Jaddid Hayātak ! “Perbaharui Hidupmu”

 

Oleh : Yayan Suryana

 (Alumnus Al-Azhar Kairo dan Ibn Khaldun Bogor, Kontributor BantenTribun )

Saat ini karya tulis di dunia Islam terus berkembang, berbagai buku, penelitian dan jurnal terus diterbitkan setiap harinya.

Di antara karya tulis yang terbit itu, lahirlah buku-buku motivasi dan pengembangan diri. Baik yang lahir dari tangan dingin ulama Islam atau pun hasil terjemahan dari karya-karya penulis Barat.

Hal ini tentu menjadi fenomena positif bagi khazanah peradaban Islam dalam mempersiapkan kebangkitannya lagi.

Sebelum era buku ‘La Tahzan’ karya DR. ‘Aidh al-Qarni yang fenomenal di negara-negara Arab bahkan dunia, buku ‘Jaddid Hayātak’ termasuk buku yang best seller dan banyak dicari orang. Dari tangan kreatif ulama dan penulis Islam, syeikh Muhammad al-Ghazali–rahimahullah, lahirlah sebuah karya tulis yang bernafaskan motivasi religius. Karena bukan hanya didasarkan pada teori-teori Barat yang cenderung materialistik.

Memang benar al-Ghazali dalam menulis karyanya ini terinspirasi Dale Carnegie dari bukunya “How to stop worrying and start living” yang ditulis tahun 1939.

Namun al-Ghazali lebih mengusung teori-teori pengembangan diri dan ‘problem solving’ kehidupan dengan landasan al-Qur’an dan pesan-pesan Rasulullah Saw. Al-Ghazali tidak membagi karyanya ini ke dalam bab-bab, akan tetapi ia cantumkan judul-judul secara tematik sehingga buku ini bisa kita baca sesuai judul yang dikehendaki.

Jaddid Hayatak!

Perbarui hidupmu! Inilah jargon utama sekaligus pesan yang diangkat oleh penulis bagi pembaca. Menurut penulis, dalam membangun kehidupan Anda janganlah bergantung kepada ketentraman yang semu.

Membiarkannya berada dalam kondisi seperti ini tidak akan pernah memberi Anda kebaikan. Sementara itu perbaharuan terhadap kehidupan kita harus tumbuh dari dalam jiwa.

Layaknya akan mengatur interior rumah kita dengan mengosongkannya, kemudian meletakkan kembali satu persatu perabotan rumah ke tempatnya semula dengan benar.

Begitulah cara kita dalam menata hidup dari waktu ke waktu, sehingga dapat melihat sesuatu yang meragukan untuk kita hilangkan, dan apa yang kita temui sebagai dosa serta kesalahan untuk segera dibersihkan. Seperti tukang sapu yang menyapu berbagai kotoran.

Memperbaharui hidup bukan berarti banyak melakukan amal shaleh atau niat-niat yang baik di tengah menumpuknya kebiasaan dan akhlak yang buruk. Karena bercampurnya antara kebaikan dan keburukan tidak akan membawa seseorang ke masa depan yang baik serta jalan yang terpuji.

Pembaharuan hidup yang dimaksud al-Ghazali adalah perbaikan ulang yang seharusnya dilakukan seseorang untuk jiwanya, mengupdate kembali misi dan visi hidupnya, berusaha membangun kembali hubungan dengan Allah yang lebih baik dan amal ibadah yang lebih sempurna, serta dimulutnya terucap janji berupa doa yang diajarkan Rasulullah Saw:

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada ilah selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepada-Mu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmat-Mu yang tercurah kepadaku; dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau”.

Hiduplah Pada Hari Ini

Menjalani hidup pada hari ini sesuai perintah Rasulullah Saw:

“Barangsiapa yang pada waktu paginya merasakan ketentraman hati, sehat pada jasmaninya, dia memilki makanan untuk hari itu maka sungguh seakan dunia telah dikumpulkan untuk dirinya” (HR. Tirmidzi)

Kita tidak perlu melihat tujuan sebelumnya yang tampak dengan membawa kepalsuan. Akan tetapi hendaknya kita menyempurnakan apa yang ada di hadapan kita berupa pekerjaan-pekerjaan yang jelas dan terukur.

