4 Tersangka Korupsi Tunda Disdikbud Pandeglang Dijebloskan ke Rutan

Empat orang mantan pegawai Disdikbud Kabupaten Pandeglang yang sudah lama ditetapkan sebagai tersangka korupsi Dana Tunjangan Daerah (Tunda), akhirnya dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) Pandeglang, tadi malam
Empat orang tersangka korupsi Dana Tunjangan Daerah (Tunda), akhirnya dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) Pandeglang, Selasa (10/4) tadi malam sekitar pukul 20 Wib. (foto-kar-BantenTribun)

Empat orang mantan pegawai Disdikbud Kabupaten Pandeglang yang sudah lama ditetapkan sebagai  tersangka  korupsi Dana Tunjangan Daerah (Tunda), akhirnya dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) Pandeglang, tadi malam.

Pandeglang, BantenTribun.id – Empat orang mantan pejabat dan pegawai Disdikbud Kabupaten Pandeglang yang sudah jadi tersangka dalam kasus korupsi dana tunjangan daerah (Tunda) lingkup Disdikbud, akhirnya akhirnya dijebloskan Kejaksaan Negeri ke Rutan Pandeglang,Selasa(10/4), malam tadi, sekitar pukul 20.00 Wib.

Keempatnya tersangka tersebut yakni, Abdul Azis , mantan Kepala Disdikbud Kabupaten Pandeglang tahun 2012-2013, Nurhasan ,Sekretaris Disdikbud periode 2012-2013, Rika Yusliwati ,Bendahara Pembantu pada Disdikbud tahun 2012-2013, dan Ila Nuriawati, staf pada Disdikbud Pandeglang.

Kepala Rutan Kelas IIB Pandeglang, Heri Kusrita membenarkan  masuknya 4 tersangka tersebut.  Keempatnya menjadi tahanan titipan Kejari Pandeglang,  sejak masuk Rutan sekitar pukul 20.00 WIB malam.

“Benar, ada empat orang  yang sudah jadi tersangka yaitu Aziz, Nurhasan, Ila dan Rika, tadi malam(Selasa,10/4) masuk bersamaan  sekitar pukul 20.00 wib,” kata Heri Kusrita, saat dihubungi BantenTribun via telephon,  Rabu siang (11/4).

Penahanan 4 tersangka korupsi Dana Tunda Disdikbud  ini, seolah menjadi bukti tampikan Kejari Pandeglang, Nina Kartini, yang membantah pihaknya sengaja menunda-nunda kasus korupsi tunda.

Hingga berita ini diturunkan siang ini, belum ada penjelasan resmi dari Kepala Kejari. Wartawan dari berbagai media masih nampak bergerombol di ruang tunggu untuk mendapat penjelasan lebih lanjut dari Nina Kartini.

Kasus Korupsi Dana Tunjangan Daerah Disdikbud Pandeglang, merugikan negara hampir Rp 11.980 milyar.  Kasus ini menyeret beberapa nama penjabat yang diduga “bersekongkol” menjebol keuangan negara, yang terjadi sejak tahun 2010 hingga 2015.

Modus korupsi, sebagaimana yang terungkap dalam persidangan, adalah penggelembungan jumlah guru yang berhak menerima tunjangan daerah.

Beberapa pegawai Disdikbud Pandeglang, telah menjadi tersangka  sejak kasus ini bergulir tahun Selama kurun waktu tersebut, rata-rata jumlah guru dan pegawai yang diajukan tiap bulan ada 11.800 lebih.

Padahal, data riil guru dan pegawai penerima tunda tiap bulan rata-rata 9.000 lebih. Ada selisih jumlah guru dan pegawai di lingkungan Disdikbud Kabupaten Pandeglang dalam satu tahun 27.228 orang. Selisih dana pembayaran tunda tahun 2012-2014 itu,  lalu dibagikan kepada petinggi di Disdikbud Kabupaten Pandeglang.

Selain 4 tersangka  kasus tunda yang dijebloskan malam tadi,  baru Tata Sopandi, mantan Kasubag Keuangan Disdikbud, yang sudah divonis pengadilan tipikor dengan pidana penjara selama 6 tahun penjara dan denda Rp200 juta , pada Kamis,12/10/2017 lalu.

Sebelumnya, terdapat  2 nama lain yang menjadi tersangka namun sudah meninggal dunia sebelum masuk persidangan.

Korupsi Tunda ini, diduga melibatkan sejumlah pihak diluar pejabat Disdikbud. Namun hingga kini, pejabat yang jadi tersangka, baru sebatas lingkungan guru tersebut.

Jhon Bayanta,  Ketua DPP Bidang Investigasi Data Koruptor Lembaga Gerakan Anti Korupsi (LGAK), Provinsi Banten,mengatakan seharusnya pihak lain yang terlibat dalam pencairan anggaran  tunda,  bisa diproses dan ditetapkan tersangka.

Jhon menilai ganjil  jika Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Dindikbud Pandeglang mengenai tunda tahun 2010 sampai 2015 diterbitkan tanpa melalui proses Rencana Kerja Anggaran (RKA).

“Sangat aneh bisa dicairkan, Saya akan segera melaporkan kembali siapa saja dari pihak DPKA yang menandatangani SP2D. Tanpa tanda tangan mereka, tidak mungkin bisa dicairkan,” kata Jhon, kepada BantenTribun.( kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.