Asal Mula Nama Kampung Kadukaweng, Ternyata Berawal Dari Pohon Tinggi Menjulang

Salah satu sudt pandang Kampung Kadukaweng Kaduhejo Pandeglang (foto-Enceng-BantenTribun)

Perkampungan di Desa Sukasari Kecamatan Kaduhejo Pandeglang ini juga dikenal terdapat Pondok Pesantren Riyadlul Alfiyah. Sebuah Ponpes yang didirikan oleh  ulama besar dan kharismatik, Abuya Mama Sanja. Namun, banyak yang belum tahu asal mula penamaan Kadukaweng untuk kampung ini. Kadukaweng, ternyata berasal dari sebuah pohon yang menjulang tinggi. 

BantenTribun.id-Kampung Kadukaweng, termasuk dalam wilayah Desa Sukasari Kecamatan Kaduhejo Kabupaten Pandeglang. Di Kampung ini, terdapat Pondok Pesantren  Riyadlul Alfiyah, yang didirikan Ulama besar dan Kharismatik, Abuya Mama Sanja.

Namun, banyak yang belum mengetahui asal -usul kampung ini hingga dinamai Kadukaweng.

Pimpinan Sanggar Seni, Pamanah Rasa Kaduhejo, Enceng Tiswara Jatnika, menceritakan asal mula penamaan Kampung Kadukaweng, berdasar cerita rakyat yang berhasil ditelusuri dan dihimpunnya.

“ Kadukaweng, masih terkait dengan cerita rakyat Ki Buyut Jalu, yang melahirkan nama Rokoy sebagai Kampung di Kaduhejo,” ungkap Enceng, yang juga seorang guru SMP Negeri 1 Kaduhejo, kepada BantenTribun.

Menurutnya, Kadukaweng terkait dengan cerita rakyat Kampung Rokoy. Dalam  cerita Ki Buyut Jalu. dikisahkan seorang pengembara dari Gajrug bernama Ki Somang Jaya yang menikahi seorang gadis yang bernama Nyi Asnapati dan menetap di kampung yang sekarang bernama Kampung Rokoy.

Nyi Asnapati mempunyai seorang adik perempuan yang memiliki paras sangat cantik bernama Mayang Sari. Kulitnya putih  bersih dan memiliki rambut yang panjangnya sampai menyentuh tanah.

Selain kecantikan yang dimilikinya, Mayang Sari mempunyai ilmu kanuragan dan ilmu agama yang mumpuni, hal ini tidaklah mengherankan karena dia mendapat tempaan kakak iparnya Ki Somang Jaya.

Sepeninggal Ki Somang Jaya yang melanjutkan pengembaraannya, Nyi Asnapati  dan putra-putrinya serta Mayang Sari tetap membimbing warga yang belajar ilmu agama sebagaimana yang diamanatkan Ki Somang sebelumnya.

Suatu hari, saat suasana rumah sepi, Nyi Asnapati memanggil adiknya Mayang Sari. Ia mengemukakan isi hatinya yang selama ini dipendam, yakni berkeinginan pindah dari kampung tempat tinggalnya sekarang untuk menyepi dan menenangkan diri.

Mayang Sari merasa keberatan dengan apa yang disampaikan kakaknya, karena selama ini merasa dirinyalah yang lebih pantas untuk pindah dan tidak lagi hidupnya bergantung kepada kakaknya yang telah dibebani dirinya.

Perdebatan pun terjadi di antara mereka. Nyi Asnapati dengan bijak akhirnya mengalah dan menyepakati bahwa adiknya  yang akan pindah tetapi dengan syarat.

“Saya ijinkan Nyai pindah dengan satu syarat, kakak ingin Nyai terlebih dahulu menikah.” Mayang Sari mengangguk sebagai tanda setuju dengan syarat yang diajukan kakaknya, meski dalam hatinya tetap berkecamuk tak menentu, karena sebenarnya ia belum menemukan calon pendamping yang cocok. Setalah dirasa cukup Mayang Sari pun pamit untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.

Suatu saat, Mayang Sari terlihat menyendiri di bukit yang tidak terlalu tinggi di pinggiran kampung. Matanya yang indah memandang ke seklilingnya. Sebelah utara nampak Gunung Karang terlihat gagah bak benteng berdiri kokoh. Di sebelah barat, Gunung Pulosari sedikit berselimut kabut berhias awan di atasnya memancarkan keindahan alam luar biasa bak lukisan bukti kuasa Illahi.

Angin semilir menerpa dedaunan, kicau burung bersahutan nampak riang di tengah rimbunnya pepohonan. Di sekitar bukit tumbuh subur pohon rangdu berpadu dengan jenis pohon lainnya, ( kelak tempat tersebut akan menjadi sebuah kampung kecil bernama Pasir Rangdu).

Saat Mayang Sari memalingkan pandangan ke arah selatan tampak hamparan sawah luas membentang berselang dengan kebun-kebun yang masih rimbun.

Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah pohon yang sangat mencolok jauh berbeda dengan pohon yang ada di sekeilingnya, pohon tersebut tumbuh sangat tinggi menjulang jauh melebihi pohon pada umumnya.

Karena merasa penasaran, Mayang Sari bermaksud mendekatinya. Tapi baru beberapa meter melangkahkan kaki, dia dikejutkan dengan teriakan beberapa orang warga kampung yang datang dari arah belakang.

Kebo edan…kebo edan…awas aya kebo edan.! “teriak warga.

Mayang Sari membalikkan badanya menengok ke arah datangnya teriakan. Ia terperanjat karena tiba-tiba di hadapannya sudah ada seekor kerbau yang sangat besar, bermata merah, tanduknya  melengkung panjang,  mulutnya penuh dengan ludah kental.

Mata merahnya menatap tajam, sambil menggerak-gerakkan kaki depannya seolah siap menerjang.

Tanpa pikir panjang, Mayang Sari membuka selendang yang menutupi rambutnya. Betul perkiraan Mayang Sari,  kerbau tiba-tiba menyeruduk menyerang dirinya.

Dengan cekatan Mayang Sari melompat ke arah kiri sambil melempar selendang ungu ke tubuh kerbau. Kerbau gila tersebut seolah tahu serangan balik Mayang Sari. Tubuhnya yang besar tiba-tiba berbalik ke arah yang berlawanan dengan datangnya selendeng yang terus melesat. “Buak” selendang Nyi Mayang bersarang mengenai pohon besar di sekitarnya.

Dampaknya begitu dahsyat luar biasa. Pohon tersebut daunya langsung layu berguguran dan mengering seketika. Mayang Sari mencabut konde emas berbentuk bunga mawar yang tertancap pada gulungan rambutnya. seketika rambut panjangnya teruai tampak hitam berkilau seolah memancarkan cahaya.

Secepat kilat konde emas dilemparkan ke tubuh kerbau, “Jeep” menancap tepat pada lehernya.

“Ooe…ooe…” suara kerbau memekakkan telinga dan membuat ciut nyali semua warga kampung yang sudah berdatangan berkerumun di sekitar tempat pertarungan.

Semua warga yang menyaksikan tidak ada yang berani mendekat karena terlihat kerbau semakin ganas. Kerbau terus mengamuk ke sana kemari sambil menggerak-gerakkan kepala dengan tanduknya yang siap menancap pada apa saja yang ada di hadapannya.

Kerbau kembali menyeruduk menyerang.  Mayang Sari tak tinggal diam dia mengibaskan rambut panjangnya. Kibasan rambut itu bagikan kilat menyambar.

“Buug” tubuh kerbau seolah tertabrak benda keras dan besar. Tubuh kerbau terpental beberapa meter ke belakang, jatuh tersungkur kemudian sekarat dan akhirnya mati.

Warga yang menyaksikan sesaat diam terpana, merasa kagum dengan kemampuan dan kesaktian Mayang Sari yang sangat luar biasa. Tak lama kemudian mereka bersorak seraya mengucap takbir.

“Allahuakbar…Allahuakbar…., hidup Mayang Sari…hidup Mayang Sari.” Teriaknya bak menyambut pahlawan yang menang berperang.

Mayang Sari melangkah mendekati kerbau yang sudah tak bernyawa, dan mencabut konde emas yang tertancap pada lehernya. Setelah membersihkan darah yang menempel pada kondenya dia kembali menggulung rambut dan menancapkan konde tersebut di atasnya sebagai pasak, kemudian mengambil selendang yang terbelit pada sebuah pohon dan mengenakan kembali di atas kepala menutupi rambutnya.

“Hendak pergi kemana Nyai berjalan seorang diri?” Salah satu warga bertanya.

“Saya hendak ke sebalah sana!” Jawabnya sambil menunjuk ke arah sebuah pohon yang tinggi menjulang.

Semua warga menoleh ke arah pohon yang ditunjuk Mayang Sari. Mereka pun merasa penasaran. Mayang Sari melanjutkan langkahnya menuju sebuah pohon tinggi diiringi beberapa warga. Sesampainya di bawah pohon tersebut tiba-tiba seorang warga berkata.

Ja ieu mah horeng tangkal kadu, meni luhur sa awang-awang!” ujarnya. Semua warga, tak terkecuali Mayang Sari, menengadahkan kepalanya ke atas merasa aneh, heran sekaligus kagum dengan pohon duren yang tumbuh sangat tinggi menjulang berbeda dengan pohon duren pada umumnya.

Beberapa saat Mayang Sari dan Warga berkeliling sambil mengamati sekitar area pohon Duren tersebut.  Saat dirasa sudah cukup, meraka pun kembali pulang dengan berbagai pertanyaan dan kepenasaran pada benaknya masing-masing.

Hari terus berganti, minggu terus berlalu tak terasa dua purnama telah lewat. Tepat pada hari Ahad, di rumah Nyi Asnapati sedang kedatangan tamu seorang ulama muda yang datang dari daerah Cogreg Balaraja. Ia bernama Ki Suja.

