Cuaca Dingin Landa Sejumlah Kota di Indonesia, Pertanda Apa?

diungin di lembang(Pemandangan pedesan yang tertutup kabut di lembang bandung, jabar,Sabtu,7-7, BMKG mencatat suhu udara kurang dari 15 derajat celcius di RutengNTT, Wamena Papua, dan Tretes Jatim -antara
Dingin : Pemandangan pedesan yang tertutup kabut di lembang bandung, jabar,Sabtu,7-7, BMKG mencatat suhu udara kurang dari 15 derajat celcius di RutengNTT, Wamena Papua, dan Tretes Jatim (foto-antara)

Sejumlah kota di Indonesia beberapa hari terakhir dilanda cuaca dingin. Benarkah akibat Matahari menjauh dari bumi? Atau pertanda lain?

BantenTribun.id– sejumlah kota dilanda cuaca dingin lebih dari biasanya. Bahkan, di dataran tinggi Dieng dilaporkan suhu mencapai 10 derajat hingga menimbulkan embun es.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyampaikan hasil pengamatannya jika di Ruteng (NTT) suhu udara kurang dari 15 derajat Celsius tercatat. Ini juga melanda Wamena (Papua), dan Tretes (Jawa Timur). Bahkan, pada 4 Juli lalu, suhu di Ruteng (NTT) mencapai 12 derajat Celsius. Kondisi itu juga terjadi di beberapa lokasi di Pulau Jawa.

Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, BMKG mencatat suhu di sejumlah area di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul mencapai 10-15 derajat Celcius.Di Dataran Tinggi Dieng, Provinsi Jawa Tengah, suhu mencapai 14 derajat Celsius disertai penampakan embun es. Sedangkan di Bandung, Jawa Barat, temperatur sempat menyentuh 16,4 derajat Celsius.

Benar, sekarang cuaca terasa lebih dingin dari biasanya, kata orang sini mah Kamididing,” ujar Hanibal Badruzaman, pegawai Pertamina Drilling Service Indonesia, di desa Kedokan, Kabupaten Indramayu, kepada Banten Tribun.

Kota Cirebon juga terasa dingin banget, tidak seperti biasanya kenapa ya?” kata Arif Fachrudin, pegawai RS Gunung Jati Cirebon.

Sebagian masyarakat menilai cuaca dingin ini dikaitkan dengan fenomena Aphelion, yaitu jarak terjauh Bumi dari Matahari yang terjadi pada awal Juli. Logikanya, semakin jauh Bumi dari Matahari, maka semakin dingin pula cuacanya. Apa benar?

Mulyono R Prabowo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, menepis penjelasan itu.

“Faktanya, penurunan suhu di bulan Juli belakangan ini lebih dominan disebabkan karena dalam beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT kandungan uap di atmosfer cukup sedikit,” katanya.

Menurut Mulyono, rendahnya kandungan uap di atmosfer menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh Bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan.

“Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan,” terangnya.

Selain itu, pada bulan Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin dan sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering.

Embun Es di Dieng?

soal embun es di Dataran Tinggi Dieng, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, menyampaikan bahwa itu lebih disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung.

“Pada saat puncak kemarau, memang umumnya suhu udara lebih dingin dan permukaan bumi lebih kering. Pada kondisi demikian, panas matahari akan lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa. Itu yang menyebabkan suhu udara musim kemarau lebih dingin daripada suhu udara musim hujan. Selain itu kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara,” paparnya.

Dataran tinggi, sambungnya, akan berpeluang untuk mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0 derajat Celsius karena molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang dari pada dataran rendah. Akibatnya, pendinginan akan lebih cepat terjadi.

Situasi ini menyebabkan air embun yang menempel di pucuk daun atau rumput akan segera membeku.

Di Indonesia, beberapa tempat pernah dilaporkan mengalami fenomena ini, yaitu daerah dataran tinggi Dieng, Gunung Semeru dan pegunungan Jayawijaya, Papua,” tambah Herizal.

Jadi cuaca dingin yang melanda Indonesia, tidak ada hubungannya dengan Aphelion karena tidak terlalu signfikan terhadap pengaruh cuaca, kata Thomas Djamaluddin,Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. (kar)

Sumber: bbc Indonesia

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.