Berburu Kroto Liar Sebelum Lebat Hujan Mengejar

Kroto liar, sebutan telur semut rangrang yang hidup dipepohonan atau bukan hasil budidaya, memang banyak diburu. Tampilan kroto yang mirip butiran nasi ini banyak mengandung nutrisi banyak  dijadikan pakan burung kicau dan campuran umpan mancing.

Memburu Kroto liar biasanya  melimpah sekitar bulan September hingga Januari. Namun, periode ini juga dibarengi dengan musim hujan bercurah lebat.

Berburu larva dan pupa dari serangga kecil “bertemperamen galak”dibulan ini, terpaksa harus berkejaran dengan turunnya hujan lebat.

 

Dengan menggunakan galah bambu, Enap berburu kroto liar (foto-BantenTribun)

Pandeglang,BantenTribun.id—Berbekal dua galah bambu panjang berbeda ukuran, Enap (35), Narji (17) dan Toni (29), warga Kampung Cikole Kelurahan Kabayan, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang ini terus menyusuri jalan menatap pepohonan.

Targetnya, tentu saja sarang semut Rangrang, semut merah berukuran besar. Sarang koloni serangga ini juga dikenal galak, namun menyimpan berkah ratusan ribu rupiah, setidaknya bagi mereka.

Ujung galah bambu kecil sepanjang 4-5 meter itu, terpasang corong berbentuk kerucut terbungkus kain. Alat inilah yang digunakan untuk mengambil “kroto” atau telur semut berbentuk seperti butiran nasi.

“ Ngambilnya harus cepat sebelum hujan pak.   Kalau keburu hujan, selain sulit diambil, juga kualitas krotonya jadi jelek karena basah. Harganya juga jadi lebih murah,” terang Enap, kepada BantenTribun, Jumat, 2 Oktober 2020.

Meskipun hanya pekerjaan sampingan, Enap mengaku, jika beruntung dalam sehari ia bisa mendapatkan 3 sampai 4 kg kroto.  Dengan harga jual berkisar Rp 15 ribu sampai Rp20 ribu per ons atau setara Rp150 sampai Rp 200 ribu perkilonya, mereka bisa mendapatkan sedikitnya Rp300 samapai Rp600 ribu.

“Nyari kroto tidak bisa sendirian, minimal harus berdua pak. Kalau sudah jualnya took pakan ternak atau penangkaran burung banyak yang nrima.

Harga kroto biasanya diterima pedagang sekitar 15 sampai 20 ribu per onc, ” terangnya.

Menurut Enap, kroto liar berukuran besar hasil buruannya, lebih disukai para penangkar atau pemilik burung kicau. Sedangkan yang berukuran kecil, selain lebih mahal, juga lebih banyak digemari pedagang pakan ternak atau pedagang perlengkapan memancing.

Ukuran sebutir kroto besar sekitar 1 cm dengan diameter 5 mm. Adapun panjang kroto kecil sekitar 5-6 mm dengan diameter 2 mm.

Kroto yang  dihasilkan oleh “Ratu Semut Rangrang” dan selalu dilindungi dengan ketat oleh para semut pekerja ini biasanya terletak di dalam gulungan daun pohon.

Kroto liar yang didapat, sebelum dipilah berdasar ukuran (foto-BantenTribun)

“Dipohon apa saja, tapi semut rangrang lebih banyak dan lebih suka pohon jengkol,” jelas Toni.

Periode bulan September hingga Januari, produksi kroto liar menurut mereka biasanya lebih melimpah. Namun periode bulan ini juga berbarengan dengan musim hujan, dan bisa menyulitkan perburuan.

“Ya lumayanlah pak buat nambah-nambah kebutuhan dapur. Dalam seminggu biasanya hanya  2 kali kami mencari kroto,” kata Enap.

“Namanya endog sireum. Kata orang lain mah Kroto. Sekarang baru dapat 2 kiloan mah, ukuran besar dan kecil. Soal digigit semut rangrang ini mah sudah biasa,” imbuh Toni.

Jadi, Kroto besar  yang biasanya calon ratu semut, atau kroto  halus, calon semut betina, semut prajurit, atau semut pekerja, tetap punya harga.

Yang pasti, berburu kroto liar juga bergegas dari kejaran lebat hujan. Hasil kerja sampingan untuk nutup biaya makan dan  kebutuhan, meski dibayar dengan gigitan.*(kar).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.