Dari Gorengan Serba “Seceng”, Terbangun Rumah Mentereng

Jangan anggap sepele menekuni bisnis gorengan seharga seceng alias seribu. Pria asal Indramayu ini sudah membuktikannya. Dari gorengan serba “seceng”, Mang Ade, bisa membangun rumah mentereng di lahan kavling dekat pusat kota Pandeglang.

Dengan bisnis gorengan serba seceng, Adeni sukses dan bisa membangun rumah mentereng (foto-BantenTribun)

Pandeglang,BantenTribun.id-Jangan sepelekan bisnis gorengan cireng, bakwan, atau gorengan lainnya seharga seribu. Sebab, jika dalam sehari bisa laku minimal 2000 pcs, itu artinya bisa meraup omzet harian sedikitnya Rp2 juta atau Rp 60 juta perbulan, alias Rp 700 juta-an. Sederet omzet mendekati 1 miliar pertahun, hanya dari gorengan “seceng.”

Soal keuntungan? Boleh coba hitung-hitungan. Yang pasti, Adeni (29), pria perantau asal Indramayu ini sudah membuktikannya.

Sejak tahun 2012, Adeni mulai membuka usaha gorengannya dengan mangkal di depan toko waralaba indomart Ciherang Pandeglang.

Sebelumnya, ia mengaku berdagang gorengan keliling sejak 2006. Di tempat mangkalnya, ia menyewa teras rumah seluas 4 meterpersegi. Disini terbentang spanduk “Gorengan Mang Ade” sebagai merk dagangnya.

Mang Ade, panggilannya, mulai membuka dagangannya sejak pukul 4 sore dan berahir tengah malam. 

“Tutupnya tidak tentu, tapi paling lambat jam 12 malam,” jelas Adeni, kepada BantenTribun.

Dengan menggunakan  gerobak pikul dan 2 wajan penggorengan yang dibantu 3 orang karyawannya, dalam sehari Mang Ade menghabiskan sedikitnya 25 kg tepung terigu sebagai bahan utama produk gorengannya.

Cireng, bakwan, tempe, karoket, gehu dan lainnya menjadi menu dari 12 macam gorengan yang dijualnya. Semua gorengan dibandrol harga seribu, alias “seceng”.

Adeni memang tidak memviralkan dagangannya dengan pantun seperti Mang Oleh si “Odading” Bandung.

Untuk menjaga kualitas gorengan dan kesetiaan pelanggannya, menurutnya, selain  konsisten dengan rasa, “Sambel Kacang”nya, menjadi kunci dan nilai pembeda dari gorengan lainnya.

“Jangan buat sambel asal-asalan.  Kalau kita konsisten dengan sambel kacang, tidak hanya cabai rawit sebagai pelengkap teman makan gorengan,” ujar Adeni.

Selain itu, kata mang Ade, penggunaan minyak goreng juga tidak boleh dipakai berulang-ulang.

“Setiap hari harus menggunakan minyak goreng baru. Kalau kita pakai minyak goreng dalam kemasan yang bermerk,” terang suami dari Dewi ini.

Dengan rata-rata 7-8 jam membuka lapak dagangannya,  omzet penjualan mang Ade bisa meraih Rp 2 juta perhari. Ini artinya setara dengan Rp 60 juta perbulan, atau mendekati 1 miliar dalam setahun.

“Rata-rata sehari 2 juta pak. Kalau ahir pekan atau bulan puasa omzetnya bisa naik lebih besar lagi. Ya bersyukur bisa menggaji karyawan,” kata Adeni.

Buah ketekunan usaha gorengannya, Adeni bisa membangun rumah permanen.( foto-BantenTribun)

Dari usaha gorengan serba seceng ini, Ia bisa membeli tanah kavling di Kampung Nagara Kadumerak,  dan membangun rumah mentereng  ukuran type 86.

Alhamdulillah pak, bisa bangun rumah dan tidak mikirin kontrakkan lagi. Baru berjalan 50 hari kerja,  ” ujarnya, Rabu, 16 September 2020.

Ketekunan, konsistensi menjaga kualitas dan rasa gorengan,  bisa jadi rahasia kunci sukses Mang Ade. Meski dari gorengan seharga seceng, rumah permanen mentereng, menjadi bukti buah usahanya.*(kar). 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.