Bukan Hanya Indonesia, Negara Ini Juga Menggunakan Televisi dan Radio Sebagai Media Belajar bagi Murid Sekolah Di Masa Pandemi

radio sebagai media belajar
Diana Lopez saat mengisi acara radio sebagai media belajar bagi murid SD di Funza Kolombia (Foto AP / Fernando Fergara)

BantenTribun.id- Memenuhi kebutuhan dasar di bidang pendidikan menjadi tanggung jawab pemerintah di setiap negara.

Meksi dunia saat ini tengah menghadapi pandemi Covid-19, kebutuhan belajar peserta didik harus terus berlanjut.

Di Indonesia, pandemi Covid-19 juga telah memaksa pemerintah menutup semua sekolah, alhasil kegiatan belajar-mengajar pun digelar di rumah.

Bagi sebagian besar warga, terutama mereka yang berada di daerah terpencil atau tanpa akses internet, belajar di rumah bukanlah hal yang mudah.

Murid-murid sekolah di wilayah semacam itu harus berjalan berkilo-kilo meter demi secercah sinyal internet.

Bagi warga yang tinggal di perkotaan, atau daerah memiliki akses internet, murid sekolah juga dihadapkan pada kendala lain.

Adanya biaya tambahan yang harus dikeluarkan keluarga untuk membeli kuota atau memasang dan membayar internet berlangganan, menambah berat beban ekonomi yang telah terpuruk karena Corona

Menteri Pendidikan Nadiem Makariem pun beraksi, bekerjasama dengan TVRI, anak-anak di level pendidikan dasar dan menengah bisa belajar lewat televisi nasional itu.

Kini cara belajar anak dengan media televisi sudah berjalan berbulan-bulan, meski belum terlihat sejauhmana efektivitas dan pengaruh pola belajar seperti itu pada perkembangan anak.

Radio Sebagai Media Belajar

Belajar dengan media televisi bahkan radio ternyata bukan hanya berlaku di Indonesia.

Dalam sebuah artikel, APNews mengulas tentang bagaimana perjuangan anak-anak sekolah di Amerika Selatan belajar di rumah saat pandemi.

Di Kolombia – selain televisi – radio juga menjadi salahsatu media pembelajaran bagi anak selam di rumah.

Bukan tanpa alasan, kesulitan ekonomi dan masih banyaknya keluarga miskin yang tak punya akses pada televisi membuat negara itu memanfaatkan radio sebagai media belajar.

Untungnya, belajar lewat siaran radio pernah digunakan secara luas di Amerika Latin untuk mengajarkan matematika dan baca tulis (calistung) untuk orang yang tinggal di pedesaan.

Diana Lopez seorang guru yang membantu memproduksi acara radio harian siswa sekolah dasar di kota Funza Kolombia menyatakan dari 10 ribu murid sekolah di kota itu, sepertiganya tidak memiliki komputer dan akses internet.

“Pelajaran radio memberi anak-anak ruang untuk mengembangkan keterampilan membaca dan menulis dan juga menunjukkan kepada mereka bahwa guru mereka masih bersama mereka,” kata Lopez pada APNews

Bukan hanya Kolombia, negara seperti Haiti, Kuba, Ekuador dan Cili juga melakukan hal yang sama, mereka menggunakan televisi dan radio sebagai media belajar bagi murid-murid sekolah.

Cili bahkan membuat podcast harian bernama Teach For All yang ditayangkan di lebih 200 radio dengan durasi 30 menit dalam sehari.

“Dengan sekolah ditutup, sangat sulit bagi kami untuk mengetahui seberapa banyak anak-anak belajar,” kata Tomas Recart, direktur Enseña Chile, afiliasi Teach for All yang mendukung program radio

Murid-murid sekola di Cili sebenarnya lebih beruntung, karena ketersediaan akses internet di negara itu merupakan salasatu yang terbaik di Amerika Selatan.

Menurut Interamerican Development Bank, ketersediaan akses internet di pedesaan untuk negara-negara seperti Kolombia, Meksiko dan Peru ternyata kurang dari 40 persen.

Sama seperti di Indonesia, selain lewat televisi dan radio, banyak juga guru di Amerika Selatan yang mendatangi langsung murid-muridnya di rumah, untuk memastikan mereka tetap belajar. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.