Debus Banten Dalam Tinjauan Sosial Budaya

Debus Banten berfungsi untuk menguatkan keyakinan terhadap kekuasaan Allah, berkaitan dengan proses Islamisasi secara damai. Debus Banten juga berperan dalam mempertebal perasaan kolektif dan mengintegrasikan secara sosial, setiap anggota debus (Geertz, 1992:103)

debus banten
PERKUMPULAN DEBUS BANTEN INDONESI(PDBI)  mengadakan sarasehan di Hotel Mambruk Anyar-Serang-Banten 5 Desember 2020

Pengamatan Debus Banten, tidak hanya dari satu sisi, namun harus dari berbagai sisi. Pengamatan secara komprehensif telah dikaji oleh LPUI, dari hasil kajianya menyimpulkan bahwa Debus merupakan bagian dari sistem sosial budaya di Banten.

Sistim sosial budaya di Banten terbentuk dari kearifan umat Islam yang memiliki kemampuan luar biasa dalam mengolah sosial budaya Banten.

Boleh jadi bahwa Islamisasi Tahap 2 diampu oleh Wong Banten sendiri. akar kearifan Umat Islam tidak hanya dari nilai-nilai lokal juga dari nilai-nilai agama. Nilai-nilai lokal yang dimiliki oleh Wong Banten, menurut Quarutch Wales, disebut ‘locak genius’ sedangkan nilai-nilai agama yang dimiliki oleh Wong Banten adalah ‘al-Hikmah’ ( lihat surat An-Hahl 125).

Islamisasi Tahap 2, menurut para ahli sejarah, seperti , Hoesein Djayadiningrat, secara tidak langsung masuk melalui berbagai negara yang dilalui diantaranya Persia, Gujarat dsb.Namun menurut Prof.DR. Tujimah Islamisasi Tahap 2 adalah dilakukan oleh orang Indonesia sendiri. Bilamana di Banten berarti oleh orang- orang Banten.

Islamisasi Tahap 2 ini telah menjadi Sistem Sosial Budaya. Sistim Sosial Budaya ini sebagai metode/jalan yang mempercepat Islamisasi di Banten.

Sistem sosial budaya telah mewujudkan pradaban baru di Banten, diantaranya dalam bidang arsitektural dan ornamental, seperti bangunan Keraton dan bangunan Masjid, dalam bidang seni. Seni olahraga seperti Bola Api, Seni permainan seperti dedewaan, seni Debus Banten, Seni Silat seperti Silat Kidudut dsb.

Sistem sosial budaya ini sebagai mitra da’wah dalam Islam. Sistem sosial budaya ini ada yang terus mendampingi dalam da’wah Islam. Aad juga yang sudah mati, seperti Bola Api, dan Dedewaan.

Namun ada juga yang hijrah d ke tempat lain seperti, Wewe-wewean, telah hijrah ke Betawi menjadi Ondel-Ondel. Dan ada yang sedang mengalami mati suri, seperti, Ubrug, dan Bebeluk. Bahkan Bebeluk telah eksodus ke Cirebon.

Masuknya pengaruh kolonial, di tengah stagnasi dan keruntuhan Banten, membuat Debus Banten sebagai bentuk permainan, berubah fungsi ketika ada tantangan terhadap Islam.

Debus menjadi sarana untuk turut berjuang berjuang melawan kezaliman, penindasan, kesewenang-wenangan. Boleh jadi mereka menamakan sebagai Jawara, sehingga terbangun pada saat itu tiga serangkai struktur sosial Banten, dengan nama Jawara, Umara dan Ulama.

Setelah Banten kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, di awal Kemerdekaan, muncul kerinduan terhadap sistem budaya masyarakat Banten. Lalu pada tahun 1990 an muncul Padepokan Debus Kaloran, sebelumnya telah terbentuk Padepokan Persilatan Ki Dudut, demikian juga di tempat tempat lain muncul Padepokan Padepokan Debus Banten.

Namun kemunculannya di tahun 1900 an masih bersifat parsial, belum terkodinir, baru pada tahun 2000 an telah ada upaya-upaya menghimpun, secara keorganisasian, pada tahun 2019 telah terbentuk Perkumpulan Debus Banten Indonesia (PDBI), dengan Ketua Umumnya Ki Ajat.

Islamisasi Tahap 2

Sebagaimana Prof.Dr. Tujimah dalam sebuah Bukunya Aspek-Aspek Islam Nusantara, bahwa orang-orang Indonesia atau Wong Banten, mempunyai peranan penting dalam Islamisasi di Banten, tentunya setelah pulang bermukim di Makkah.

Islamisasi tahap 2, sebagaimana diungkapkan oleh Snouck Horgronye, Husein Djayadiningrat, sekitar abad 13, hal itu berdasarkan bukti-bukti arkeologi berupa batu Nisan yang berangka tahun 1297 di Aceh.

