BPOM Cabut Ijin Edar Obat Albothyl

BPOM mencabut ijin edar Albothyl@okezone
BPOM mencabut ijin edar Albothyl@okezone

Badan Pengawas Obat Dan Makanan (BPOM) telah mencabut izin edar obat Albothyl, karena mempunyai efek samping membahayakan. Namun, hingga saat ini obat yang kerap digunakan untuk obat sariawan ini dikhawatirkan  masih banyak  beredar.Masyarakat diminta stop penggunaan obat ini. YLKI menilai seharusnya kasus penarikan Albothyl tersebut tidak terjadi, karena BPOM melakukan berbagai proses uji.

Banten Tribun.id – Obat  Albothyl saat ini  masih banyak ditemukan di pasaran. BPOM mengimbau kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi Albothyl.

Berdasarkan hasil rapat pengkajian aspek keamanan BPOM, diketahui kandungan policresulen cairan obat luar konsentrat 36 persen itu tidak direkomendasikan kembali.

Dalam penjelasannya  di laman BPOM, dijelaskan risiko yang ditanggung tidak sesuai dengan manfaat yang ditawarkan dari produk tersebut. Seperti diketahui, Albothyl selain untuk pembersih daerah kewanitaan, juga diklaim dapat langsung menyembuhkan penyakit sariawan pada mulut.

“Terkait dengan keamanannya, ada infeksi serius penggunaannya yang menyebabkan sariawan yang makin melebar, oleh karena itu terkait perlindungan kesehatan masyarakat, maka kami perintahkan untuk tidak lagi diproduksi. Kemudian ditarik kembali dari peredaran. Selain itu juga harus melaporkan kepada BPOM segera setelah penarikan ini,” ucap Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat Rita Endang.

BPOM Dinilai Kecolongan Soal Uji Obat

Dilansir dari laman Tirto, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dinilai kecolongan oleh YLKI dalam kasus Albothyl yang telah dibekukan izin edarnya. Pasalnya, semua izin edar obat didaftarkan di BPOM sebelum dipasarkan.

“Semua jenis dan merek obat harus didaftarkan terlebih dahulu ke BPOM sebelum diproduksi dan diedarkan. Proses itu melalui berbagai uji yang dilakukan BPOM,” kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi di Jakarta, Sabtu (17/2/2018), seperti dikutip laman tersebut.

Kejadian itu,  menurut Tulus, menunjukkan bahwa BPOM, belum melakukan pengawasan secara ketat terhadap obat dan makanan.

“Berbeda dalam masalah kehalalan suatu obat atau makanan yang bisa saja disalahgunakan setelah didaftarkan ke BPOM,” tuturnya.

Selain menyoroti pengawasan BPOM, Tulus juga menilai bisa jadi permasalahan yang dialami PT Pharos Indonesia, pembuat Albothyl, ada unsur persaingan usaha yang tidak sehat.

Oleh karena itu, BPOM juga harus memeriksa kembali merek obat dari pembuat lainnya serta melakukan pengawasan pascaedar secara lebih ketat dan serius.

“Jangan sampai BPOM terjebak irama gendang produsen untuk persaingan usaha yang tidak sehat,” ujarnya.

BPOM membekukan izin edar Albothyl yang selama ini biasa digunakan sebagai antiseptik dan obat sariawan.

Albothyl merupakan obat bebas terbatas berupa cairan obat luar yang mengandung policresulen konsentrat dan digunakan hemostatik dan antiseptik saat pembedahan, serta penggunaan pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan (THT), sariawan, gigi, dan vaginal (ginekologi).

BPOM  telah menginstruksikan PT Pharos Indonesia untuk menarik obat dari peredaran selambat-lambatnya satu bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar, 15/2/2018 kemarin.

Dalam keterangan persnya, pihak PT Pharos Indonesia telah menyatakan akan segera menarik Albothyl dari peredaran di seluruh Indonesia.(red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.