Di Tengah Pandemi Covid-19, Wartawan Ternyata Lebih Depresi Dibanding Tenaga Kesehatan

 

wartawan lebih depresi dibanding tenaga medis disaat pandemi. (foto ilustrasi saat vcon media di Pandeglang-BantenTribun)

Di tengah pandemi Covid-19, profesi wartawan ternyata lebih depresi dibanding tenaga kesehatan. Bukan sekedar stress, tapi diakui mulai depresi akut. Sebuah dilema antara tuntutan profesi yang menuntut kedalaman informasi namun dibatasi ruang gerak, antara menjaga kesehatan dan kewajiban pekerjaan.

Pandeglang, BantenTribun.id–  Ditengah pandemi covid-19, kesehatan mental wartawan sangat terpengaruh. Wartawan ternyata memiliki tingkat depresi lebih tinggi hampir 2 kali lipat  dibanding tenaga kesehatan yang menangani pasien covid itu sendiri.

Kondisi ini  tercermin dari hasil survei persepsi diri wartawan saat pandemi COVID-19 yang dilakukan Center for Economic Development Study (CEDS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran.

Dari hasil survei itu, terungkap 45,92% wartawan  mengalami gejala depresi. Sedangkan tenaga kesehatan memiliki tingkat depresi sebesar 28 %. Selain itu, 57,14%  wartawan juga  mengalami kejenuhan umum.

Hal itu pernah diungkap Universitas Padjajaran Bandung, dalam kegiatan Best Practice Webinar Series yang digelar CEDS FEB Unpad, Prodi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unpad bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis 14 Mei 2020, seperti dilansir laman Pikiran Rakyat.

Meningkatnya kondisi depresi wartawan di tengah pandemi ini diakui Muhaemin,  Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Pandeglang.

Menurutnya, dampak pandemi tidak hanya menimbulkan stres berat namun depresi akut. Narasumber terbatas, ruang juga terbatas, ini memicu kejenuhan yang luar biasa bagi wartawan. Isu yang monoton dari hari ke hari juga membuat wartwan tidak bisa mengembangkan idenya lebih jauh. Begitupun dengan isu negative yang harus diproduksi juga memengaruhi mental.

“Dilematis antara menjaga keselamatan diri dan memenuhi kewajiban pekerjaan. Dampak lain juga terasa, omset terjun bebas karena dunia usaha berhenti beriklan” jelasnya, saat dihubungi BantenTribun, Minggu 17 Mei 2020.

Muhaemin juga menyayangkan rasionalisasi anggaran dari OPD untuk iklan layanan masyarakat yang disetop dengan alasan focus covid 19. Padahal,  media harusnya dijadikan ujung tombak dalam mengedukasi masyarakat.

Wartawan dan media, masih kata Muhaemin, merupakan garda terdepan dalam menerjemahkan informasi, kebijakan, dan peraturan. Informasi yang diolah wartawan, menjadi sumber bagi masyarakat umum dan memengaruhi orang dalam melakukan tindakan.

“Selain itu, mengoptimakan peran pers daerah juga akan berdampak positif, perusahaan pers akan bisa tetap hidup,” paparnya. (kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.