Butuh Obat Kuat? Cobalah Yarsagumba Himalaya

 

Yarsagumba, obat kuat dari himalaya@bbc
Yarsagumba, obat kuat dari himalaya@bbc.

 

Namanya Yarsagumba, sejenis jamur ulat yang juga dikenal sebagai ‘obat kuat’ dari Himalaya. Yarsagumba merupakan ‘tambang emas’ bagi penduduk setempat karena harganya harganya fantastis.

BantenTribun.id – Mendengar Himalaya, yang langsung tergambar adalah pegunungan dengan puncak Everest. Puncak gunung yang jadi destinasi impian bagi pendaki. Namun, bagi penduduk setempat, pegunungan Himalaya menjadi ‘tambang emas’ berupa yarsagumba.

Yarsagumba, dalam bahasa Tibet memiliki arti ‘rumput musim panas, ulat musim dingin’. Tanaman unik ini terbentuk saat larva ngengat yang hidup dalam tanah, terinfeksi spora jamur parasit Ophiocordyceps sinensis.

Saat terinfeksi dan mati, tubuh ulat itu akan mengeras sementara di bagian kepalanya, tumbuh jamur berwarna coklat berbentuk pipih. Secara fisik, bentuk yarsagumba cukup unik, berupa batang cokelat kekuningan seukuran korek api yang mencuat dari dalam tanah.

Lokasi tumbuhnya pun sangat sulit dijangkau. Yarsagumba hanya ditemukan di wilayah bertanah lembab di ketinggian 3000-5000 meter di atas permukaan laut. Jamur unik ini umumnya tumbuh sekitar bulan Mei dan Juni, di awal musim panas.

Penduduk setempat percaya, yarsagumba adalah ‘obat ajaib’, yang berkhasiat menyembuhkan penyakit, dari asma hingga kanker. Namun, salah satu khasiat yarsagumba yang paling dikenal adalah sebagai obat kuat. Tidak heran, bila kemudian yarsagumba dikenal dengan nama ‘obat kuat dari Himalaya’.

Melansir laman bbc, harga satu kilogram yarsagumba dibanderol US$100.000 atau setara Rp1,4 miliar di pasar internasional, seperti Cina, Korea, Thailand, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Harga yang fantastis itu lah yang membuat warga desa di lereng Himalaya relamempertaruhkan nyawa demi mencari yarsagumba. Cuaca dingin dan longsor saljuadalah ancaman terbesar bagi para pencari obat kuat ini.

Penduduk Tibet mencari yarsagumba di ketinggian 3000-5000 meter di lereng pegunungan Himalaya@bbc
Penduduk Tibet mencari yarsagumba di ketinggian 3000-5000 meter di lereng pegunungan Himalaya@bbc

“Kadang kami kehujanan dan kedinginan. Selain itu, longsor salju bisa datang mendadak,” ujarnya. “Jika longsornya besar, kami bisa terhempas ke jurang.” kata Sita Gurung, kepada laman itu.

Satu buah yarsagumba seukuran batang korek api, dijual seharga US$3,50 – 4,50 atau setara Rp50.000-65.000. Namun, saat sudah diekspor dan sampai ke pasar internasional harganya melonjak berkali-kali lipat. Satu gramnya, dibanderol dengan harga US$100 (Rp1,4 juta).

Warga yang terus-menerus mencabuti yarsagumba dari lereng Himalaya dan pengaruh pemanasan global, membuat jamur unik ini semakin langka.

“Biasanya sehari kita bisa menemukan 100 yarsagumba, namun sekarang paling banyak hanya 20 buah. Bahkan, ada kalanya kami tidak menemukan yarsagumba sama sekali,” keluh Sita.

Padahal, yarsagumba merupakan sumber pemasukan terbesar bagi warga setempat.

“Karena yarsagumba saya bisa membeli baju baru. Bisa punya uang untuk pergi ke Kathmandu, dan yang terpenting berkat yarsagumba, saya bisa mandiri secara finansial,” kata Sita.(red)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.