Ekonomi Ambyar Karena Covid-19, OECD: Bisa Lebih Buruk Bila Ada Gelombang Kedua

ekonomi

Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperingatkan dampak ekonomi akan lebih buruk lagi bila gelombang Covid-19 terjadi.

BantenTribun.id- Pandemi Covid-19 berdampak sangat buruk pada ekonomi negara-negara di dunia, tak terkecuali negara maju seperti Amerika, Inggris, Spanyol dan Italia dan engara maju lainnya.

Penguncian (Lockdown), pembatasan perjalanan, ditutupnya aktivitas-aktivitas bisnis dan ekonomi menjadi sekian penyebab ‘ambyarnya’ ekonomi alias merosot tajam.

Penurunan tajam aktivitas bisnis dan ekonomi telah mendorong dihentikannya ‘supply chain, meningkatnya jumlah utang, dan menurunnya tingkat kepercayaan.

Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperingatkan dampak ekonomi akan lebih buruk lagi bila gelombang Covid-19 terjadi.

“Dampak ekonomi sangat mengerikan dimana-mana, pemulihan dakan lambat dan krisis akan berefek jangka panjang” Ungkap laporan OECD yang dirangkum dalam Economic Outlook.

Laurence Boone, Kepala Ekonom OECD mengatakan banyak ketidakpastian yang dihadapi akibat pandemi, “Tapi kami berharap kegiatan ekonomi akan meningkat beberapa bulan kedepan,” ungkap Boone pada Juliana Tatelbaum dari CNBC, Rabu (10/6/2020).

Lebih lanjut Boone mengatakan bila pemulihan ekonomi akan lebih sulit, mengingat beberapa sektor seperti pariwisata dan hiburan tidak berfungsi dengan semestinya.

Melihat fakta dan kondisi yang ada, OECD menyarankan dua strategi untuk membangkitkan ekonomi, baik saat pandemi gelombang kedua hadir atau pun tidak.

Strategi pertama, bila ada gelombang kedua, OECD mengatakan pertumbuhan ekonomi global akan tetap mengalami kontraksi hingga 7,6 persen.

Namun bila tidak ada gelombang kedua, ekonomi dunia masih tetap berkontraski sebesar 6 persen pada tahun 2020, tetapi akan pulih ke tingkat yang hampir sebelum krisi pada akhir tahun 2021.

“Kedua skenario itu tidak masuk akal, karena kegiatan ekonomi tidak dan tidak dapat kembali normal dalam keadaan seperti ini,” kata OECD.

Ia menambahkan bahwa pada akhir tahun 2021, kehilangan pendapatan melebihi dari resesi sebelumnya selama 100 tahun terakhir di luar masa perang, dengan konsekuensi yang mengerikan dan tahan lama bagi orang, perusahaan dan pemerintah. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.