Angka Positif Covid di Pandeglang Terus Melonjak, Pertumbuhan Ekonomi Anjlok 5,3 Persen

Angka positif covid-19 di Pandeglang terus mengalami trend kenaikan. Sementara angka pertumbuhan ekonomi Pandeglang mengalami anjlok alias minus  5,3 persen.  Namun demikian,  masyarakat Pandeglang diminta  harus yakin bahwa Pandeglang sebagai daerah pertanian mampu melewati masa sulit ini.

peta sebaran covid-19 pandeglang, sampai 23 September 2020

Pandeglang, BantenTribun.id–Jumlah kasus positif covid-19 di Pandeglang terus mengalami kenaikan hari demi hari.

Merilis data dari Dinkes Pandeglang, sampai Rabu 23 September 2020 pukul 2 siang, jumlah terkonfirmasi positif virus ini sebanyak 96 orang, tersebar di seluruh wilayah Pandeglang.

Sebanyak 8 kecamatan di Pandeglang, yakni Cadasari, Karangtanjung, Banjar, Cimanuk, Jiput, Picung,Cigeulis dan Cimanggu, sudah masuk zona oranye.

Klaster terbesar  yang menjadi transmisi virus corona paling menghawatirkan saat ini, berasal dari kegiatan ‘hajatan dan Perkantoran’.

“Saya selaku Ketua Satgas Gugus Covid 19 menyampaikan bahwa Pandeglang merupakan Zona oranye terkait dengan Wabah Covid- 19 dan sudah mencapai 96 orang yang terkonfirmasi positif Covid- 19.  Klaster yang paling besar yaitu kegiatan  Hajatan dan Perkantoran sehingga ini sangat merugikan keluarga,” kata Ramadani,  Asda 1 Bidang Pemerintahan dan Kesra, Kabupaten  Pandeglang, saat kegiatan reboisasi hutan di Kelurahan Juhut, Rabu,23 September 2020.

Akibat hantaman pandemic covid-19 ini, pertumbuhan ekonomi Pandeglang juga terpukul dan mengalami anjlok atau minus  sebesar 5, 3 persen pada triwulan ke tiga tahun ini.

Besaran penurunan pertumbuhan Pandeglang ini sejalan dengan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang juga minus 5,32 persen pada kuartal kedua.

“Akibat Covid- 19 ini, kata Ramadani,  pertumbuhan ekonomi Pandeglang menurun 5,3 persen. Namun demikian, masyarakat harus yakin bahwa Pandeglang sebagai daerah pertanian mampu melewati masa sulit ini,” ujar Ramadani.

Pertumbuhan Ekonomi Terburuk Sejak 1998

Berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Agustus kemarin,  pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II (Q2) 2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen.

Pertumbuhan ekonomi Q2 2020 ini juga yang terburuk sejak krisis 1998.  Angka ini juga lebih buruk dari Q1 2020 yang mencapai 2,97 persen dan Q2 2019 yang mencapai 5,05 persen.

Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu 5 Agustus lalu, menjelaskan kontraksi sebesar 5,32% itu merupakan yang terendah sejak triwulan I tahun 1999.

Ketika itu, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 6,13%. Pertumbuhan ekonomi Q2 2020 ini juga yang terburuk sejak krisis 1998. Waktu itu pertumbuhan Indonesia minus 16,5 persen sepanjang 1998. *(kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.