Kasus Infeksi Corona Ditemukan Di Xinjiang, Rumah Bagi Muslim Uighur

Kasus infeksi corona ditemukan di xinjiang, rumah bagi muslim uighur, salahsatu minoritas muslim terbesar di Cina.

infeksi corona

BantenTribun.id- Xinjiang, rumah bagi kaum muslim Uighur kini mulai terdampak infeksi corona. Padahal sejak kasus corona ditemukan di Wuhan, daerah ini dianggap steril dari infeksi virus tersebut.

Dilaporkan laman muslimnews, dari 14 kasus baru di Cina, 9 diantaranya berasal dari barat laut Xinjiang, sementara 5 sisanya berasal dari luar.

Selanjutnya laporan lain juga melaporkan adanya infeksi corona dari orang tanpa gejala (OTG) sebanyak 14 kasus di daerah tersebut.

Saat ini pihak berwenang setempat mulai melakukan pengujian di seluruh kota untuk menentukan tingkat infeksi dari penduduk xinjiang yang diprediksi sebanyak 3.5 juta jiwa.

Terkait infeksi corona di Xinjiang, otoritas juga menyatakan saat ini mulai melakukan pelacakan, “pelacakan di daerah ini berbeda dengan apa yang telah di lakukan di Wuhan, kita pelacakan dan pengujian dimaksudkan untk mencari penularan pada komunitas mana penularan itu dimulai” ungkap Zhang Yexin, seorang ahli medis.

Infeksi Corona di Cina khususnya di Wuhan dianggap sebagai asal dari bencana dunia saat ini. Negara itu melaporkan ada 83.707 kasus terkonfirmasi dengan 4.634 meninggal dunia.

Sementara menurut Jhon Hopkins saat ini ada lebih dari 14.77 juta kasus Covid di dunia, dengan tingkat pemulihan mencapai lebih dari setengah kasus positif.

Negara-negara seperti Brasil, India dan Rusia dan banyak negara lain di dunia benar-benar terpukul dengan virus tersebut.

Infeksi Corona di Wilayah Minoritas Muslim Uighur

Xinjiang merupkan daerah sekaligus rumah bagi komunitas muslim cina, atau Muslim Uighur. Saat ini dinegara tersebut ada dua komunitas muslim dalam jumlah besar, yakni Uighur dan Hui.

Uighur merupakan muslim yang lebih ke arah sufi sementara Hui bermadzhab Hanafi.

Dilansir dari BBC, ada perlakuan berbeda dari Otoritas Cina terhadap muslim Uighur di Xinjiang. Laman itu menulis, jika Human Rights Watch melaporkan suku Uighur dipantau secara ketat, harus memberikan DNA dan sampel biometrik ke pemerintah.

Beberapa kasus penangkapan pun sering dilakukan bahkan dilaporkan ada leih dari satu juta orang ditahan.

Kelompok-Kelompok HAM juga melaporkan jika bahasa mandarin dipaksakan untuk muslim Uighur, sebagian lagi bahkan melaporkan bila mereka dipaksa untuk meninggalkan keyakinan ideologi dan agama mereka.

Laporan tersebut disangkal oleh Pemerintah Cina, tidak ada diskriminasi untuk muslim uighur, mereka bukan ditahan, tetapi memberikan pendidikan, dan pelatihan kejuruan untuk muslim xinjiang.

Hal tersebut diperlukan untuk menangkal kekuatan jahat yang dianggap akan merongrong kedaulatan, yakni terorisme, ekstremisime dan separatisme.

Kemudian, terhadap kasus infeksi corona, nanti kita akan melihat seperti apa perlakuan penanganan virus itu terhadap muslim uighur di xinjiang? (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.