Hiduplah di hari ini adalah nasehat penulis dan sejarawan Scotlandia, Thomas Carlyle (w. 1881 M). Menurutnya, hidup pada hari ini bukan berarti melupakan masa depan, atau lalai dalam mempersiapkannya. Karena sesungguhnya perhatian seseorang terhadap hari esok dan memikirkannya merupakan sikap bijaksana dan logis.

Di sana terdapat perbedaan antara memperhatikan dan menangisi masa depan. Antara mempersiapkan dan tenggelam karenanya. Antara waspada dalam menghabiskan waktu hari ini dan rasa takut serta bingung karena hari esok telah berlari mendahuluinya.

Al-Ghazali memberikan saran kuncinya adalah sabar dan konsisten, meskipun jalan hidup yang dilalui sangat sulit. Sebagaimana sabda Nabi Saw: “Sesungguhnya beratnya sabar hanya pada benturan pertama!”

Rasa khawatir akan masa depan merupakan sifat manusiawi yang akan menghampiri setiap orang. Akan tetapi rasa khawatir yang berlebihan akan menjadi racun dan merusak kehidupan.

Tidak sedikit orang yang berpikir pendek dan mengakhiri hidupnya. Banyak hadist-hadist Nabi Saw yang dapat dijadikan penghilang rasa khawatir ini. Di antaranya hadist:

“Barang siapa yang akherat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup di dalam hatinya serta mempersatukannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan patuh dan hina.

Tetapi siapa yang dunia menjadi harapannya. Allah akan menjadikan kefakiran  berada dii depan matanya serta mencerai-beraikannya, dan dunia tidak akan datang  kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan baginya.” (H.R. Tirmidzi)

Di hadist lain Rasulullah Saw berpesan:

“Wahai manusia, sesungguhnya kaya yang sebenarnya bukanlah banyak/tamak harta, tetapi kaya sejati adalah kaya jiwa. Sesungguhnya Allah SWT akan memberikan rizki hambanya sesuai dengan yang telah ditetapkan baginya. Karena itu carilah rizki dengan jalan yang baik. Ambilah yang halal dan tinggalkanlah yang haram.” (HR. Abu Ya’la)

Bagaimana Menghilangkan Sebab-Sebab Rasa Cemas?

Di bukunya al-Ghazali mengutip sebuah penelitian bahwa Dr. Harold C. Habein dari rumah sakit Mayo berdasarkan penyeledikannya terhadap 176 usahawan muda yang berusia 44 tahunan. Ternyata sepertiga dari pengusaha muda tersebut menderita tiga penyakit yang berbahaya yang diakibatkan oleh ketegangan dan kecemasan, yaitu penyakit jantung, maag, dan tekanan darah tinggi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa kecemasan itu merupakan pembunuh nomor 1 di Amerika Serikat. Dalam menghadapi rasa khawatir dan cemas al-Ghazali mengutip firman Allah Swt:

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36).

Dalam kondisi seperti ini sudah pasti seseorang merindukan kebenaran. Oleh karena itu ia harus berjuang untuk membebaskan diri darinya, bertekad untuk meraih kebenaran tersebut dan segera kembali ketika ia merasa telah menjauhi jalan kebenaran.

Itulah mengapa doa kita setiap shalat adalah: “Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Lalu apa solusinya? Solusinya yaitu kita harus bisa memisahkan antara perasaan dan pikiran. Kemudian ikhlas kepada kebenaran yang mutlak dengan cara menetralkan pikiran kita.

Langkah selanjutnya dalam mengumpulkan kebenaran yang murni adalah dengan merasakan ketenangan yang sempurna saat mencarinya, dan mampu menguasai diri pada setiap kondisi yang membingungkan atau menakutkan.

Buahnya ilmu adalah amal 

Seorang Tabi’in berkata: “Kami menjaga hapalan hadist-hadist Rasulullah Saw dengan mengamalkannya!” Sesungguhnya bekerja akan menghidupkan hati dengan pengetahuan yang sadar dan kokoh.

