Ambil Gambar ‘Unjuk Rasa UU Ciptaker’ Dilarang, Wartawan Protes Lantang

 

Anggota Polres Pandeglang melarang wartawan Pandeglang ambil gambar saat aksi demo UU Ciptaker kemarin. Buntutnya, Wartawan berdemo dengan suara lantang menilai oknum Polres Pandeglang arogan dan menghalangi tugas jurnalistik.

BantenTribun.id— – “Ada rilis dan kepentingan kami diundang, ada liputan demo kami dihadang”. Salah satu bunyi poster diatas lembaran karton itu dibentangkan wartawan sambil meneriakkan yel-yel memprotes ulah oknum Polres Pandeglang yang melarang wartawan mengambil gambar dalam liputan aksi unjuk rasa UU Cipta Kerja.

Puluhan  wartawan dari berbagai media cetak, elektronik dan media siber yang bertugas di wilayah Kabupaten Pandeglang, melakukan aksi unjuk rasa (Unras) di depan Mako Polres Pandeglang, Jumat 16 Oktober 2020.

Aksi unras ini sebagai bentuk solidaritas kepada seorang wartawan yang dihalang-halangi tugasnya ketika meliput Unras penolakan Undang-undang Cipta Kerja (Ciptaker) oleh kelompok Cipayung Plus kemarin.

Saat itu, oknum anggota Reskrim Polres Pandeglang mengamankan 7 pelajar yang ikut berdemontrasi di depan gedung DPRD Pandeglang.

Namun, saat seorang wartawan tersebut hendak mengambil aksi pengamanan pelajar, malah mendapat larangan dari oknum anggota berpakaian pereman sambil menyingkirkan handphone yang digunakan untuk mengambil gambar.

“Sikap itu jelas tak dibenarkan, karena oknum Polisi sudah menghalangi tugas jurnalistik kami. Kami pertegas tugas kami dilindungi Undang-undang Pers, pahami itu,” kata wartawan yang dihalangi liputan, Nipal Sutisna, Jumat 16 Oktober 2020.

Menurut pria yang kerap disapa Openg, di dalam Undang-undang Pers Nomor 40 tahun 1999 Tentang Pers, disebutkan Pers mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

“Ini peringatan untuk siapapun, intansi manapun. Jangan halang-halangi tugas kami saat melakukan kegiatan peliputan,” tegasnya.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pandeglang, Iman Faturohman mengatakan, sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan oknum tersebut. Ia berharap, kejadian serupa tidak terulang lagi.

“Kejadian serupa tidak boleh terulang lagi. Tidak boleh ada oknum yang menghalang – halangi tugas wartawan,” tambahnya.

Kapolres Pandeglang, AKBP Sofwan Hermanto yang datang menemui pengunjuk rasa,  lalu mengajak wartawan untuk dialog di ruangan.

Sofwan mengaku, akan bertanggungjawab atas persoalan tersebut. Ia juga menyampaikan permohonan mohon maaf kepada seluruh wartawan di Kabupaten Pandeglang.

“Oknum itu anggota saya, ketika anggota saya membuat kesalahan itu juga kesalahan saya. Atas nama pribadi, lembaga dan oknum anggota tadi meminta maaf yang sebesar-besarnya,” tegasnya.(kar/man)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.