Hari Keluarga Nasional, Cara Baru di Masa Kenormalan Baru

keluarga

Corona telah merubah warna keluarga Indonesia, maka Hari Keluarga Nasional yang ke-27, tanggal 29 Juni 2020 menjadi momentum setiap keluarga untuk mengaplikasikan cara baru dan semangat baru di masa kenormalan baru.

BantenTribun.id- Tak pernah terbayangkan sebelumnya, dunia berubah begitu cepat, dipaksa oleh makhluk kecil kasat mata bernama corona.

Sentuhan tangan ke arah mata, hidung dan mulut dilarang, jarak di jaga 1,5 hingga 2 meter, masker, hand sanitizer, disinfektan hingga tisu basah menjadi barang wajib di rumah.

Sang ayah yang pulang kantor langsung ke meja makan kini tak lagi bisa, ia harus cuci tangan, taruh pakaian ke keranjang baju kotor, cuci sendiri jika perlu, mandi dan cuci tangan, baru bisa makan.

Lebaran kemarin entah berapa ratus juta orang bercengkerama dengan keluarga, ibu, bibi, paman dan lainnya dengan Smartphone.

Mudik dilarang, anak anak tak mampu lagi menyentuh tangan ibu yang bau bawang, atau tangan ayah yang bau lumpur sawah.

Padahal berapa banyak anak rantau yang menabung selama  setahun, menyiapkan sarung hingga kotak cookies, demi menunjukan eksistensi hasil kerja di kota.

Corona juga telah membuat banyak orang tua sadar, betapa sulit mendidik anak, terbayang para guru di sekolah yang lelah teriak, kesal dengan anak yang sulit paham, sabar dengan anak bandel, belum lagi mencium aroma bau badan anak murid yang berkeringan saat main bola di lapangan sekolah.

Ibu di rumah harus pusing dengan bertambahnya pekerjaan, sudahlah ‘setrikaan numpuk’, ikan yang belum dicuci dan wortel yang belum terpotong. Harus ditambah dengan pertanyaan anak soal pelajaran. Sang ibu bergumam “saya belajar ini waktu SMP, kenapa sekarang anak SD sudah belajar ini?”

Dari sekian dampak corona yang memukul keluarga adalah ekonomi, income tetap tapi pengeluaran harus bertambah. selain soal sanitasi, para orang tua khususnya ibu dipusingkan dengan kuota, atau pasang internet baru, belum lagi konsumsi bertambah selama di rumah, mulai dari bikin makanan tiap hari dan jajanan anak yang habis dalam sekejap.

Masihlah lebih baik bagi mereka yang pekerjaannya aman dan tak terdampak corona, lalu bagaimana dengan mereka yang di PHK, dirumahkan atau usahanya harus gulung tikar karena tidak ada pelanggan?

Sementara BLT, Bansos dan apapun namanya sulit menyasar semua orang dengan rata karena keterbatasan anggaran.

Sang ayah juga merasakan hal yang sama bahkan mungkin parah, apalagi jika bukan faktor psikis. Cemas, was-was dan takut tertular lalu menularkan ke istri dan anak-anaknya.

Corona telah merubah warna keluarga Indonesia, maka Hari Keluarga Nasional yang ke-27, tanggal 29 Juni 2020 menjadi momentum setiap keluarga untuk mengaplikasikan cara baru dan semangat baru di masa kenormalan baru.

Semua berubah, Kecuali Perubahan Itu Sendiri

Semua berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Setiap orang dan keluarga memang harus berubah, ke arah yang lebik tentunya.

Kini setiap keluarga mulai terbiasa menjalani kehidupan baru, normal baru, sadar akan kesehatan dan kebersihan. Sadar akan pentingnya kembali ke alam, “do it your self”.

Masa corona, alat-alat masak, hingga bibit tanaman sayur dan tanaman obat keluarga laku dipasar online. Video-video kreasi makanan dan minuman silih berganti di sosial media. Youtube, Facebook, Instagram jadi wadah kreasi.

Anak-anak dan orang tua menjadi lebih erat, anak gadis mulai berani ke dapur, kalau nggak tik-tokan. Interaksi ayah dengan anak lakinya juga mulai terbangun. Perubahan dan hikmah dibalik kesulitan terlihat disini.

Dibalik kesulitan selalu ada dua kemudahan, dimasa corona mungkin lebih.

Banyak ayah yang kesulitan mencari dana tambahan, mulai dibantu oleh istrinya melalui jualan online, atau bahkan jualan skill. Anak-anak berada disisi itu dan terlihat aktifitasnya full 24 jam oleh orang tua.

Mengeluh tak akan menyelesaikan masalah, diam perut harus diisi. Teknologi informasi sadar atau tidak mulai dilirik dan dipelajari, lebih dalam, apalagi jika bukan untuk menambah penghasilan demi dapur yang tetap ngebul

Dipaksa dan Terbiasa

Mungkin memang menjadi tabiat warga +62, segalanya harus dipaksa agar terbiasa. Harus merasakan pahit dulu baru percaya, padahal warning, peringatatan dan nasihat sudah disebar pemerintah dari corong televisi hingga sosial media.

Smartphone tak lepas dari pengamatan Tim Gugus Tugas, berapa kali sehari anda mendapat SMS?

Meski belum optimal, anggaplah itu sebagai upaya terbaik yang diberikan pemerintah untuk rakyatnya.

Sekali lagi berkat corona, semua keluarga mulai sadar tentang pentingnya kesehatan, pentingnya kebersihan dan pentingnya kebersamaan.

Jiwa-jiwa sosial bermunculan, berapa banyak warga yang rela menyisihkan keuangan keluarganya untuk keluarga lain yang membutuhkan.

Masih ingat konser almarhum Didi Kempot? 7 miliar lebih terkumpul. Itu menjadi pertanda betapa jiwa sosial orang Indonesia itu sangat tinggi, sobat ambyar membuktikannya.

Atau sebagian dari anda mungkin pernah membaca soal inisiasi warga Cipondoh Makmur Kota Tangerang, dengan CIMAK Berkahnya mereka mencoba berbagi dengan keluarga lain ditengah badai corona.

Mungkin banyak inisiasi-inisiasi lain dari warga +62, semua diawali karena corona.

Semoga kebiasaan-kebiasaan baru, yang baik tentunya tetap ‘diistiqomahkan’ oleh warga +62, agar keluarga lebih berkah dan negara tetap berdiri juga dengan keberkahan. (red)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.