Jalan Sunyi Mengumpulkan Bekal Akhirat

 

Jalan Sunyi Mengumpulkan Bekal Akhirat (foto ilustrasi Nur BantenTribun)

Meninggalkan Comfort Zone atau zona nyaman di posisi yang sudah ada di genggaman kita adalah perkara yang tidak mudah bagi sebagian orang. Kecuali orang tersebut sudah selesai dengan dirinya. Artinya ia sudah memiliki rencana dan persiapannya sudah matang. Persiapan itu berupa permohonan pentunjuk kepada Allah agar diberikan pilihan terbaik atau minta dikuatkan dengan pilihan tersebut. Selanjutnya persiapan kedua, yaitu sumber kehidupan berikutnya. Semua itu bak  jalan sunyi mengumpulkan bekal akhirat.

BantenTribun.id- Pasca Meninggalkan Comport Zone atau zona nyaman , maka dipastikan butuh sumber kehidupan selanjutnya,  apakah merintis bisnis baru, menjadi konsultan sebuah perusahaan, atau mencoba profesi baru yang berbeda dari profesi sebelumnya.

Hal ini pernah dilakukan seseorang dari Sumatera Barat dengan merintis bisnis fashion dan meninggalkan pekerjaannya di Dinas Pajak. Dan ternyata pilihannya ini berhasil.

Ini pula sepertinya yang dipilih oleh Surya Darmawan (47), seorang ASN eselon-3 yang menjabat Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Pandeglang. Pilihannya sudah bulat untuk meninggalkan posisinya tersebut.

Banyak orang yang mengharapkan dan memimpikan jabatan, tetapi ia lebih memilih untuk mengejar cita-citanya membangun sebuah pesantren besar. Demi bekal akhirat, dirinya dan keluarganya. Sebuah cita-cita yang mulia dan bisa menjadi inspirasi banyak orang,

Hasil kunjungan dan bersilaturahim dengan sekolah dan pesantren di pelosok wilayah Karawang, Bogor dan Bekasi, terlihat jika para perintis lembaga-lembaga pendidikan Islam,  ditemukan suatu kegelisahan di wajah mereka, tentang nasib generasi bangsa ini.

Itulah yang menjadikan mereka memilih dunia pendidikan sebagai lahan untuk tempat mereka berjuang. Setidaknya menurut pengakuan para pengelola dan pendiri pesantren tersebut, generasi kita sedikit banyak paham tentang agama untuk bekal di kehidupan mereka nanti.

Hal ini disampaikan Yayan Suryana, pengasuh Rumah Qur’an Thursina Karawang, saat diminta tanggapan BantenTribun,  Senin sore, 5 April 2021, terkait mundurnya Surya Darmawan dari PNS demi mewujudkan mimpi mendirikan pondok pesantren.

Namun, menurut Yayan,  tidak mudah mendirikan sebuah lembaga pendidikan, banyak godaan yang menjadikan cita-cita tersebut sulit terwujud. Bisa karena faktor dari diri sendiri yang tidak memiliki bekal ilmu dan tidak ada penguasaan lapangan. Atau mungkin juga faktor kondisi ekonomi yang memberatkan terwujudnya mimpi tersebut.

Meskipun demikian, Yayan sangat mendukung niat besar yang diambil mantan Kepala BPBD Pandeglang tersebut.

“Jika sudah ada niat dan tekad, Allah pasti memberikan jalan. Bahkan bukan hanya satu jalan, tapi banyak jalan yang Allah buka. Terlebih masyarakat kita cukup antusias untuk membantu pembangunan sebuah lembaga pendidikan semisal pesantren dan madrasah. Banyak orang-orang dermawan selalu siap untuk menyumbangkan hartanya. Selagi niatnya untuk menolong agama Allah, pasti Allah berikan pertolongan. Maka niat ikhlas ini yang harus tetap terjaga”, jelas Yayan.

Mendirikan sebuah lembaga seperti pesantren, masih kata Yayan,  tentu perbuatan yang mulia, karena lembaga ini akan menyerap orang untuk bekerja, sekaligus menampung orang dengan profesinya masing-masing. Lembaga pendidikan memberikan lapangan kerja, dan ini meringankan tugas negara.

Di dalam sebuah lembaga juga terjadi perputaran ekonomi. Apalagi jika lembaga ini besar perputaran uang di dalamnya juga sangat besar. Selanjutnya pesantren atau sekolah bisa mendirikan berbagai usaha dan kegiatan ekonominya, bisa berbentuk koperasi atau bahkan Perseroan Terbatas (PT).

Yayan juga mengatakan, jika ada seseorang sudah berniat namun belum bisa mewujudkan hal tersebut, atau belum bisa terjun langsung bergerak di dunia pendidikan Islam,  maka ada cara yang begitu terbuka agar ladang pahala ini terus mengalir, misalnya dengan berwakaf harta yang dimiliki kepada sebuah lembaga pendidikan.

“Dahulu wakaf ini menjadi instrument kebangkitan Islam, khususnya di era dinasti Utsmaniyyah. Nabi pernah mengatakan bahwa jika seseorang meninggal dunia terputuslah semua amal shalihnya. Kecuali dari tiga hal; ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang terus-menerus mendoakannya, serta sedekah yang terus mengalir pahalanya,” ujarnya.

Sebagian ahlul ilmi menafsirkan ‘sedekah yang terus mengalir pahalanya’ adalah harta yang diwakafkan. Karena harta wakaf sesuai etimologinya ‘al-habsu’ yang berarti tertahan. Itu artinya harta yang diwakafkan tidak boleh hilang atau dihabiskan. Ia harus tetap ada sampai kapan pun. Nadzir wakaf atau penerima hanya berhak mengambil manfaatnya saja.

Seperti diketahui, Rumah Qur’an Thursina Karawang, yang dirikan Yayan Suryana, alumni Al-Azhar Kairo Mesir ini, konsen menyelenggarakan pendidikan hafal Al-Qur’an bagi anak usia dini.

Meski sudah  menginjak tahun ketiganya dengan jumlah murid yang aktif sekitar 170 santri, nyatanya Lembaga Pendidikan RQ Thursina, hingga kini ternyata belum memiliki tempat sendiri.

“Sama halnya pak Surya Darmawan, kami yang sudah jalan pun harus tetap meneguhkan niat dan berusaha demi bisa mewujudkan mimpi punya lahan dan bangunan sendiri, untuk belajar  bagi santri,” tutupnya.*(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.