kawasan Banten Lama sebagai Kawasan World Heritage (WH) yang anggotanya adalah pemilik kewenangan obyek, kawasan, penguasa fisik dan masyarakat. Hal ini penting agar Gran Desain Kawasan dapat terwujud dan menjadi model bagi daerah lainnya, terutama dalam hal pembentukan elemen kawasan strategis sebagaimana hasil temuan Kevin Lynch yakni path, edges, nodes dan landmark.

Pertanyaannya adalah Grand Desain seperti apa yang menjadi fokus pemerintah (Pusat dan Daerah) sehingga menjadi peta jalan (Road Map to World Heritage) untuk membangun kembali wajah Banten-Banten Lama, khususnya Kota Serang.

Kami mencari kasus yang serupa kondisinya dan menemukan bahwa Melaka merupakan salah satu contoh terbaik dalam melakukan rekonstruksi dan revitalisasi kawasan heritage. Pada zaman kesultanan, Melaka merupakan kawasan perkotaan dan sangat ramai dengan aktivitas perdagangan. Sayangnya di zaman tersebut tidak ada struktur dan arsitektural bangunan yang menjadi legacy kesultanan. Justru pengaruh arsitektur dan struktural bangunan gedung dipengaruhi oleh kolonisasi dari Belanda, Inggris dan terutama Portugis. Dalam perjalanan rekonstruksi (rebuilding) dan revitalisasi obyek dan kawasan tidaklah mudah dan biaya yang dibutuhkan tidak sedikit.

Lembaga Historic Malacca Cuncil (MBMB) mengajukan anggaran 8,5 Juta US$ ke Kabinet Kerajaan Malaysia dengan masa restorasi 5 tahun, Kabinet Malaysia menyetujui untuk membangun kembali kawasan historis tersebut. Mulai dari survey, studi banding, penempatan UMKM, peningkatan jalan, akuisisi lahan, proyek komunitas, drainase, toilet publik, taman bermain anak, perbaikan sungai, area sport center dan rekreasi, landskaping, penerangan jalan, jalan baru, ruang terbuka publik baru, peningkatan kualitas jembatan dan taman publik, direstorasi dan dibangun untuk membentuk kembali identitas Melaka.

Dampaknya, hasil perhitungan MTPB (Malaysian Tourism Promotion Board) 40% wisatawan yang ke Malaysia mengunjungi Melaka. Pada tahun 2012, jumlah wisatawan Melaka mencapai 25 juta orang dan di prediksi mencapai 36 juta wisatawan di tahun 2020.

Apa yang dapat kita lakukan, untuk mengembalikan identitas Banten?. Apa langkah awal yang harus dilakukan oleh Gubernur/Wakil Gubernur agar Gran Desain Banten Lama kembali menjadi marwah dan identitas kejayaan ?.

Kawasan Banten Lama, merupakan elemen pembentuk kawasan yang sangat penting dan dapat menjadi Landmark terbaik di Barat Pulau Jawa. Kejayaan Kerajaan Banten ada di dalamnya. Peninggalan Kerajaan seperti Istana Surosoan, Masjid Agung Banten, Situs Istana Kaibon, Benteng Spellwijk, Danau Tasikardi, Meriam Ki Amuk, Pelabuhan Karangantu, dan Vihara Avalokitesvara masih ada dan menunggu sentuhan untuk di restorasi dan menjadi bagian dari elemen penting Kota Serang, khususnya Landmark Banten. Walaupun wisatawan yang ada saat ini di dominansi oleh peziarah untuk melihat dan berdoa di Masjid Agung dan Vihara, potensi obyek lainnya belum dihidupkan kembali.

Hubungan yang erat antara Kerajaan Banten dengan China, Belanda dan Turki terlihat dari berbagai situs yang ada, bahkan terkait dengan situs-situs yang telah dilestarikan di Museum Fatahillah Jakarta. Kesultanan yang ada juga erat dengan Kesultanan Demak.

Akhirnya, diskusi kami di The Housing and Urban Development (HUD) Institute dan Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Banten menyimpulkan, ada tiga (3) langkah utama yang dapat dilakukan: Pertama, pemerintah harus membentuk tim kajian kelembagaan lintas kewenangan agar Banten Lama menjadi Identitas Nasional di Wilayah Barat Jawa (Banten) dan membentuk Unit Kerja Khusus Restorasi Kawasan Banten Lama. Kedua, membuat Gran Desain Nasional Restorasi dan Rekonstruksi Kawasan Banten Lama, apabila diperlukan di supervisi oleh Unesco-WH. Ketiga, menjadikan para ahli dan perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Indonesia, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Pelita Harapan, The Housing and Urban Development (HUD) Institute, Asosiasi Ahli Arkeologi, Asosiasi Ahli Arsitek dan Asosiasi Perencana Indonesia sebagai mitra pikir (thinker-expert).

Kami tidak ingin menyanding-samakan Banten Lama dengan Borobudur dan Prambanan, tapi kami menyakini bahwa upaya untuk membangun kembali identitas kota-Banten Lama merupakan bagian dari rasa percaya diri warga kota untuk membentuk kenangan dan cinta kepada tanah kelahirannya. Semoga.

Tiar Pandapotan Purba merupakan seorang pengamat perkotaan yang Sehari-hari menjadi staf ahli di Subdit Perumahan dan Kawasan Permukiman, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kemendagri; Anggota Ahli di Housing and Urban Development (HUD) Institute dan Anggota IAP Banten dan DKI Jakarta. Tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan.                  

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.