Juan Sebastian Veron: Moncer Di Italia, Melempem Di Inggris

Juan Sebastian Veron adala pemain hebat, di Italia ia sukses menuai banyak prestasi. Namun saat hijra ke Inggris, ia gagal bersinar, dan itu menjadi penyesalan terbesarnya.

Juan Sebastian Veron
Juan Sebastian Veron. Foto Common Wikipedia

Juan Sebastian Veron adala pemain hebat, di Italia ia sukses menuai banyak prestasi. Namun saat hijra ke Inggris, ia gagal bersinar, dan itu menjadi penyesalan terbesarnya.

BantenTribun.id- Setiap pesepakbola profesional kelas dunia, punya ceritanya sendiri. Tak terkecuali pria plontos dari Argentina, Juan Sebastian Veron.

Pria kelahiran La Plata Argentina, terkenal dengan skill individu dan tendangan bebasnya yang akurat. Kemampuannya mengatur ritme permainan, membuat Veron kerap didapuk sebagai pengatur permainan tim.

Namun satu yang menjadi perhatian, kenapa pemain bertinggi 1,82 meter itu tampil apik di Italia, tapi melempem di Inggris? Mari kita simak ceritanya.

Meniti Karir Di Serie A Italia

Juan Sebastian Veron terlahir dengan darah sepakbola. Ia adalah putera dari seorang pesepakbola Argentina. Juan Ramon Veron.

Memulai karir di Estudientes, Veron mulai jadi perhatian dunia sejak hijrah ke Italia dan bergabung Sampdoria. Ia dikontrak Il Samp dari Boca Juniors di musim 1996/97.

Musim pertamanya di Sampdoria berjalan mulus, ia menjadi andalan lini tengah di klub yang pernah dibela Kurnia Sandi dan Kurniawan Dwi Yulianto itu.

Sven Goran Erikson, sang pelatih kala itu juga percaya dengan peran veron, suplay bola magisnya membuat Roberto Mancini, atau Vicenzo Montella mudah menyarangkan gol.

Meski tak masuk 4 besar, Sampdoria pun sukses merebut posisi 6 klasemen di bawah Udinese, dan berhak melaju ke Piala UEFA.

Kemudian di musim keduanya, Veron dan kolega tak mampu berbuat banyak di Serie A maupun Piala UEFA.  DI musim 1997/98 itu, Sampdoria hanya mampu bertengger di posisi 9 klasemen dan lolos ke Piala Intertoto.

Parma

Musim 1998/1999 menjadi petualangan berikutnya di Italia. Juan Sebastian Veron pindah ke AC Parma.

Musim itu, Parma tengah diisi banyak pemain hebat di segala lini. Dilatih Alberto Malesani, Parma punya kiper sekelas Gianluigi  Buffon. Bek seperti Luigi Apolloni, Fabio Cannavaro hingga Lilian Thuram menjadi jaminan tembok kokoh yang sulit ditembus lawan.

Sementara di lini tengah, Veron berdampingan dengan pemain tim nasional Italia, Stefano Fiore.

Terakhir lini depan, Gialoblu juga dihuni pemain berkelas, seperti Faustino Asprilla dari Kolombia, Abel Balbo dan Hernan Crespo dari Argentina, dan striker lokal kawakan, Enrico Chiesa.

Meski hanya satu musim di Parma. Veron sukses merebut gelar UEFA Cup dan Piala Italia. Prestasi yang membuatnya dikontrak oleh Lazio.

Puncak Prestasi

Lazio adalah puncak prestasi bagi Veron. Bersama Biru Langit, ia berhasil meraih banyak prestasi. Gelar Serie A, Piala Italia, hingga piala super menjadi milik klub yang ia bela.

Lazio periode 1999-2001 memang dihuni banyak pemain hebat. Sebut saja Alesandro Nesta, Fendando Couto, Pavel Nedved hingga Fabrizio Ravanelli. Tapi tetap saja, veron menjadi bagian penting armada yang kala itu dilatih Sven Goran Eriksson.

Dua musim di Lazio, veron meneruskan petualangannya di tanah Britania.

Juan Sebastian Veron, Melempem Di Inggris.

Liga Inggris adalah pilihan buruk bagi Veron. Transfer mahal ke Manchester United menjadi bumerang baginya. Tampil lebih baik di musim pertama. Veron tak punya banyak kesempatan bermain di musim berikutnya.

Punggawa Manchester United, Paul Scholes pernah mengungkap, Alasan Veron main buruk di United, karena tak cocok dengan gaya main pasukan Old Trafford.

“Pola permainan United saat itu sangat sederahana, kick and run. Formasi 4-4-2 atau 4-4-1-1 tak cocok dengannya.” Ungkap Scholes.

Pola United saat itu memang lebih cocok dengan para gelandang petarung, jangkar. Sementara serangan lebih mengandalkan sisi sayap.

Pasukan Alex Ferguson saat itu mengandalkan kecepatan Ryan Giggs dan umpan-umpan matang Beckham.

Melempem bersama setan merah, Veron kemudian bertualang ke klub London, Chelsea. Namun bersama The Blues ia pun gagal berprestasi. Ia pun kembali ke Italia.

Bersama Intermilan di Italia, veron sukses mengantarkan tim itu ke puncak Serie A, tapi setela itu ia kembali ke Chelsea. Statusnya di Inter, hanya pinjaman.

Setelah di Chelsea, Veron kembali ke kampungnya, dan bergabung dengan Estudientes, untuk kemudian pensiun di tahun 2017, juga di klub Argentina tersebut. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.