Pada abad 13, Banten Girang sebagai Kadipaten Pajajaran telah mengalami stagnasi. Kruntuhannya ditandai dengan Candrasengkala Brasta Gempung Warna Tunggal, sekitar tahu 1400 c/ 1478 M. Sebelum Maulana Hasanuddin masuk ke Banten, pendahulu yang melakukan Islamisasi di Banten adalah ki Aili Rahmatullah, dan sebelumnya lagi adalah Ki Karang.

Siapa Ki Karang tersebut, masih belum jelas, namun yang jelas, manuscrip ki Karang telah ditemukan di bukit Kalijaga di Jawa Timur, manuscrip Tarekat, berisi tentang nasehat-nasehat, sehingga disebut nasehat Ki Karang dari Banten.

Tapak-tapak ki Karang di Banten, telah ditemukan di Kraton Tirtayasa yang diabadikan dalam sebuah nama kanal. Kanal Ki Karang, juga menjadi nama sebuah Gunung di Selatan Banten, yang disebut Gunung Karang. Nama orang dijadikan nama Gunung juga ditemukan di Menado, yang disebut Gunung Lokon. Loko adalah putra Tubagus Buang.

Pembawa Islam berikutnya, Ali Rahmatullah, dalam buku Catatan Ayip Ismail, bahwa Ali Rahmatullah adalah nama lain dari Sunan Ampel. Sunan Ampel ini merupakan penghulu para wali-wali di Jawa, dan mengakhiri hidupnya di Jawa hingga wafat pada tahun 1478 M, di makamkan di sebelah barat Masjid Agung Sunan Ampel.

Para Wali-wali diantaranya Syarif Hidayatullah (polemik Syarif Hidayatullah, apakah sama dengan nama Fatahillah, telah diluruskan dalan manuscrip Caraka Caruban Nagari). Diantara para Wali 9, Syarif Hidayatullah, memiliki kelebihan, tidak hanya sebagai Wali, juga ia sebagai Pemimpin pemerintahan, Syarif Hidayatullah menempatkan putranya yang bernama Maulana Hasanuddin di Banten.

Tidak seperti pendahulunya yang pernah masuk ke Banten, tidak bertahan lama tetapi Maulana Hasanuddin, masuk ke Banten hingga wafat di Banten. Hasanudin mampu menaklukkan “Kesakten Pucuk Umun”.

Berita penaklukan tersebut bisa di baca pada manuscrip Hikayat Hasanuddin. Dari peristiwa penaklukan tersebut, dalam masyarakat telah berkembang istilah Ilmu Hitam dan Ilmu putih.

Dalam istilah manuscrip disebut dengan Jalak Rarawe dan Jalak Putih. dalam manuscrip, adu Kasakten, menggunakan simbol-simbol, yang diadu adalah binatang, berupa ayam jago, ayam yang telah diisi kekuatan (Isim). Ayam Pucuk Umum diisi Isim dari besi sembrani sedangkan ayam Hasanudin diisi Isim Jin Islam.

Dalam perkembangan berikutnya, isi isim pada seorang manusia, tujuannya untuk menandingi seorang manusia yang diisi dengan isim ilmu hitam. Dalam perkembangan berikutnya lagi, setelah ilmu-ilmu hitam bisa ditundukkan. Isin-isim ini bukan untuk dipertandingkan tetapi untuk sebuah Permainan.

Sebagaimana dalam buku, Debus in West Java (dalam) BKI 129. Wes Java Tourist Office. 1976. Guide to West Java. Edisi ketiga, hl 302.

Dua Makna Debus Banten

“Debus is a performance the manifest fungtion of which is to furnish proff of invulnerability (kekebalan). The participants are the the Seh debus, or leader of the debus group, and a number of performers (pemain debus). Instruments used, the actual dabus, are awl-like daggerrs consisting of a wooden hilt with an iron spike ranning through it which ends in a sharp point”

Dengan demikian, Debus atau Debus Banten memiliki dua makna, yaitu; Permainan Kekebalan dan makna alat yang digunakan untuk permainan.

Kapan sebuah Permainan kekebalan tersebut, disebut dengan nama Debus Banten. Kapan nama Debus muncul di Banten. Ada yang berpendapat bahwa Debus berasal dari nama lokal, dari kata “tembus”.

Ada juga yang berpendapat bahwa Debus Banten berasal dari luar Banten, yang boleh jadi dibawa bersamaan masuknya Islam ke Banten pada tahap kedua.

Islam Banten pada tahap kedua, masuk dari Persia, lalu Gujarat dan masuk Ke Banten. Islam masuk tahap kedua, menurut Hoesein Djayadiningrat, telah membawa pengaruh dari Persia, seperti dalam membaca al-Quran, ada sebutan alif fatha, alif dommah dsb. Juga persia memiliki tradisi permainan yang disebut Dabus, yang berarti tusukan (Aboebakar Atjeh 1993:357). Baimana peranan Dabus dalam masa Institusi Islam di Banten.

