Fakta Sulitnya Rebound Industri Otomotif Dalam Negeri

Industri otomotif akan dihadapkan pada masih rendahnya daya beli masyarakat dan makin ketatnya perusahaan pembiayaan (leasing) memberikan kredit pada masyarakat.

industri otomotif

BantenTribun.id- Pandemi Covid-19 yang kini dalam fase adaptasi terhadap kenormalan baru membuat industri otomotif dalam negeri sulit untuk bangkit.

Saat ini dan mungkin beberapa tahun kedepan, industri otomotif akan dihadapkan pada masih rendahnya daya beli masyarakat dan makin ketatnya perusahaan pembiayaan (leasing) memberikan kredit pada masyarakat.

“Situasi sekarang membuat perusahaan pembiayaan mengetatkan kredit, terutama pada konsumen baru, pembelian mobil baru dipastikan macet” terang Amelia Tjandra, Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor, dalam laporan tertulis Gaikindo.

Lebih lanjut Amelia menilai, bagi masyarakat yang mencoba mengakses kredit via bank juga akan dihadapkan pada fakta yang sama,”saat ini bank tentu akan memilih sektor mana yang resikonya kecil,” terangnya.

Fakta lain yang membuat industri otomotif dalam negeri sulit untuk rebound adalah menurunya daya beli masyarakat.

Amelia menilai masyarakat masih sulit untuk membeli kendaraan baru karena punya prioritas yang lebih penting, belum lagi sebagian masih enggan keluar raumah.

“Kami melihat Gross Domestic Product (GDP) Indonesia diprediksi anjlok di minus 3,4 persen pada kuartal ketiga, maka in akan berdampak pada sulitnya penjualan mobil, daya beli masyarakat belum maksimal” jelasnya.

Senada dengan Amelia, ekonomi Indef Bhima Yudhistira juga mengamini menurunnya daya beli masyarakat di fase new normal saat ini.

Baca Juga : Bisnis Mobil Bekas di Pandeglang Lesu 

“Pemulihan ekonomi masih dihadapkan pada risiko pandemi yang tinggi, pembelian mobil baru membutuhkan waktu karena tekanan daya beli masyarakat masih rendah,” jelas Bhima.

Fakta lain yang juga membuat industri otomotif dalam negeri sulit bangkit adalah anjloknya volume penjualan suku cadang. Beberapa perusahaan memasang target realistis tahun ini.

PT Indospring Tbk misalnya, produsen komponen dan sukucadang kendaraan itu memasang target 29 persen lebih rendah dibanding tahun lalu.

“Proyeksi penjualan turun 29 persen sejalan dengan target penjualan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) yang hanya 600 ribu uit, turun dibanding proyeksi sebelum pandemi sebesar 1,1 juta unit.” Ungkap Dirut Indospring, Ikawati Nurhadi.

Lebih lanjut Nurhadi membeberkan bila fakta bakal menurunya penjualan mobil selain daya beli juga dipengaruhi oleh harga komoditas batu bara, sawit dan karet.

Meski menghadapi fakta sulit, Nurhadi masih optimis bila perusahaan mau inovatif. “kita perlu intensifkan pasar lokal serta menjajaki pengembangan bsinis baru, semua harus dilakukan agar perusahaan bisa bertahan” pungkas Nurhadi (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.