Di Baduy, HP Canggih Bisa Dimiliki Tapi Tak Bisa Berbunyi

Di Baduy, meski warganya bisa memiliki Handphone atau HP, namun nyatanya tidak bisa berbunyi alias tidak bisa sembarang digunakan. Larangan adat penggunaan barang elektronik terhadap warga Baduy ini tetap berlaku, meskipun alat komunikasi canggih nan kecil ini sudah mulai merambah perkampungan mereka.

Seorang pedagang keliling casing HP di kampung Kaduketug Baduy Luar, pintu masuk utama dari terminal Ciboleger (foto-Nur-BantenTribun)

BantenTribun.id—Alat komunikasi seukuran genggaman kecil ini memang bisa mendekatkan jarak. Kemajuan teknologi komunikasi memang merambah ke belahan jagad manapun. Tak terkecuali Perkampungan adat Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Wilayah yang dikenal sebagai perkampungan adat ini memang melarang penggunaan barang elektronik bagi warganya. Pesawat televisi, Radio atau benda elektronik lainnya, tidak akan nampak dirumah warga Baduy Luar apalagi Baduy Dalam.

Namun, sepertinya tidak demikian halnya dengan handphone atau HP. Alat komunikasi kecil yang satu ini, nyatanya sudah mulai beredar di Perkampungan Baduy, sebuah wilayah di Desa Kanekes.

Meski demikian, warga Baduy yang sudah memiliki HP ini, tidak bisa sembarangan menggunakannya saat berada di rumah atau di tengah perkampungannya. Selain larangan adat, juga taka da sinyal yang bisa didapat.

Mereka hanya bisa menggunakan alat komunikasi ini saat sudah keluar wilayah perkampungan adat. Bantuan alat komunikasi  ini biasanya digunakan warga Baduy ketika menyangkut urusan perdagangan alias bsnis. Misalnya jual beli produk tenun, kerajinan tangan, atau hasil bumi.

Beberapa kalangan muda  Baduy ada juga yang sudah menggunakannya untuk bermedsos.

“Kami memang tidak bisa melarang seratus persen soal penggunaan alat komunikasi. Ini bagian dari perkembangan jaman yang sulit ditahan, ungkap Sarip (56) warga Kampung Kaduketug, kepada BantenTribun.

“Yang penting tetap harus menjaga adat istiadat yang berkaitan dengan aturan Sunda Wiwitan,” sambung Sarip.

“Banyak juga yang punya handpone android berharga mahal. Tapi kalau warga pulang ke rumah, HP itu dimatikan. Saya pun sering berkomunikasi jika mau pesan hasil panen,” ungkap Mang Ripin, aktivis yang kerap mendampingi pengunjung saat Saba Baduy,  kepada BantenTribun, Kamis, 1 Oktober 2020.  

Jadi, di Baduy HP canggih nan mahal bisa dimiliki, tapi tak sembarangan bisa berbunyi.*(kar/Nur)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.