Sedangkan ilmu yang melahirkan sebuah amal saleh adalah kebiasaan yang akan menerangi seseorang, dengan itu ia akan mengetahui dimana kakinya berpijak dalam menapaki jalan kehidupan yang samar.

Al-Ghazali mengutip perkataan Dale Carnegie, bahwa “belajar” adalah pekerjaan yang aktif bukan pasif. Kita sebenarnya sedang belajar saat mengerjakan sesuatu. Jika kita ingin mengambil manfaat dari setiap nasehat bijak dalam sebuah buku, maka cobalah dan laksanakan di setiap kesempatan yang kamu miliki. Karena jika kita tidak pernah mencoba apa yang didapatkan (dalam buku), pasti kita akan cepat melupakannya.

Bahaya waktu kosong

Kebiasaan buruk yang akan membawa kita kepada rasa cemas berlebihan adalah waktu yang tidak terisi kegiatan positif. Rasulullah Saw jauh-jauh hari sudah mengingatkan akan hal ini: “Ada dua macam nikmat yang banyak dilupakan manusia, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang (kesempatan)” (HR. Bukhari). Sementara imam Syafi’i berpesan, “Jika jiwamu tidak disibukan dengan ketaatan (kepada Allah), maka kamu akan disibukan oleh maksiat!”

Begitulah seharusnya yang dilakukan seorang Muslim, selalu sibuk mengisi waktu dengan hal-hal yang positif. Bila kita aktif bergerak dengan mobilitas tinggi di jalan-jalan kebaikan, berjihad, atau disiplin serta produktif dalam berkarya, niscaya pikiran-pikiran negatif tidak akan pernah datang.

Hidup Anda hasil pikiran Anda     

Sebuah riwayat menyebutkan Rasulullah Saw pernah menjenguk seorang Arab yang tengah terbaring sakit. Ia terus merintih karena demamnya yang tinggi. Kemudian Rasulullah berkata kepada lelaki itu untuk menghibur sekaligus memotivasinya: “Tidak apa-apa, semoga atas izin Allah penyakitmu hilang!” Lelaki ini segera menjawab: “Tetapi ini demam parah yang menimpa lelaki tua dan sebentar lagi masuk kuburan!” Rasulullah kemudian menjawab: “Jika pikiranmu begitu maka akan terjadi” (HR. Bukhari)

Dari kisah ini dapat diambil kesimpulan bahwa apa yang akan terjadi dalam hidup kita dimulai dari pikiran. Jika pikiran positif yang kita ke depankan, maka akan memberi kebaikan kepada diri kita.

Akan tetapi sebaliknya bila pikiran negatif yang melulu kita ikuti, nasib kita pun akan membawa kepada keburukan. Menurut penulis, mengutip pendapat Dale Carnegie: “Pikiranlah yang membentuk diri kita, lintasan pikiran dalam otak yang pertama kali akan membentuk diri kita”.

Buatlah minuman yang manis dari buah Lemon!

Jangan menyerah dengan kesulitan yang sedang kita hadapi. Siapa yang tahu? Seperti pepatah Arab: “Kadang sesuatu yang dianggap bahaya tetapi justru bermanfaat, dan betapa banyak kesulitan mendera di akhirnya adalah kenikmatan yang besar”.

Boleh jadi susahnya hidup yang sedang kita alami merupakan pintu awal menuju kebaikan dan kesejahteraan. Di akhir buku sang penulis Islam Mesir ini memberi pesan agar senantiasa mengevaluasi (muhasabah) perjalanan hidup kita. Dengan melihat masa lalu bahkan seluruh perjalanan hidup yang sudah kita lalui, kemudian menatanya kembali dan berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang baru.

Namun bukan sekedar evaluasi tanpa makna, hendaknya kita melakukannya secara mendalam dengan menulis, membandingkan, menghitung dan menyadarinya. Sastawan Arab Ibnu al-Muqaffa’ (w. 142 H) mengatakan, “hendaknya setiap orang mencatat apa yang sudah diperbuatnya, amal kebaikan ia simpan di saku kanannya dan keburukan di saku kirinya”. Wallahu’alam bish shawaab.**

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.