Di Kandang Kambing Warga Jiput Ini Mencoba Bertahan Hidup

Tiap malam, Sana (38) menjadi santapan nyamuk. Udara dingin dan bau kotoran di kandang kambing seolah tak dirasa. Keinginannya untuk punya gubuk layak, masih sekedar mimpi.

Bahkan, untuk makan pun kadang tak ada.  Bantuan sosial dari dana desa juga tak bisa diterima. KTP-el yang tidak dimiliki Sana dianggap menjadi kendala.

di kandang kambing
Sana, warga Jiput Pandeglang, terpaksa tinggal di kandang kambing (foto-ck-BantenTribun)

Pandeglang,BantenTribun.id- Sana, pria 38 tahun warga Kampung Kadu Apus, Desa Babadsari, Kecamatan Jiput, Pandeglang ini, memang membuat miris kita.

Betapa tidak, selama 2 bulan terakhir ini ia harus rela tidur di kandang kambing peliharaannya. Dinginnya udara malam, bau kotoran, serbuan nyamuk, serta suara embikan ternaknya, terpaksa ia rasakan seorang diri.

Sana terpaksa harus berbagi ruang dengan kambing ternak pelihraannya. Di pinggir kandang itu, sekitar dua meter persegi sekat dan menyulapnya untuk tempat tidurnya.

Rumah panggung  miliknya yang terletak di samping kandang sudah rusak berat. Lantai dan dinding yang terbuat dari bambu rusak parah. Atap rumahnya yang terbuat dari daun rumbia sudah pada bocor. Padahal, rumah itu satu-satunya peninggalan dari neneknya.

Menurut Sana, awalnya ia tinggal di rumah peninggalan itu  hampir tiga tahun. Namun  dua bulan belakangan ini ia terpaksa tinggal di kandang kambing, karena kondisinya sudah tidak layak huni dan kerap bocor jika hujan turun.

“Tidur di kandang Kambing ini baru dua bulanan, sebelumnya di rumah dan sudah tiga tahun. Karena banyak bocor saya pindah ke sini, nggak punya uang buat beresin rumah,” kata Sana di rumahnya, Rabu (8/7/2020).

“Ya  dibuat biasa saja lah, banyak nyamuk dan dingin juga, anggap saja sambil ngeronda kambing,”imbuhnya.

Kambing peliharaan Sana sebenarnya milik orang lain dengan kesepakatan pembagian hasil jika ternak kambingnya beranak.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Sana hanya mengharapkan  kerja serabutan  dengan upah harian, meski tidak setiap hari bekerja. Kondisi itu kadang membuatnya tidak bisa makan.

“Saya  ikut bekerja kuli dengan orang. Upahnya sehari Rp 50 ribu. Kerja apa saja, ngangkut batu, atau jual pisang. Pernah juga tidak makan karena lama tidak ada kerjaan dan tidak punya beras,”ungkapnya.

Sana memang berharap bisa tinggal di tempat yang lebih layak agar bisa istirahat.

“Saya kadang pingin tinggal di gubuk layak yang cukup tiga orang, kayaknya enak dan nyenyak ya,”katanya setengah bertanya.

Tinggal di Kandang Kambing, Luput dari Perhatian karena KTP-el

Nasib Sana, warga miskin itu dikabarkan juga luput mendapatkan bantuan dari pemerintah. Saat diusulkan untuk menjadi penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) yang bersumber dari Dana Desa (DD) di tempatnya, juga terkendala.

Nama Sana yang diusulkan sebagai penerima, tidak direspon oleh Pemerintah Desa karena alasan administrasi. Sana tidak memiliki KTP elektronik.

Tetangga Sana, Abdul Latif, mengaku sangat prihatin dengan kehidupan yang dialami Sana. Ia pernah membawa  Sana ke kantor desa agar mendapatkan  untuk warga terdampak covid-19 yang bersumber dari Dana Desa (DD) tahap awal.

“Pernah saya bawa ke Kades, maksudnya  supaya yang bersangkutan diperhatikan. Tapi Kades katanya bingung karena Sana tidak punya KTP. ” kata Latif saat ditemui di rumah Sana, Rabu (8/7/2020).

Sejauh ini menurut Latif,  Sana belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah, terkecuali setelah ramai diberitakan. Sana baru mendapatkan bantuan berupa tiker dan beras dari Dinas Sosial (Dinsos) Pandeglang.

“Baru kemarin setelah mencuat, yang ke sini  Camat  tapi bantuannya dari Bu Kadinsos,”ujarnya.

“Saya miris lihatnya, kalau ada makanan ya di makan, kalau gak ada ia puasa. Meski ada sanak saudaranya, sepertinya ia sungkan karena  sudah pada berkeluarga dan punya cucu,” imbuh Latif.

Latif  juga meminta pemerintah desa untuk sigap dan merespon terkait persoalan sosial di daerahnya. Kondisi Sana menurutnya telah diketahui oleh pihak desa.

“Sebenarnya pihak desa bukan gak tahu, tahu kondisi Sana,  tapi sepertinya dianggap sepele. Harusnya kalau ada apa-apa pihak desa juga ikut bertanggungjawab,”sesalnya.

Camat Jiput, Suntama mengaku jika awalnya tidak tahu kalau ada warganya yang tinggal di kadang kambing.  Setelah ramai terungkap,  baru mengetahui. Suntama mengaku sudah meninjau ke lokasi kandang kambing Sana.

“Sebelumnya kami dari pihak kecamatan dan desa tidak tahu sama sekali. Setelah viral, kami dengan Muspika langsung turun ke lapangan dan memang benar adanya, Sana tinggal di kandang kambing,” katanya.

Jika  dari awal diketahui, Suntama memastikan Sana sudah dipastikan akan di perhatikan oleh pemerintah.  Ia juga menyesalkan sikap Pemerintah Desa Babadsari yang tidak melakukan koordinasi jika Sana tak bisa mendapatkan bantuan karena terbentur KTP-el.

“Kepala Desa Babadsari sudah menceritakan kronologisnya.  Ia juga tahu jika Sana tidak punya dokumen administrasi. Sayang tidak ada koordinasi, padahal menurut  Bu Kadis (Dinsos) supaya menyisir untuk melakukan pendataan terhadap warganya yang tak punya KTP atau KK, sudah koordinasi dengan Disdukcapil. Ini sudah kita kontak,”katanya.

Anak Tunggal

Sana merupakan anak tunggal dari pasangan suami istri Satim dan Sarnah. Ayahnya meninggal saat Sana berusia sekitar 8 tahun. Sejak saat itu, Sana tinggal bersama neneknya. Sementara, sang ibu pergi tak ada kabar.

Pada 2017 Nenek Sana meninggal dunia. Semenjak itulah Sana memutuskan untuk tinggal di gubuk yang bersebelahan dengan kandang kambingnya,

Kini Sana tak punya pilihan, rumah peninggalan neneknya sudah tidak layak dihuni. Tiang yang terbuat dari kayu sudah tidak mampu menahan beban, alas rumah yang berlubang, dan atap yang terbuat dari anyaman daun, bocor saat hujan turun. Sana terpaksa ikut tidur berdampingan dengan kamping ternaknya.

Pasca kondisi Sana mencuat ke publik, Dinas Sosial Pandeglang melalui pihak Kecamatan Jiput, baru turun ke lokasi dan memberikan bantuan berupa tiker dan beras.

Bersama kambingnya yang juga tidak ber- KTP, Sana mencoba belajar bertahan hidup*(ck/kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.