Asyiknya Cuci Pakaian di Sungai Belakang Kantor Wali Kota Serang

Sekumpulan emak-emak ini terlihat tetap asyik cuci pakaian di sungai. Entah disadari atau tidak, aliran air di sungai selebar tiga meter itu dipastikan mengandung limbah dari buangan rumah tangga, bahkan pipa buangan air dari peturasan kantor walikota pun mengalir ke sungai ini.

cuci pakaian di sungai
Emak-emak nampak asyiknya mencuci pakaian di sungai kecil di bawah rel KA belakang Kantor Walikota Serang (foto Nur.H/BantenTribun)

Serang,BantenTribun.id- Setiap pagi, sedikitnya lima atau tujuh perempuan terlihat cuci pakaian di sungai kecil tepat di belakang kantor Walikota Serang di bilangan Kota Serang Baru atau Highland Park. Cipocok Jaya. Aktifitas ini biasanya dimulai selepas pukul 6.30 pagi.

Perempuan – perempuan yang kadang membawa anak dan dibantu suami adalah warga Kampung Cengkok, Kelurahan Banjar Agung, Kecamatan Cipocok Jaya.

Kampung mereka berada sekitar 200 meter diantara Kantor Walikota dan DPRD Kota Serang, juga tak jauh dari rumah Wakil Walikota Serang

Aktivitas rutin cuci pakaian di sungai kecil yang airnya tak melebihi tinggi lutut orang dewasa, yang tepat berada di bawah rel KA ini rupanya sudah berlangsung sejak dulu. Sejak kawasan ini masih berupa hamparan sawah dan kebun, jauh sebelum keberadaan komplek perumahan, tempat dimana kantor walikota Serang berdiri.

“Sudah sejak dulu, Pak,” ujar seorang perempuan yang sedang asik mencuci pakaian, “Sejak saya lahir sampai seumur sekarang kalau nyuci baju, yah, disini” sambung perempuan berusia sekitar 55 tahun itu.

Rutinitas bebersih pakaian tersebut dirasakan mereka sangat asyik. Mereka bisa sambil bercengkerama atau saling bercerita soal apapun yang mereka ketahui, termasuk soal kondisi dapur. Terlebih aktivitas tersebut dirasa irit, karena tak perlu memikirkan duit pengeluaran bayar beban listrik.

Melintas di jalur rel KA sebelum mencuci di sungai (foto Nur.H/BantenTribun)

“Enak disini, Kang, bisa sambil ngobrol. Kadang urusan dapur diomongin,” saut perempuan paruh baya yang juga sedang mencuci pakaian.

”Lagian disini murah, gak perlu mikirin bayar  bulanan listrik, airnya tetap ngalir” sambungnya, sambil tertawa kecil.

Entah disadari atau tidak oleh mereka, aliran air di sungai selebar tiga meter itu dipastikan mengandung limbah dari buangan rumah tangga, bahkan pipa buangan air dari peturasan kantor walikota pun mengalir ke sungai kecil itu. Namun kondisi tersebut tak dirasakan oleh mereka.

Saat musim penghujan, air sungai terlihat agak penuh, meski tak bening. Namun saat musim kemarau, air sungai mendangkal, kadang hanya berupa aliran kecil dibawah lutut dan cenderung keruh.

Kondisi seperti itu rupanya tak menyurutkan rutinitas tersebut. Malah terkadang diikuti oleh anak-anak yang sambil ikut bermain di aliran sungai dangkal itu.

Penyusuran Banten Tribun.id, sungai kecil ini mengaliri air limbah rumah tangga dari banyak komplek perumahan di atasnya, misalnya, komplek Permata Hijau dan komplek Kelapa Gading yang berada di sekitar kawasan perumahan KSB, Perumahan Serang Hijau, juga perumahan Citra Gading dan permukiman warga di kampung-kampung sekitar komplek perumahan.

Dipastikan setiap pagi warga komplek perumahan tersebut melakukan aktivitas mandi, cuci dan buang air kecil setiap pagi yang limbahnya mengalir ke sungai kecil itu.

Entah sampai kapan ke-asyikan penuh resiko itu terus berlangsung, tak ada solusi, kah?(Nur. H)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.