Dario Hubner, Perokok Berat dan Pencetak Gol Terbanyak di Serie A

Dario Hubner adalah anomali sepakbola Italia. Berjuang dari Serie D, ia sukses menjadi Capocanonieri Serie A. Padahal ia adalah perokok berat dan peminum alkohol.

Ia juga tak lahir dari binaan sebuah klub sejak junior. Masa remajanya malah diisi dengan bekerja sebagai karyawan pabrik alumunium.

Dario Hubner
Dario Hubner. Foto Istimewa

BantenTribun.id- Tak banyak kesempatan bagi pemain muda dunia yang mampu lolos ke liga terbaik Eropa. Dulu maupun sekarang.

Padahal, skill pemain bola saati ini banyak yang mumpuni. Cepat, lincah dan pandai menggocek bola.

Ditempa dari hasil didikan sekolah sepak bola. Sebagian bahkan memiliki tendangan keras, sebut saja Saadil ‘Pecel Lele’ Ramdani atau Febri Haryadi.

Soal Disiplin jangan ditanya. Sebagai atlet profesional, tidak sedikit pemain bola yang menerapkan hidup sehat, sebagai atlit. Alih-alih merokok, pola makan pun diatur sedemikian rupa. Semua dilakukan agar kondisi tetap prima dan mampu bersaing dengan pemain lain.

Namun selalu saja ada anomali, dari semua anggapan lazim. Pada periode awal milenium, kita menemukan pemain-pemain unik yang jauh dari karakter lazim itu. Satu diantaranya adalah Dario Hubner di Italia.

Hubner adalah anomali di Serie A. Lelaki dari Muggia –Sebuah tempat di Italia yang identik dengan orang Jerman, Slovenia dan Kroasia itu pernah merasakan Capocanonieri di Liga dengan pertahanan paling ketat di dunia kala itu.

Seperti diketahui, di awal 2000 an. Serie A Italia masih dihuni pemain-pemain hebat di lini belakang. Alesandro Nesta, Paolo Maldini, Fernando Couto, Ciro Ferrara, hingga Fabio Cannavaro adalah jaminan mutu di pertahanan.

Tapi Dario Hubner mematahkan semuanya. Bersaing dengan nama besar seperti Delpiero, Hernand Crespo, Andriy Sehvechenko, Francesco Totti hingga Christian Vieri, sebagai striker. Hubner menjelma jadi capocanonieri di musim 2001/2002 dengan torehan 24 gol.

Saat itu ia hanya mampu disaingi oleh striker Juventus asal Prancis, David Trezeguet yang juga mencetak jumlah gol yang sama.

Tapi tetap saja, Hubner menjadi yang terbaik. Pasalnya ia bukan berasal dari klub besar dengan segudang pemain hebat seperti Trezeguet dari Juventus.

Pria dengan rambut keriting dan berkumis tipis itu, hanya membela klub kecil Piacenza. Tapi berkat kerja kerasnya ia mampu meraih prestasi itu. Padahal usianya tak lagi berada diusia emas.

 

Dario Hubner adalah lelaki kelahiran 28 April 1967. Artinya saat ia menjadi pencetak gol terbanyak di Serie A, usianya sudah diatas 30 tahun. tepatnya 35 tahun.

Dario Hubner, Perokok dan Minum Alkohol

Dario Hubner bukan lahir dari binaan Sekolah Sepak Bola (SSB) yang berkurikulum kekinian. Ia berasal dari keluarga biasa, yang tak yakin dengan bakat sepakbolanya.

Lingkungan tempat ia tumbuh di Mugia adalah lingkungan pekerja keras. Keluarganya pun tak terlalu fokus dengan pendidikan.

Lingkungan memaksa pria bertinggi 1,8 meter itu bekerja di pabrik alumunium saat masih remaja. Lingkungan itulah yang kemudian membuatnya menjadi pecandu rokok.

Hubner tak bisa lepas, dari rokok. Ia setidaknya menghabiskan 1 bungkus rokok perhari. Selain merokok, ia juga kerap minum Grappa, Sebuah minuman beralkohol dengan aroma anggur khas italia.

Dario Hubner menjadi sosok langka. Meski merokok dan minum minumah berlakohol. Bahkan ia pun tak yakin dengan bakat sepakbolanya. Nasib pada akhirnya berkata lain. Hubner menjadi pemain yang bertarung di kasta tertinggi liga Italia, Serie A.

Franceso Guidolin

Seperti halnya Jamie Vardy, Didier Drogba, atau Miroslav Klose. Hubner juga menjadi pemain yang telat moncer. Tapi sekali lagi ia lebih unggul dari pemain-pemain itu, setidaknya ia adalah pesepakbola yang merangkak dari kasta ke-4 Liga Italia.

Selain itu, ia adalah seorang pekerja, tak berlatih sepakbola secara profesional sejak usia dini. Pelatih pertamanya di klub Pergocrema tertarik dengan gaya permainannya yang ngotot.

Ketertarikan itu direspon Hubner. Ia kemudian berhenti dari Pabrik dan menandatangani kontrak sebagai pemain bola di usia 22 tahun. Pergocrema di kasta ke-4 Liga Italia adala klub pertamanya.

