Asal Mula Nama Kampung Cipuringin Cimanuk, Lahirnya Sumur Sumber Konflik

Suasana kampung Cipuringin Desa Kadumadang Kecamatan Cimanuk Pandeglang (foto-Enceng-BantenTribun)

Cipuringin, Kampung ini masuk dalam wilayah Desa Kadumadang Kecamatan Cimanuk Kabupaten Pandeglang.Nama Cipuringin berasal dari nama sumur atau mata air yakni Sumur Cipu dan Sumur Ringin. Sumur itu menjadi sumber konflik warga kampung. Pengorbanan Ki Bani dan nenek penjual tikar yang tenggelam ke dalam sumur, menjadi musabab dari kelakuan buruk Paruk.

BantenTribun.id- Asal mula penamaan kampung tersebut berasal dari nama sumur atau mata air yang ada di wilayah tersebut. Di sana ada dua buah sumur yang oleh masyarakat dinamai Sumur Cipu dan Sumur Ringin. Kedua sumur memiliki air yang sangat jernih dan dijadikan tempat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari selain dijadikan untuk  pemandian umum.

Enceng Tiswara Jatnika, Pimpinan Sanggar Seni Pamanah Rasa Kecamatan Kaduhejo, menceritakan asal mula nama kampung ini berdasar cerita rakyat yang berhasil dirangkum.

Cerita Enceng, sebenarnya  di kampung ini terdapat tiga buah sumur yaitu Sumur Cipu, Sumur Ringin, dan Sumur Cikembang. Akan tetapi Sumur Cikembang sekarang sudah tidak ada.

Sumur Cipu dan Sumur Ringin merupakan sumur kecil namun sangat diandalkan masyarakat kampung tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak.

Tapi, saban  hari di tempat itu selalu saja ada warga yang berselisih karena tidak sabar mengantri.  Tak jarang perselisihan itu berujung pada perkelahian. Hal itu mengundang keprihatinan bagi Ki Bani, yang merupakan tetua kampung yang sangat dihormati warganya.

Ki Bani tidak tega menyaksikan perselisihan warganya memperebutkan air yang berujung perkelahian.

Ki Bani selalu berdoa memohon kepada yang Maha Agung agar diberikan mata air atau sumur yang lebih besar dan berair banyak. Namun, doa Ki Bani tak kunjung terkabul.

Makin hari makin sering terdengar ada warga yang berkelahi, bahkan  ada yang meninggal dunia.  Tidak hanya orang tua yang meninggal bahkan anak-anak banyak yang jadi korban.

Suatu waktu Ki Bani memergoki beberapa warganya sedang berkelahi. Ki Bani merasa kesal dan jengkel atas peristiwa yang terjadi di hadapannya. Ia berusaha melerai,  tetapi usahanya  sia-sia dan  tak dipedulikan warga yang sedang berkelahi.

Akhirnya Ki Bani meluapkan kekesalannya dengan membanting kaleng besar sambil berteriak sekencang-kencangnya.

“Berhentilah… sadarlah… kita semua ini saudara, jangan berselisih apalagi sampai saling membunuh karena memperebutkan air!” suara Ki Bani menurun lembut.

Akan tetapi  salah seorang warga yang bernama Paruk,  menyalak dan menuding Ki Bani sebagai penyebab kematian ayahnya.

Kemarahan Ki Bani terpancing karena ucapan Paruk karena dianggap  adu domba. Penjelasan Ki Bani tetap tidak diterima Paruk.

Selanjutnya Ki Bani berjalan menuju bawah rumpun bambu yang terdapat di sekitar tempat kejadian. Ia lalu bersujud sambil berdoa khusu sekali. Dalam doanya Ki Bani meminta pertolongan Gusti Yang Maha Agung, untuk menurunkan kemakmuran bagi warganya. Serta meminta sumber air atau sumur yang besar untuk mencukupi kebutuhan semua warga.

Ki Bani juga ikhlas mengorbankan nyawanya demi ketenterama warga kampung dan tak ingin ada  warga  meninggal karena  berselisih memperebutkan air.

Air mata Ki Bani meleleh membasahi pipinya. Semua warga menyaksikan apa yang dilakukan sesepuhnya dengan penuh harap. Tak ada seorang pun yang berbicara. Semua diam membisu.

Tiba-tiba semua yang hadir dikagetkan dengan sambaran kilat disertai suara petir yang menggelegar membelah keheningan. Jilatan kilat itu membelah tanah yang sedang digunakan sujud Ki Bani.

Tubuh Ki Bani menghilang tertelan kedalam tanah. Tak lama berselang dari belahan tanah itu menyembur air sangat besar sekali. Air itu begitu bersih dan bening serta tercium aroma wangi  kembang dan wangi badan Ki Bani.

Semua warga merasa heran dan merasa menyesal atas apa yang telah diperbuatnya, tak terkecuali Paruk, yang merasa sangat bersalah dengan perbuatannya  telah berani melawan dan bertindak kurang sopan pada Ki Bani.

