Aki Lengser, Pengabar Kerajaan yang Bergeser “Mapag Panganten”

 

Nana Sumarna saat memerankan Aki Lengser (foto-ist BantenTribun)

Kakek berbadan bungkuk, rambut putih, celana pangsi dan baju  kampret hitam plus ikat kepala itu berlenggok menyambut rombongan tamu penting. Ucapan dan logat bahasa suaranya membuat hadirin tertawa. Melepas ketegangan dan kekakuan barisan keluarga pengantin.

Aki Lengser kini bergeser peran. Semula kokolot yang dituakan dan pembawa kabar dari kerajaan, kini menjelma menyambut tamu penting dalam “ Mapag Panganten”.

BantenTribun.id—Dalam Budaya Sunda,  Aki Lengser  awalnya diyakini sebagai pesuruh kerajaan. Namun ada juga yang mengatakan sebagai kokolot  yang dituakan, yang bertugas menyampaikan kabar akan datangnya tamu agung kerajaan. Biasanya dengan membawa dan menabuh gong kecil sebagai alat untuk mengundang rakyat untuk berkumpul dan mendengarkan pesan kerajaan yang akan disampaikan.

“ Aki Lengser merupakan kokolot yang dituakan, ditugaskan untuk menyambut tamu penting kerajaan” ujar Enceng Tiswara Jatnika, Ketua Sanggar Seni Pamanah Rasa, Desa Sukasari Kaduhejo Pandeglang, kepada BantenTribun, Selasa, 10 November 2020.

Peran Aki Lengser memang sudah bergeser. Bukan lagi pengabar bakal datangnya tamu agung kerajaan, namun berperan sebagai penyambut tamu penting atau ‘Mapag Panganten” dalam acara pernikahan.

Upacara Lengser atau Aki Lengser, biasanya sering didampingi penari. Digambarkan dengan sosok kakek yang bungkuk berambut putih memakai pangsi dan celana komprang hitam, ditambah ikat kepala. Dimulutnya terselip cangklong rokok.

Salah satu tarian yang di tampilkan sanggar Pamanah Rasa dalam acara Lengser (foto -ist.BantenTribun)

Penampilan kocak dan menghibur dari Aki Lengser dalam acara mapag panganten, menyambut atau menjembut datangnya calon pengantin dan rombongan, membuat suasana mencair dan menghilangkan suasana kaku atau tegang.

“Mapag Panganten sendiri merupakan salah satu tradisi yang masih dilaksanakan sebagai budaya masyarakat, dan menjadi bagian upacara adat perkawinan dalam masyarakat Sunda,” terang Enceng Tiswara, pengampu mata pelajaran  Bahasa Indonesia di SMPN Kaduhejo 1 Pandeglang.

Enceng menjelaskan lanjut, jika Ki Lengser, selain berperan sebagai penyambut tamu juga   sekaligus pemandu acara.

“Dalam rangkaian acara lengser,  sesudah penyambutan yang disertai barisan penari payung agung,  biasanya dilanjutkan dengan tarian persembahan, tarian merak ataupun tarian Rama-Sinta. Bisa juga tarian tematik lainnya sampai masuk  acara puncak Ijab – Qabul pernikahan,” kata Enceng.

Tarian Merak mendampingi acara Mapag Panganten( foto- ist.BantenTribun)

Meski kehadiran Ki Lengser terbilang singkat dalam prosesi mapag panganten, namun  kemunculan Aki Lengser menjadi paling ditunggu-tunggu. Tingkah jenaka dan nasehatnya meski dari suara dubbing

, mampu mengibur rombongan tamu ataupun penonton.

Kesulitan Regenerasi Pemeran Aki Lengser

Sanggar Pamanah Rasa Kaduhejo, lahir dari melimpahnya talenta seni siswa SMPN Kaduhejo 1. Sekolah ini memang dikenal melahirkan banyak bibit seni dan kerap berprestasi dalam ajang kesenian berbagai tingkatan.

“ Sangar kami berdiri sejak 2008. Awalnya ingin sekali mewadahi anak didik kami pasca lulus sekolah. Melakukan aktivitas dan mengembangkan potensi, sekaligus bisa membantu sekedar menambah penghasilan siswa,” papar Enceng.

Biaya menggunakan jasa Aki Lengser  Sanggar ini dalam prosesi pernikahan, kata Enceng, berkisar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.

“Tergantung paket pilihan yang diinginkan. Jumlah personil yang terlibat untuk prosesi pernikahan  berkisar 20 orang.  Soal agenda tetap sanggar kami adalah tampil dalam ajang seni di Jakarta dan Bali.” Jelasnya.

Mencari pemeran Aki Lengser, ternyata tidak mudah seperti mencari penari. Selain minim peminat dari kalangan perempuan, memerankan Ki Lengser perlu ketrampilan lebih.

“Yang paling sulit itu merangkai kata yang pas dan membuat orang tertawa. Meski kadang malu, namun ada rasa bangga bisa memerankan Aki Lengser dan bisa ikut melestarikan seni budaya dan tradisi masyarakat Sunda,” ungkap Nana Sumarna, pemeran Aki Lengser.

Menurut Nana, tenaga honorer SMPN 1 Banjar ini, memerankan Aki Lengser membuatnya kenal banyak orang, jadi pusat perhatian serta senang ketika bisa menghibur penonton. “Kalau dukanya cukup Aki Lengser saja yang tahu,” ujar Nana.

“Masih sedikit yang tertarik memerankan Aki Lengser. Selain membutuhkan ketrampilan gerak dan mimik  yang cocok sebagai orangtua, juga perlu keluwesan,” kata Rini Apriani, guru bidang studi Seni dan Budaya SMPN Kaduhejo yang juga  pembimbing tari di Sanggar Pamanah Rasa.

Menurut Rini, minimnya peminat pemeran Aki Lengser, menjadi kesulitan tersendiri.

“Di Pandeglang, belum ada perempuan yang berminat memerankan Nini Lengser sebagai pendamping  Aki Lengser. Kalaupun ada, tetap diperankan oleh laki-laki,” terang Rini.

Menghormati dan menghargai tradisi dan adat istiadat Masyarakat Sunda, memelihara dan melestarikan nilai-nilai Ki Lengser, merupakan salah satu wujud nyata. Tanpa upaya pelestarian, niscaya tradisi akan tergerus perkembangan zaman.

Prosesi pernikahan, upacara penyambutan atau pelepasan kelulusan dengan Ki Lengser,  menjadi salah satu cara menjaga lestarinya seni dan budaya ini.

Aki Lengser cuma bergeser, pengabar dari kerajaan yang kini mapag panganten.**(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.