Setahun di Pergocrema, Hubner direkrut Fano klub lain di divisi 4 Italia. Tapi di Fano adalah awal segalanya.

Hubner bertemu dengan sosok pelatih kawakan Francesco Guidolin. Pelatih yang nantinya sukses dengan Udinese itu memberi pengaruh positif untuknya.

Bersama Guidolin di Fano, insting Hubner sebagai striker terasah. Ia pun sukses menjadi pencetak gol terbanyak dan membawa Fano naik satu level.

Guidolin telah merubah permainan Hubner menjadi pemain hebat. Tapi ia tetap tak sanggup merubah kebiasaan merokok mantan karyawan pabrik itu.

Tiga tahun di Fano, membuat Hubner menjadi pemain hebat, dan karirnya mulai bersinar setelah resmi bergabung dengan klub Serie B , Cessena di musim 1995/96.

Bersama Cavaluccio Marino, alias Si Kuda Laut. Penampilannya semakin baik. Bak sebuah episode Become a Legend di PES, Untuk kali pertama ia mendapat julukan dan diteriaki suporter Cesena dengan sebutan Bison.

Sebutan Bison adalah gambaran performa Hubner yang kuat, tangguh, tak kenal lelah serta rambutnya yang tebal hitam.

Bison berprestasi sangat baik bersama Cessena. Ia kembali meraih  Capocanieri seperti saat di Fano dengan 22 gol. Tapi kali ini beda tentunya. Selain Level yang lebih tinggi, raihan 22 gol Hubner juga menarik perhatian tim Serie A Intermilan.

Sementara meski jad top skor. Klubnya Cessena tak selamat, dan kembal anjlok ke kasta lebih rendah.

Serie A

Bukan Intermilan, Dario Hubner bergabung dengan klub Serie A lain, yaitu Brescia di musim 1997/98.

Serie A menjadi hal luar biasa untuk Hubner, mantan pegawai pabrik itu mampu bertanding dikasta tertinggi kompetisi Italia, dan bergabung dengan pemain sekelas Andrea Pirlo, Christiano Doni, Danielle Adani hingga Filipin bersaudara.

Debut pertamanya adalah kontra Intermilan yang saat itu tengah heboh dengan sang fenomena, Ronaldo Luiz Nasario De Lima, alias Ronaldo.

Heboh transfer Ronaldo menjadi hening di laga perdana itu. Pemain Brazil tak berkutik di kawal pemain Brescia. Sebaliknya Hubner bersinar dan mencetak satu gol ke gawang kiper legenda, Gianluca Pagliuca.

Meski mencetak satu gol, Brescia tetap kalah tipis, setelah Recoba membalas dengan dua gol. Satu musim luar biasa untuknya, meski akhirna Brescia kembali ke Serie B di akhir kompetisi.

Hubner tetap setia dengan Brescia di Serie B, dan akhirnya kembali ke Serie A di musim 2000/01.

Brescia tentu tak ingin kembali gagal. Mereka belajar banyak, dan kesimpulannya, klub promosi itu butuh pemain hebat berpengalaman.

Carlo Mazzone sang pelatih membuat  keputusan besar dengan merekrut Legenda Italia di Piala Dunia 1994, Roberto Baggio.

Si kuncir menjadi tandem pas Hubner. Kombinasi antara teknik dan kekuatan. Flamboyan dan pekerja keras.

Bersama sang jenderal lapangan yang kini melatih Juve. Andrea Pirlo, Hubner dan Baggio menjadi trio menakutkan dan membawa klub itu ke posisi terbaik yakni  ke-7. Sekaligus membuat mereka melenggang ke Intertoto Cup.

Meski sukses di musim itu, Hubner sadar dengan usianya dan tuntutan regenerasi. Saat itu, calon striker timnas Italia Luca Toni berada satu klub dengannya. Ia pun akhirnya hijrah ke Piacenza.

Meski tak menemukan tandem hebat seperti Baggio di Piacenza, Hubner tetap belum habis. bersama Biancorossi, ia kembali menjadi pencetak gol terbanyak Serie A. Meski timnya tetap terperosok di papan bawah klasemen.

Kehebatan Hubner, membuat Fanz Gli Azzuri mendesak  Trapattoni untuk memasukannya ke skuad utama. Tapi Mr. Trap tak bergeming, selain usia dan disiplin, Hubner berada pada wkatu yang tak tepat. Saat itu Italia diisi pemain-pemaih hebat di semua lini.

Berikutnya, tak ada kejutan dari Hubner selain sempat dibawa AC Milan tur ke Amerika.

Tapi tak ada kontrak dengan AC Milan. Pelatih Carlo Ancelloti tak senang dengan kebiasaan merokoknya. Hubner bahkan tak jadi masuk dalam list cadangan Milan.

Setelah di Piacenza, Dario Hubner memang berkelana ke beberapa klub, seperti Mantoval, Castelmella dan Cavenago. Tapi tak ada lagi yang istimewa. hingga akhirnya ia memutuskan pensiun saat membela Cavenago di musim 2010/11. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.