Ternyata Ki Suja menyampaikan niatnya kepada Nyi Asnapati bahwa dia hendak meminang adiknya Mayang Sari. Tak berpikir panjang Nyi Asnapati menyampaikan maksud Ki Suja kepada adiknya.

Jodoh, pati, rizki sudah diatur Yang Maha Kuasa. Bagai gayung bersambut, ternyata Mayang Sari menerima pinangan Ki Suja. Tak banyak diceritakan bagaimana proses selanjutnya Mayang sari akhirnya resmi menikah dengan Ki Suja.

Sebagimana telah disepakati sebelumnya, setelah menikah Mayang Sari dan Ki Suja pindah dan membuka pemukiman baru di sebuah lahan di dekat sebuah pohon duren yang tinggi menjulang yang disusul beberapa warga yang akhirnya menetap di sana.

Semakin lama yang bermukim di tempat baru semakin banyak. Kini pemukiman tersebut menjelma menjadi sebuah kampung. Kampung yang terkenal amat subur, air mengalir tampa henti, sumber alam melimpah ruah, petani sugih mukti gemah ripah loh jinawi.

Kampung yang mempunyai ciri tersendiri yakni sebuah pohon duren yang menjulang sangat tinggi. Warga menyebutnya kadu nu luhur ka awang-awang dan menyingkatnya menjadi Kadukawang atau Kadukaweng. Sebutan tersebut akhirnya identik dengan nama kampung  sampai saat ini.

Waktu terus berlalu, takdir Illahi tak dapat dihindari. Ki Suja jatuh sakit dan tak lama kemudian akhirnya wafat. Semua merasa sedih dan kehilangan dengan sesepuh yang selama ini menjadi tumpuan warga, terlebih Mayang Sari dan putra-putrinya merasa kehilangan sosok panutan keluarganya.

Sebelum meninggal, Ki Suja mengamanatkan agar jasadnya dikubur di tanah kelahirannya yakni di Cogreg Balaraja. Kini di Kampung Kadukaweng, Mayang Sari bersama putra-putrinya yang meneruskan kebiasaan almarhum Ki Suja.

Tak lama waktu berselang Mayang Sari dapat kabar mengejutkan. Bak pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, kakaknya tercinta  Nyi Asnapati telah kembali kehadapan Illahi menghadap Yang Maha Kuasa Allah Subhanahuwataalla.

Dengan manaiki kereta pedati, Mayang Sari segera pergi menuju rumah Nyi Asnapati di Kampung Rokoy.

Sesampainya di rumah almarhumah Nyi Asnapati, Mayang Sari dibantu keluarga dan beberapa warga memulasara dan memerintahkan untuk menguburkan jasad almarhumah tepat di bawah pohon besar tempat kebiasaan Nyi Asnapati menenangkan diri  saat masih hidup.

Kini tempat tempat tersebut menjadi tempat pemakaman umum warga kampung Rokoy dan sebagian warganya menjadikan makam Nyi Asnapati sebagai makam Keramat dengan sebutan Keramat Nyi Buyut Asnapati dan bersebelahan dengan makam suaminya yakni Makam Keramat Ki Buyut Jalu.

Sepeninggal suami dan kakak tercinta, Mayang Sari sering terlihat menyendiri merenung sambil bersandar di pohon duren tinggi. Kebiasaan tersebut terus berulang dan tanpa disadari pohon duren tempat Mayang Sari bersandar lambat laun menjadi ‘doyong’ dan akhirnya mati.

Kini, kampung tersebut tak lagi memiliki ciri. Tapi sebutan Kadukaweng tetap abadi sampai saat ini.

Ketika Mayang Sari wafat, jenazahnya dikuburkan di pinggiran kampung yang kini menjadi pemakaman umum warga Kadukaweng.

Sepeninggal Mayang Sari pamor kampung tidaklah luntur malah terus berkembang pesat. Pemukiman semakin padat bahkan di pinggiran kampung bermunculan pemukiman baru.

Sesudah berpuluh-puluh tahun lamanya,  kampung semakin sohor tatkala di pinggiran kampung pada sebuah babakan atau kebun  berdiri sebuah pondok pesantren ternama yang cukup besar bernama Pondok Pesantren Riyadlul Alfiyah.

Riyadlul yang berate  taman, warga menyebutnya kebon, Alfiyah yaitu kitab yang membahas ilmu alat bahasa Arab karangan Ibnu Malik. Dan tempat berdirinya pondok pesantren disebut Kadukaweng Pesantren.

Banyak santri yang datang dari berbagai peloksok negeri menimba ilmu agama Islam di pesantren ini, lebih khusus mempelajari kitab Alfiyah.  Hal ini tidaklah mengherankan, karena sosok pendiri sekaligus pengasuh pondoknya adalah seorang ulama besar yang sangat kharismatik dan begitu dihormati oleh para santri juga para kiyai,

Beliau adalah Abuya Mama Sanja.  Kampung Kadukaweng pun identik dengan julukan kampung santri sampai kini.**(red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.