Gairahkan IKM di Masa New Normal, Kemenperin Lakukan Restrukturisasi Mesin dan Peralatan

restrukturisasi mesin dan peralatan
Gati Wibawaningsih, foto nndustry.co.id

Program restrukturiasasi mesin dan peralatan merupakan potongan harga pembelian mesin dan peralatan kepada pelaku IKM yang membeli mesin baru.

BantenTribun.id- Industri Kecil Menengah menjadi satu dari sekian sektor yang terdampak Covid-19. Dimasa new normal ini, Kementerian Perindustrian mencoba membangun kembali gairah IKM agar mampu tumbuh dan berkembang.

Kementerian yang kini dipimpin oleh Agus Gumiwang Kartasasmita itu terus melakukan terobosan untuk IKM, salahsatunya dengan melakukan restrukturisasi mesin dan peralatan.

“Program restrukturisasi mesin dan peralatan menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk menggairahkan kembali bisnis mereka (IKM) sekaligus meningkatkan daya saingnya,” kata Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Jum’at (3/7) dalam siaran persnya.

Gati menjelaskan program restrukturiasasi mesin dan peralatan merupakan potongan harga pembelian mesin dan peralatan kepada pelaku IKM yang membeli mesin baru.

Menurut Gati, besaran potongan yang diberikan untuk pembelian mesin dan peralatan baru itu sebesar 30 persen utuk mesin buatan dalam negeri dan 25 persen untuk mesin impor. Sementara nilai potongan paling kecil Rp. 5 juta dan terbesar Rp. 300 juta per IKM.

Lebih lanjut, Gati juga menyampaikan selama ini program restrukturisasi yang telah digulirkan Kemenperin mampu jadi pendorong sektor IKM untuk melakukan peremajaan mesin sekaligus meningkatkan kapasitas produksinya.

Selain itu, mereka merasa terbantu khususnya dalam segi pembiayaan. “Melalui program ini, diharapkan akan terjadi peningkatan teknologi produksi dan produktivitas pelaku IKM,” tuturnya.

Mengenai prosesnya, pelaku IKM bisa langsung mengajukan proposal restrukturisasi mesin dan/atau peralatan kepada Ditjen IKMA Kemenperin.

“Jadi, IKM beli dahulu mesinnya, bayar sendiri 100 persen. Setelah itu reimbursement. Kami akan cek administrasinya dan juga nanti dikunjungi tim verifikator untuk melihat kebenaran perusahaannya, mesin barunya, dan tidak dipindahtangankan,” paparnya.

Selama periode 2015—2019, Ditjen IKMA Kemenperin telah menyalurkan bantuan restrukturisasi mesin dan/atau peralatan dengan total nilai penggantian sebesar Rp46 miliar kepada 427 pelaku IKM.

Pada tahun 2020, Kemenperin akan memberikan alokasi anggaran sebesar Rp6,5 miliar. Untuk pengajuan permohonan program restrukturisasi mesin dan / atau peralatan tersebut telah dibuka sampai tanggal 11 Oktober 2020.

Adalah IKM Rafles, salah satu penerima fasilitas program restrukturisasi dari Kemenperin dengan nilai uang penggantian maksimum sebesar Rp300 juta. IKM asal Bogor ini memproduksi pie talas Bogor dengan menggunakan bahan tepung talas sebagai produk andalannya.

“Mereka mengajukan proposal untuk mengikuti program fasilitasi restrukturisasi mesin dan peralatan di Ditjen IKMA Kemenperin pada tahun 2019, setelah sebelumnya membeli mesin pie otomatis dari Jepang yang dapat memproduksi sebanyak 2500 pie per jam,” papar Gati.

Fatah Hasyim selaku founder sekaligus owner IKM Rafles Cipta Ardanesia mengatakan, anggaran penggantian tersebut sangat bermanfaat bagi pelaku IKM untuk mengembangkan usahanya dan dapat memperluas area pemasarannya.

“Dengan adanya mesin tersebut, kami berhasil menambah kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan konsumen. Kami berharap, program restrukturisasi ini dapat membantu perkembangan IKM di seluruh Indonesia, karena kami sendiri sudah merasakan dampak positifnya,” jelas Fatah. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.