Catatan Dari Fase Grup Piala Dunia Rusia

catatan piala dunia

Rusia, hampir separo penduduk bumi matanya tertuju ke negara yang dulunya pusat negara Uni Soviet itu. Bagaimana tidak, negara Vladimir Putin tahun ini telah menghelat even akbar warga kolong langit bertajuk FIFA World Cup 2018 atau di Indonesia akrab dengan kata Piala Dunia.

Bagi pemain bola, bertarung di Piala Dunia adalah gengsi tertinggi dalam capaian karir mereka. Banyak pemain yang ‘baper’ merasa pantas namun tak dipanggil, atau suporter yang kecewa kala negaranya gagal tembus ke ajang itu, sebut saja suporter Belanda dan Italia.

Kini, separuh perjalanan Piala Dunia 2018 telah usai, Fase Grup sukses terlewati. Terukir catatan tentang sebuah perjuangan, drama, mentalitas, hingga kejutan besar.

Orang bijak berkata “selalu ada hikmah dibalik kejadian” pun begitu dengan Piala Dunia, setidaknya secuil catatan itu mengajarkan kita tentang arti sebuah perjuangan.

Bertarung Dengan Hati

Lihatlah bagaimana aksi mengejutkan Meksiko di grup F. Siapa sangka, meski lolos sebagai juara grup di kualifikasi zona Concacaf, tim Sombrero awalnya justeru tidak begitu diunggulkan dibanding juara bertahan Jerman.

Namun bola tetaplah bola, si kulit bundar membalikan prediksi. Armada Juan Carlos Osorio sukses menjadi kampiun di grupnya.

Lalu lihatlah bagaimana tiga wakil asia bertarung. Iran, Korea Selatan dan Jepang. Bak sebuah anomali, ketiganya sukses membalikan prediksi. Korea Selatan berhasil menekuk Jerman, Kolombia dikalahkan Jepang, dan Iran, jika saja tidak dibatasi waktu, kita mungkin tak akan menyaksikan Portugal dan Ronaldo di fase gugur.

Meksiko, Jepang, Korea Selatan dan Iran menjadi tim yang ambisius. Mereka ingin menorehkan prestasi terbaik. Hati mereka seolah hadir dalam setiap cucuran keringat dalam permainan.

Pertarungan keempat tim itu harusnya menyadarkan kita, bila segala yang dikerjakan akan terasa ringan bila hati hadir dalam setiap langkah yang kita perjuangkan.

Beban Orang Hebat

Tuhan memberi cobaan sesuai kemampuan, dalam kontek Piala Dunia, kalimat itu cocok untuk sang mega bintang Lionel Messi.

Betapa tidak, Messi menjadi satu diantara beberapa pemain langka di dunia yang diakui kawan maupun lawan. “He is too good to be true” begitu ungkap Dybala, rekan Messi dan striker Juventus yang tak kalah hebat dalam urusan mencetak gol.

Neymar, bintang Brazil dan salahsatu pemain termahal di dunia bahkan enggan menyandingkan kemampuannya dengan Messi. “saya pemain terbaik di bumi, Ronaldo dan Messi adalah pemain dari Galaksi lain” ungkapnya.

Di Piala Dunia, Messi sudah pasti menjadi andalan utama. Sialnya semua beban Argentina sepertinya tertumpu pada Lelaki 31 tahun itu.

Sepakbola yang sejatinya dimainkan 11 orang tak muncul di skuad Argentina. Lihatlah di dua pertandingan awal, Semua bola tertuju pada Messi, ia membangun serangan, mengumpan dan berusaha mencetak gol.

Sebuah beban yang harus dibayar mahal Albiceleste, ditahan imbang Islandia dan digulung Kroasia tiga gol tanpa balas. Argentina harus lolos dari lubang jarum. Beruntung, pelatih dan rekan Messi mulai sadar. Mereka harus membantu “Sang Messiah” bila tak ingin timnya angkat koper lebih awal.

Kerjasama tim pun terlihat di laga ketiga, saat Argentinan menjalani laga hidup mati kontra Nigeria. Dimaria, Ever Banega, Higuain dan Sederet bintang menunjukan tajinya.

Messi pun gembira golnya dimenit 14′ membuka asa. Meski sempat ditahan lajunya oleh Victor Moses, Marcos Rojo menjadi penentu kemenangan Argentina. Skor 2-1 cukup untuk membawa Albiceleste lolos ke fase berikutnya.

Orang hebat dengan kemampuan mengkilat, itulah Messi. Sederet gelar klub plus lima kali menjadi pemain terbaik dunia ada pada dirinya, kecuali Tropi Piala Dunia.

Ia sadar jadi andalan, ia paham rakyat Argentina rindu tropi juara Piala Dunia, yang hengkang 32 tahun lamanya. Empat tahun lalu ia pun nyaris mendapatkan gelar itu, sayang gol tunggal Gotze menjadi penghalang.

Cobaan pertama fase grup sukses ia lewati, kini yang lebih berat hadir, kala timnya harus menghadapi tim hebat wakil Eropa Prancis.

Sportivitas Mendapat Tempat

Dalam hidup sebagian orang mengesahkan jalan curang untuk mencapai tujuan. Hal itu hilang atau setidaknya berkurang di Piala Dunia Rusia.

Video Assistance Referee (VAR) menjadi mata tambahan untuk sang pengadil di lapangan.

Efeknya jumlah penalti di gelaran kali ini meningkat tajam, produktivitas gol pun tentu bertambah.

Tangan tuhan mustahil terjadi lagi, Neymar yang mencoba curang dengan aksi diving pun harus malu, karena maunya tak dituruti wasit.

Grup H menjadi contoh, dimana Fairplay akhirnya memenangkan Jepang, meski kalah laga terakhir oleh Polandia. (red)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.