Bukan Hanya Manusia, Kakao Juga Perlu Masker

Kakao (Theobroma Cacao) ternyata sama dengan manusia, perlu masker untuk menjaga kualitas hidupnya.

Bagi Kakao, Masker dipasang pada buah yang baru ‘tukul’ untuk menjaga mereka dari serangan hama yang merugikan.

kakao

BantenTribun.id- Dimasa pandemi manusia harus patuh terhadap protokol kesehatan. Penggunaan masker menjadi satu dari beberaa protokol itu, gunanya agar infeksi dan penyebaran Covid 19 bisa dihindari.

Jauh sebelum pandemi terjadi, tanaman Kakao ternyata sudah memiliki protokol kesehatan sendiri. Termasuk memakai masker.

Pentingya penggunaan masker pada buah Kakao bukan untuk melindungi dari Covid, tapi mencegah penyakit Penggerek Buah Kakao (PBK).

“PBK sangat berbahaya bagi produksi. Ia membuat buah menjadi kerdil serta bercak hitam kecoklatan, itu bakal menurunkan kualitas bahkan produksi.” Tulis Haryanto, Penyuluh Pertanian Bantaeng, dalam platform Cyber Extention.

Senada dengan Haryanto. Penggerak Regu Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (RPO) Gorontalo, Slamet mengatakan, Jika buah buah binaan perkebunan tidak dipakaikan masker maka PBK akan masuk dan bisa rusak.

“Nanti kalau rusak sakit, kita juga sakit jadi sakit semua.” Ungkapnya ada Sinartani.

“Buahnya perlu dipakaikan masker atau disarung, karena larva PBK bisa masuk dan membuat biji buah rusak. Itu sangat merugikan petani.” Ungkap Gusti, pendamping RPO Gorontalo.

Gusti juga menjelaskan, bila buah Kakao dipakaikan masker atau disarungisasi, maka penurunan produksi hingga 70 persen bisa dicegah.

“Masker atau sarungisasi dipasang pada buah masih pentil, kurang lebi 8 cm. Alatnya sederahan, hanya karet gelang, pipa dan plasitk. Masker atau sarungisasi efektif cegah imago PBK menempelkan telur di kulit buah. Jadi larva ngga masuk.” Jelas Gusti.

Lebih lanjut menurut gusti, selain memasangkan masker pada buah, protokol kesehatan penanganan hama dan penyakit Kakao sebenarnya masih banyak.

“Pemakaian masker atau sarungisasi buah hanya satu komponen dari Pengendalian Hama Terpadu. Metode ini cenderung lebih alami dibanding menggunakan pestisida.” Jelasnya.

Sementara menurut Slamet, pemakaian masker pada buah tanaman perkebunan itu bisa memperbaiki produksi.

“1 hektar lahan bisa menghasilkan 1 ton kakao. Sedangkan harganya kini sedang bagus, sekiar Rp 38 ribu per kilogram (biji fermentasi). Jika bijinya bagus karena disarung maka petani bakal lebi untung.” Pungkasnya. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.