Habis Kutu Loncat, Terbitlah Bajing Luncat

Bajing loncat@hewan id

Bajing loncat@hewan id

*oleh: Kasihanto Anto

Musim pencalonan anggota legislatif untuk Pemilu 2019 ditandai dengan mewabahnya “bajing luncat”, yaitu politikus yang berpindah partai demi uang dan kuasa.

Dalam dunia kerja, seorang karyawan resign, penisun dini atau pindah kerja dari suatu perusahaan ke perusahaan lain adalah hal biasa. Penyebabnya bermacam-macam seperti tidak nyaman dengan pimpinan atau suasana kerja, ingin mendapatkan gaji yang lebih besar atau karena mendapat tawaran untuk jabatan tertentu.

Ternyata dalam dunia politik juga hampir sama seperti seorang karyawan yang pindah kerja atau perusahaan.

Dan ini terbukti dari daftar calon legislatif yang beberapa hari lalu yang mendaftar di KPU. Banyak anggota partai yang pindah ke partai lainnya. Penyebabnya,juga sudah tidak ada kecocokan dengan partai sebelumnya, bisa karena ada konflik internal.

Bahkan terkadang langsung mendapatkan jabatan  sebagai anggota partai tingkat DPP atau posisi puncak di partai. Malah ada partai yang merasa kadernya dibajak oleh partai lainnya dengan iming-iming uang sebagai modal untuk mencalonkan sebagai wakil rakyat.

Memang mengikat kader partai menjadi kader partai yang loyal dan setia adalah hal yang susah di negeri ini. Mereka cenderung suka berpindah-pindah dan tidak loyal atau setia pada partai. Tidak dicalonkan sebagai calon kepala daerah saja mereka akan keluar dari partai dan pindah ke partai lainnya. Mereka gampang berselingkuh.

Ini berbeda dengan Amerika, hampir tidak pernah ada anggota Partai Demokrat karena kecewa terus berpindah ke Partai Republik, atau sebaliknya.

Gagal menjadi calon presiden, mereka tetap mendukung calon yang unggul dalam partai tersebut. Seperti waktu Hillary Clinton kalah terhadap Barack Obama, Hilarry tetap mendukung Barack Obama. Dan ketika Hillary Clinton maju lagi sebagai calon presiden, gantian Barack Obama mendukung Hillary untuk menjadi calon dari Partai Demokrat.

Kalau di negeri ini, gagal menjadi calon presiden, keluar partai dan bikin partai lagi. Seperti Prabowo Subianto, Surya Paloh, Edi Sudrajat, dan Wiranto. Ini beberapa contoh saja.

Bahkan banyak anggota legislatif yang dirayu atau ditawari untuk pindah partai dengan iming-iming jabatan dalam struktur partai. Dulu mereka vokal dan kerap mengkritik pemerintah, ketika sudah pindah partai dan partai itu salah satu pendukung pemerintah, mereka jadi jinak dan tidak pernah berani lagi mengkritik pemerintah.

Mereka bukan kutu loncat, tetapi bajing luncat; meloncat dari pohon ke pohon yang lainnya, kalau sial malah bisa jatuh.

Selamat kepada para bajing luncat!

Ga masalah, yang penting kalian jangan jadi “bajingan loncat” saja.***

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.