Festival GenRe 2020, Ketahanan Remaja dan Pentingnya Sosialisasi Kesehatan Reproduksi

genre 2020

Festival GenRe 2020 merupakan upaya penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja melalui pemahaman soal Pendewasaan Usia Perkawinan, berkarir dalam pekerjaan, serta menikah dengan perencanaan yang baik dan sesuai siklus kesehatan reproduksi (kespro).

BantenTribun.id-. Remaja adalah generasi penerus yang harus disiapkan untuk masa depan. Bukan perkara mudah, mengingat saat ini tantangan dan godaannya sangat berat.

Melihat kondisi itu,, sekaligus dalam momen Hari Keluarga Nasional (Harganas) Ke-27, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar Festival Generasi Berencana 2020 (Festival GenRe 2020) dari tanggal 25 Juni – 5 Juli 2020 di Jakarta.

Baca Juga: harganas cara baru di masa normal baru 

Festival GenRe 2020, menggelar beberapa even, seperti; Workshop Online ‘Tentang Kita’ bagi 3000 Pendidik Sebaya, Launching Rebranding BKKBN dan Kartu Anggota GenRe, Covering Theme Song ‘Berencana Itu Keren’, Keluarga Bantu Keluarga, dan Kampanye 2125 keren.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan Festival GenRe 2020 merupakan bagian dari upaya meningkatkan ketahanan remaja.

“BKKBN selalu melakukan terobosan untuk mendekati remaja. Melalui program Generasi Berencana (GenRe), BKKBN ingn ketahanan remaja meningkat.” Terang Hasto via Whatsapp.

Festival GenRe 2020 juga akan memviralkan Kampanye 2125 Keren melalui media sosial BKKBN, dan masing-masing influencer serta micro influencer.

Kampanye ini bertujuan untuk mempromosikan usia ideal menikah bagi remaja, 21 bagi perempuan dan 25 bagi laki-laki.

GenRe 2020 juga merupakan upaya penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja melalui pemahaman soal Pendewasaan Usia Perkawinan, berkarir dalam pekerjaan, serta menikah dengan perencanaan yang baik dan sesuai siklus kesehatan reproduksi (kespro).

Lebih lanjut, Hasto mengatakan sudah saatnya kespro disosialisasikan pada remaja, jangan dianggap tabu. “Kenapa kesehatan reproduksi dianggap tabu? Padahal sangat penting untuk kita semua,” terangnya.

Menurut Hasto, sosialiasi kespro bisa diberikan di sekolah-sekolah, tidak harus dengan menunjukkan alat kelaminnya langsung, bisa juga dengan animasi atau film dokumenter yang singkat dan jelas.

“Banyak remaja yang malu membicarakan kespro dengan orangtua mereka atau sebaliknya, orangtua merasa pembicaraan itu tidak lazim dilakukan. Padahal pendidikan tentang kesehatan reproduksi sangat penting untuk mereka,” tukas Hasto. (M Fadli / Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.