Ayam Kampung Goreng Teh Yanti, Empuk Daging dan Bumbu Rempahnya Tak Terganti

Rumah makannya di kenal dengan “Ayam Goreng Teh Yanti PLN”, karena menu inilah yang membesarkannya. Daging ayam kampungnya empuk, racikan bumbu rempahnya juga tidak tergantikan.

Pembelinya juga  ngantri. Selain rasanya nempel di hati, Teh Yanti juga selalu konsisten menjaga racikan resep bumbu dan jumlah produksi. Soal omzet? Bisa Rp10 juta, hanya dalam setengah hari.

ayam kampung goreng teh yanti
Teh Yanti, mengemas ayam kampung goreng pesanan pembeli (foto-BantenTribun)

Pandeglang,BantenTribun.id–Di rumah makan ini, tidak banyak varian menu yang disajikan. Ayam kampung goreng berlamur racikan rempah, lalapan daun singkong rebus dicampur daun kedondong cina, dan sambel mentah dadakan yang pedas namun segar, menjadi trade mark yang membedakan dari goreng ayam lainnya.

“Rumah makan Ayam Goreng Teh Yanti PLN”, memang cukup dikenal di sekitar Kota Pandeglang. Letaknya di Kampung Curug Sawer Kecamatan Pandeglang , atau  depan Kantor PLN Pandeglang.

Lokasi yang cukup strategis, plus konsistensi rasa ayam gorengnya yang empuk diselimuti bumbu rempah, menjadikan rumah makan ini mampu berkibar memasuki dua dasawarsa.

“Sudah berjalan 20 tahun membuka usaha ayam goreng ini. Awalnya Ibu saya. Kalau saya melanjutkan dan sudah hampir 11 tahun,” terang Yudiyanti (35 ), pemilik sekaligus chef koki.

Rumah makan ini hanya beroperasi di hari kerja perkantoran, Senin sampai Jumat, mulai pukul 8.30 sampai pukul 2 siang.

Tapi jangan kaget,  jika pingin mencecap dan menikmati empuknya ayam kampung goreng Teh Yanti, disarankan sebaiknya bertandang sebelum jam makan siang pegawai perkantoran. Sebab pada jam makan ini, selain harus bersiap ngantri, juga sering kehabisan.

“Ayam goreng seringnya sudah habis jam makan siang atau sekitar jam 1-an, karena pelanggan kami kebanyakan pegawai perkantoran. Makanya rumah makan ini hanya buka di hari kerja,” jelas Teh Yanti, ibu 2 anak ini kepada BantenTribun.

Rupanya, banyak pelanggannya ayam goreng ini yang memesan alias order lebih dulu untuk menghindari antrian atau kecewa karena habis tak kebagian.

Teh Yanti, menghadapi 3 wajan penggorengan setiap hari, demi pelanggan ayam gorengnya( foto-BantenTribun)

“Banyak juga yang pesen dulu lewat telepon.” ucap Yanti.

Meskipun ayam gorengnya kerap habis hanya dalam setengah hari, Ia tidak tertarik untuk menambah jumlah produksinya.

“Cukup 80 ekor, tidak perlu nambah. Untuk jumlah sebanyak itu saja perlu waktu 7 jam dari mulai mengolah dan meracik bumbu sampai siap digoreng, ” jelas Yanti.

“Selain makan ditempat, banyak juga pelanggan yang membungkus untuk dimakan dirumah,” imbuhnya.

Menurut Teh Yanti, panggilan Yudiyanti, dalam sehari ia menghabiskan 80 ekor ayam atau 320 potong untuk ukuran besar, atau 4 potongan per ekor. Harga sepotong ayam gorengnya dibandrol Rp25 ribu dan Rp20 untuk porsi kecil.

Rupanya Yanti tidak ngoyo atau memaksakan diri menambah porsi meskipun ayam kampung gorengnya laris ludes dalam setengah hari.

Alhamdulillah, cukup segitu juga pak. Lumayan capek, yang masaknya kan ibu dan suami,” kata Yanti, istri dari Heri Masnun, pegawai honorer salah satu OPD di Provinsi Banten.

Dengan porsi yang konstan, plus ati -ampela dan tahu-tempe goreng, Teh Yanti mampu meraih omzet  sekitar Rp10 juta perhari, hanya dalam setengah hari.

Empuknikmatnya ayam kampung goreng Teh Yanti memang patut dicoba. Empuk- enaknya meraup omzet perhari, juga menggoda dan  boleh dicoba jika berani. Yang pasti, jika gemar ayam goreng, silahkan cari Teh Yanti PLN.*(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.