Atas peristiwa yang terjadi saat itu Paruk pun sadar, dirinya berjalan perlahan mendekat  pada sumber air kemudian memasukan jari-jari kedua tangannya ke dalam air sumur.

“Saya dan semua warga mohon maaf atas segala kehilafan. Ijinkan saya menamai sumur ini. Karena air sumur ini memiliki wangi kembang juga wangi tubuh Ki Bani maka kuberi nama Sumur Cikembang.”

Semua warga berteriak merasa setuju dengan penamaan sumur tersebut. Tapi tiba-tiba  warga kembali dikagetkan karena dari dalam sumur keluar seekor kuda sembrani berwarna putih kemudian terdengar suara  gaib.

“Dengarkan semuanya, kami akan menjaga kemakmuran kampung ini, oleh karena itu mohon jagalah sumur ini dengan baik dan tetap pelihara hubungan persaudaraan diantara kalian jangan ada lagi perselisihan.” Tak lama kuda pun hilang entah kemana.

Semenjak peristiwa itu, tidak lagi ada warga yang berselisih memperebutkan air karena kebutuhan air untuk seluruh warga di kampung itu  sangat tercukupi dengan keberadaan Sumur Cikembang.

Suatu hari di sekitar Sumur Cikembang, ada seorang nenek-nenek yang berjualan samak (tikar). Ia terlihat sangat kelelahan dan sangat kehausan setelah sepanjang hari berkeliling ke kampung-kampung sambil menggendong beberapa lembar samak berwarna hijau.

Melihat di hadapannya ada sebuah sumur besar dan berair sangat jernih, tak berpikir panjang dia mengambil batok kelapa yang terdapat di dekat sisi sumur kemudian mengambil air  dan meminumnya.

Namun Paruk tiba-taba  tiba-tiba membentak nenek yang sedang meminum air. Paruk menjelaskan jika air sumur itu hanya untuk warga sekitarnya.

Meski sang nenek menanyakan aturan itu  tapi ia tetap meminta maaf karena sudah meminumnya akibat kehausan.

Paruk yang kesal mendengar jawaban nenek itu, kemudian dengan spontan mendorongnya. Nenek terjatuh dan masuk kedalam sumur bersama samak hijau yang dibawanya.

Nenek itu meninggal dalam sumur. Paruk merasa kaget kemudian dia berlari dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu, dalam pikirnya dia merasa menyesal atas perbuatannya.

Sejak kejadian itu, Paruk mengurung diri di rumah. Semakin lama ia terlihat seperti orang yang tidak waras. Jiwanya terguncang. Tidak ada warga yang mau berteman bahkan semua seolah menjauhi dirinya. Tak lama, Paruk pun akhirnya meninggal dunia.

Sepeninggal Paruk, peristiwa aneh kembali dialami warga kampung itu, Hampir tiap hari selalu terdengar  ada warga yang meninggal di Sumur Cikembang. Kebanyakan yang meninggal pada umumnya adalah anak kecil. Warga merasa heran dan penasaran apa gerangan penyebab kematian itu.

Suatu waktu, warga kampung berbondong-bondong mendatangi Sumur Cikembang. Tengah hari, cuaca begitu menyengat, sinar matahari menembus sela-sela  rimbunnya pepohonan. Tiba-tiba dari dalam sumur keluar selembar samak (tikar)  berwarna hijau. Samak tersebut kemudian menggulung salah satu warga yang ada di dekatnya.

Warga berlarian dan berkumpul di bawah rumpun bambu, seterusnya pohon bambu itu ditebangi dan menimpa samak yang menggulung salah satu warga. Warga berusaha menarik warga yang tergulung itu dan berhasil menyelamatkannya.  Banyaknya bambu yang menimpa akhirnya memenuhi sumur. Tiba-tiba air sumur mendadak kering.

Tak lama dari dalam sumur keluar kuda sembrani dan mengatakan jika semua itu akibat perbuatan warga kampung itu.

Kuda itu juga menyampaikan jika sumur itu akan hilang, seraya meminta agar warga kembali memanfaatkan sumur Cipu dan sumur Ringin karena air sumur Cikembang sudah dipindahkan kedalam sumur itu, meski airnya sudah tidak lagi beraroma wangi.

Sejak itu seluruh warga kembali memanfaatkan kedua sumur seperti sebelumnya, yakni Sumur Cipu dan Sumur Ringin. Hingga sekarang, kedua sumur memiliki debit air yang cukup besar sehingga dapat memenuhi  kebutuhan  seluruh warga.

Warga kampung semakin makmur dan hidup rukun. Kedua sumur yang telah memberi penghidupan warga dipelihara dengan baik dan dijadikan tempat pemandian umum. Airnya jernih dan tak pernah kering sampai saat ini. Untuk mengabadikan kedua nama sumur, nama keduanya disatukan menjadi Cipuringin dan dijadikan nama kampung mereka sampai saat ini. *(red)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.