Cara Warga Baduy Atasi Keterbatasan Lahan, Beli Tanah di Luar Desa Adat

Warga Baduy
Sebagian warga Baduy bersama keluarga naik di atas angkot menuju tanah ladang yang mereka beli di luar desa adat ((foto- Nur.H-BantenTribun)

Tanah Adat tak boleh dan tak bisa bertambah. Sebagian adalah hutan tutupan, tapi jumlah penduduk terus berkembang. Namun, warga Baduy telah mencari solusinya sendiri.

BantenTribun.id– Membeli tanah warga diluar desa adat merupakan solusi. Itu sebabnya saat pagi, banyak warga Baduy yang terlihat bergegas keluar desa untuk berkebun. Bahkan ada yang harus naik diatas angkot untuk menuju lahan yang agak jauh dari desa mereka.

Tak bisa dipungkiri, pertumbuhan jumlah penduduk di Baduy dalam satu dasawarsa meningkat cukup signifikan.

Merekapun mencari solusi untuk atasi persoalan tersebut. Cara jitu yang telah mereka lakukan adalah menguasai banyak lahan tanah di luar wilayah adat dengan membeli dari pemilik lahan yang dirasa tidak produktif. Atau ada juga yang pinjam pakai dengan cara bagi hasil.

Lahan yang mereka beli atau pinjam pakai digunakan sebagai lahan bertani dan berkebun untuk keperluan penghasilan mereka.

Ada juga yang tetap tinggal dan bermukim sementara di lahan tersebut untuk waktu tertentu dengan membawa serta keluarga.

Jumlah Penduduk Baduy tahun 2020 yang terpampang di balai desa atau kediaman Jaro Pamarentah Adat Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, saat ini mencapai sekitar 14.500 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 4534 KK, yang mendiami wilayah adat seluas 5130.8 Ha.

Wilayah adat ini tak pernah dan tak boleh bertambah sesuai aturan adat. Dari luas wilayah adat itu, sebagian tetap menjadi hutan tutupan (larangan) yang tak boleh dijadikan ladang pertanian atau kebun.

Sebagian lagi untuk perkebunan dan permukiman warga Baduy Luar (Panamping) sejumlah 58 kampung. Sementara Baduy Dalam (Tangtu), tetap berjumlah tiga kampung sejak dulu.

Hal tersebut bisa menjadi masalah serius yang akan terjadi di masa datang bila tak disikapi sejak dini.

Penguasaan lahan di luar wilayah adat Baduy, mereka gunakan untuk bercocok tanam sebagai alternatif terkait keterbatasan lahan yang mereka olah di wilayah adat.

Adapun lahan atau tanah yang saat ini telah mereka kuasai dengan cara membeli di luar wilayah adat, tersebar di hampir delapan kecamatan sekitar Desa Adat Kanekes.

warga baduy
Panen Kadu atau duren merupakan komoditas yang cukup menjanjikan secara ekonomis (foto Nur.H/BantenTribun)

“Sudah ada di delapan kecamatan sekitar Baduy yang saat ini dikuasi oleh warga Baduy” ungkap Sarip (60) warga Kampung Kaduketug, Baduy Luar.

“Meskipun banyak warga Baduy yang bercocok tanam diluar wilayah adat, namun tak serta merta mereka melupakan cara bertanam ala adat Baduy, misalnya tanpa menggunakan pupuk dan tanpa bantuan alat pertanian modern, supaya tidak merusak tanah” sambung Sarip.

Hal penguasaan lahan di luar Baduy dipertegas oleh Musung bin Taslim(38), ayah dua orang anak warga Kampung Gajeboh, Baduy Luar.

Ia menunjukkan bukti jual beli dan pembayaran PBB milikinya yang luasnya mencapai dua hektar dari beberapa petak tanah.

“Ini PBB dan sertifikatnya, nya, Pak” kata Musung sambil menunjukkan bukti kepemilikan dari pembelian lahan di luar Baduy.

warga baduy
PBB dan sertifikat milik warga Baduy yang mereka beli dari warga luar desa adat (foto Nur.H/BantenTribun)

“Kalau dijumlah seluruh luasnya lahan yang dikuasai warga Baduy bisa lebih luas dari pada wilayah adat” sambung Musung.

Membeli tanah diluar desa adat oleh warga Baduy sejatinya merupakan investasi yang mereka lakukan selain membeli emas.

Ini mereka dapatkan dari mengumpulkan uang dari hasil berkebun dan bertani yang terus rutin sepanjang tahun. Misalnya hasil saat musim kadu atau durian, disambung musim dukuh dan kuranji.

Belum lagi musim panen jahe merah, cikur atau kencur.  Panen Cau atau pisang yang nyaris terjadi setiap saat.

Kehidupan yang tak konsumtif, misal makan sederhana dan secukupnya, tidak bayar listrik, tidak bayar angsuran dan sebagainya menjadikan beli tanah dan emas adalah solusi menabung yang cerdas.

“Kami mah gak makan yang macam-macam, gak bayar listrik, gak bayar angsuran motor atau mobil, gak beli macam-macam perabotan rumah tangga, makanya belinya tanah dan emas” ungkap Sarip.

Saat Anda berkunjung ke Baduy, bila melihat ladang yang ditanam padi tanpa butuh irigasi di sisi jalan, atau warga Baduy yang naik di atas angkot saat pagi, itulah mereka saat menuju lahan di luar desa adat yang mereka miliki.* (Nur.H)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.