Masa Pertumbuhan Kesultanan Banten

Dalam masa pertumbuhan Islam di Banten, telah terjadi kontak dengan Budaya Lokal dan kontak dengan Budaya Hindhu Budha. Konsep Islam di Nusantara adalah dengan Jalan Damai.

Melalui Jalan Damai inilah Islamisasi diterima dengan cepat persebarannya. Islam masa pertumbuhan ini, disibukkan dengan persoalan bagaimana mengimbangi dengan budaya lokal yang telah menguat. Bagaimana sikap yang diambil, di situlah diperlukan suatu Kearifan.

Kearifan dalam berdawah ini juga memiliki dasar acuannya dalam Islam (barankali ini akan dibahas oleh akhlinya) hanya yang perlu diketahui apakah Budaya Lokal juga memiliki suatu kearifan. Yang disebut Local Genius, yaitu kemampuan luar biasa untuk mengolah pengaruh asing. Sementara konsep dalam Islam dikenal dengan al-Hikmah.

Dalam Ensiklopesi Indonesia Edisi khusus, menyebutkan bahwa al-hikmah berarti; perkara yang tinggi nilainya, hanya dapat dicapai manusia melalui akal pikiran dengan metode-metyode berfikir yang baik, berikutnya adalah manfaat atau faedah akan suatu perbuatan, seperi, hikmah solat dsb.

Pengertian selanjutnya, Al Hikmah berarti pula kesaktian, untuk menyatakan arti yang lebih dalam. Pengertian yang terakhir ini (menyatakan arti yang lebih dalam), selaras dengan nilai-nilai kesufian yang memiliki kecenderungan untuk mengolah hati nurani.

Masa Perkembangan Kesultanan Banten

Abul Mafakhir Abdul Kadir Kanari sebagai sultan Banten, buku refrensinya adalah Kitab Markum, Kitab Muntahi dan Kitab Wujudiah. Lihat manuscrip Banten pada Teks G (Lorr.7389), Sinom, pupuh 7. Ketiga kitab tersebut dirangkum menjadi pedoman kenegaraan dengan judul Ar-Rabaniah. Kenegaraan berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan.

Disamping itu Sultan Abulmafakhir Abdul Kadir Kanari, telah menulis kitab, Insanul Kamil. Negara yang berazaskan nilai-nilai Ketuhanan “ ar-Rabaniah”, Visinya Amal ma’ruf nahi mungkar.

Visinya tersebut ditorehkan dalam sebuah prasasti, yang terdapat dua frase, frase amal ma’ruf, seperti, AL-akibatul Khoir Salaamatul Iimaan dan Nahi Mungkar seperti, Laa Fatah Illa Ali Rujita, Laa Syaifa Illa Zulfikar Laa Hua Kufuan Ahad. Misinya membentuk Kesalehan Ummat sebagaimana yang diamanatkan oleh Kiyai Dukuh dan mensyiarkannya.

ﺄﻟﻌﺄﻗﺒﺔﺄﻟﺨﻴﺮﺴﻶﻣﺔﺄﻹﻴﻣﺄﻦ ﻻﻓﺘﺢﺄﻻﻋﻠﻰﺮﻮﺟﻴﺘﻮﻻﺸﻴﻒﺄﻻﺟﻠﻔﻜﺮ

Masa Stagnasi, Keruntuhan Kesultanan Banten

Banyak faktor sebab-sebab Banten mengalami stagnasi dan akhirnya keruntuhan, menuruf Cruf, salah satu faktornya adalah sudah tidak lagi memegang teguh Visi Kesultanan, amar ma’ruf dan nahi mungkar . menurut Cruf, penghianatan terhadap Visi Kesultanan, runtuhnya kesultanan ditandai dengan berubahnya nama senjata andalan Kesultanan, yaitu Meriam.

Nama meriam tidak lagi disebut ki Jimat tapi sudah disebut Ki Amuk. Akibat aneksasi tidak hanya runtuhnya Institusi juga berpecahnya keluarga dalam Kesultana, ada yang Pro Kolonial dan ada juga yang kontra, terus mengadakan perlawanan, bahkan ada juga yang eksodus ke luar dari Banten.

Begitupun misi telah berubah menjadi suatu “Gerakan”. Gerarakan perlawanan. Gerakan ini terus berlanjut hingga abad ke 19, dengan munculnya Gerakan Geger Cilegon, dan gerakan-gerakan lainnya.

Dalam masa pergerakan ini, boleh jadi Debus Banten sebagai bentuk Seni Permainan, sebagai bentuk syiar, turut bergerak. Jawara sebagai bagian dari Debus Banten itu sendiri, turut bergerak bersama Ulama dan Umaro. ***

Penulis : Tubagus Najib Al-Bantani

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.