Indonesia dan Pemimpin Filsuf

Dede-Kurniawan (dok.BantenTribun)
Dede-Kurniawan (dok.BantenTribun)

*Oleh: Dede Kurniawan

Abad V SM di jaman Yunani Kuno, tepatnya di Athena mula-mula ada sekumpulan masyarakat berkumpul. Perkumpulan itulah yang disebut dengan polis dan sebagai cikal bakal lahirnya sebuah negara, hukum dan demokrasi. Di jaman Yunani Kuno terkenal banyaknya para pemikir yang sekarang bisa disebut dengan Filsuf (orang yang cinta kebijaksanaan).

Diantara para pemikir (Filsuf – orang yang cinta kebijaksanaan) pada jaman Yunani Kuno itu salah satunya adalah Socrates, yang berfikir bahwa didalam sebuah perkumpulan (organisasi-negara) itu harus ada aturan (hukum).

Socrates mati karena dipaksa minum racun (dihukum), karena dengan terobosan pemikirannya pada waktu itu. Socrates mempunyai murid yang bernama Plato, dan melalui karyanya menulis buku yang berjudul Nomoi (the law’s) yaitu negara yang baik harus didasarkan atas hukum. Plato dalam karyanya tersebut menuliskan gagasan-gagasan pemikiran gurunya (Socrates).

Pada waktu Plato diangkat menjadi penasihat raja, ternyata negara yang baik itu tidak hanya didasarkan pada hukum akan tetapi harus dipimpin oleh seorang Filsuf (orang yang cinta kebijaksanaan) yang dituangkan dalam karya tulisannya yaitu berjudul “The Republic”.

Pemikiran tentang negara di Jaman Yunani Kuno terus berkembang. Gagasan Plato lebih dipertajam lagi oleh muridnya yang bernama Aristoteles, bahwa Negara yang baik itu adalah yang diperintah oleh konstitusi dan berkedaulatan hukum.

Jika kita mengurai peristiwa historis diatas, bagaimana asal muasal lahirnya sebuah negara, hukum, demokrasi, maka jelas asal muasal negara berawal dari Jaman Yunani Kuno tersebut dan dalam konteks akar pemikiran Socrates, Plato dan Aristoteles.

Indonesia sebagai Negara Republik, sangat membutuhkan pemimpin Filsuf (orang yang cinta kebijaksanaan) bukan hanya seorang pemimpin yang hanya bilang kerja, kerja, kerja.

Sejarah mencatat bahwa seorang pemimpin Filsuf (orang yang cinta kebijaksanaan) di Indonesia ini sebenarnya sudah pernah ada yaitu pada kepemimpinan Gus Dur, bagaimana beliau melakukan terobosan-terobosan pemikiran tentang peradaban kemanusiaan.

Gus Dur seperti kepala lokomotif Jepang yang sangat cepat sekali, dan gerbongnya yang mengikuti dibelakang terseok-seok (mengutip pendapat Kiayi Misterius dari Banten)

Indonesia sebagai Negara Republik membutuhkan seorang pemimpin yang Filsuf (orang yang cinta kebijaksanaan), yang didukung oleh adanya hukum, demokrasi dan kekokohan nilai spiritual yaitu Agama. Insya Allah Indonesia kedepan semakin lebih baik.*(Dosen Fakultas Hukum UNTIRTA).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.