15 Cara Menjadi Ayah Yang Baik

Menjadi ayah yang baik butuh proses, panjang bahkan melelahkan. Tapi itu adalah bagian dari perjuangan. Bukankah kita akan bangga, ketika mereka tumbuh menjadi orang-orang hebat, lalu berkata. “Kesuksesan ini berkat teladan dari ayah saya.”

menjadi ayah yang baik
menjadi ayah yang baik

BantenTribun.id- Setiap laki-laki yang berani berkomitmen akan mengalami proses panjang menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anaknya.

Menjadi ayah yang baik bukan perkara mudah, tapi bisa. Setiap prosesnya jika disyukuri akan terasa nikmat.

Setiap ayah pasti ingin keluarganya harmonis, anak-anaknya sehat secara fisik dan mental serta mampu menghadapi berbagai situasi nantinya.

Keberanian mengambil risiko dari keputusan yang diambil menjadi awalnya, untuk kemudian terus belajar dan berproses. Beberapa hal ini patut diperhatikan jika ingin menjadi ayah yang baik.

Mulai Riset

Proses menjadi ayah sebenarnya dimulai dengan memilih calon istri. Istri atau calon ibu yang baik adalah hak anak. Ibu yang baik, akan mendidik anak-anaknya dengan kebaikan pula.

Tapi kita tidak bicara pada aspek itu. Kita akan bicara menjadi ayah yang baik, dimulai saat istri positif mengandung calon anak.

Maka dalam hal ini, riset dimulai. Untuk menjadi ayah yang baik, patut riset, meneliti. Setidaknya dengan melakukan wawancara kepada para ayah lain yang dianggap berhasil atau gagal mendidik anak.

Kita punya teman, sahabat, kakak, atau ayah kita sendiri untuk di wawancara, atau setidaknya diajak ngobrol tentang hal itu.

Hasil obrolan itu akan menjadi data dan pengetahuan awal yang bisa kita pertimbangkan.

Buka Buku

Banyak ilmu yang harus disiapkan untuk menjadi ayah yang baik. Seorang ayah perlu membaca buku tentang kehamilan dan prosesnya selama 9 bulan.  Agar bisa saling mengingatkan denga sang calon ibu.

Pengetahun soal persalinan, psikologi calon ibu saat masa kehamilan, teknik merawat bayi, perkembangan bayi, kesehatan dan perkembangan mental anak dan sebagainya perlu untuk diketahui.

Hebatnya kini buku bukan hanya cetak, seorang ayah juga bisa membaca banyak buku elektronik baik gratis atau berbayar.

Putuskan Apa Yang Dimau

Kita tentu akan belajar banyak pada ayah-ayah yang lain dan pengalaman mereka dengan status itu. Kita juga telah membaca banyak buku yang berkaitan dengan perkembangan anak baik mental maupun fisik.

Namun pada akhirnya, harus menjadi diri sendiri. Pengalaman dan Teori hanya akan jadi pertimbangan. Karena menjadi ayah bukan hanya ilmu tapi juga seni. Situasi mungkin berbeda satu sama lain.

Berani Kerjasama

Kerjasama, kata yang mudah diucapkan, tapi tidak mudah dilakukan. Ada barrier, ego sebagai tulangpunggung keluarga. Inferioritas, dan merasa paling bertanggungjawab.

Namun sebenarnya berbagi peran adalah hal yang menyenangkan dan akan meringankan beban. Istri akan mendapat banyak beban ketika mengandung.

Trimester pertama adalah momen menegangkan, saat badan lemas, hingga malas melakukan sesuatu.

Trimester kedua mungkin lebih ringan, tapi tetap butuh perhatian.

Sedangkan trimester ketiga akan menjadi sangat menegangkan. Calon ibu yang sulit tidur, posisi cabang bayi saat di USG, gangguan kelahiran, hingga persiapan biaya persalinan mulai terdeteksi.

Mendekati masa persalinan, keduanya, calon ibu dan ayah makin berdebar. Kontraksi palsu, hingga beban kandungan ibu yang makin berat akan menjadi episode epik yang tak akan terlupakan.

Klimaksnya adalah proses persalinan, mengeluarkan cabang bayi dari rahim calon ibu. Bersyukur bila normal. Tapi akan makin mendebarkan bila bermasalah.

Vacuum, Induksi hingga caesar akan menjadi proses pendewasaan, termasuk bagian dari proses menjadi ayah baik yang tak akan terlewatkan.

Kerjasama menjadi kunci. Ego harus ditekan, karena dimasa itu bisa jadi pelayanan calon ibu atau istri akan berkurang. Maka seorang calon ayah yang baik harus berani mengambil peran.

Rencanakan Keuangan

Keuangan tak bisa dilepaskan dari semua proses memiliki anakn dan menjadi ayah yang baik. Ibu dan calon bayi harus sehat, perlu nutrisi dan asupan gizi cukup.

Pemeriksaan rutin, persiapan kamar bayi, pakaian, biaya persalinan, hingga pasca persalinan, termasuk perayaan kelahiran atau sykuran, semuanya perlu biaya.

Disinila perencanaan keuangan perlu dilakukan, atur budget, tekan ego, dan hindari pengeluaran tak penting. Fokus dan prioritaskan untuk kelahiran calon anak.

Hadir dan Siaga

Proses menjadi ayah yang baik, salah satunya adlaah hadir dan siaga dalam berbagai situasi.

Saat hamil istri atau calon ibu akan butuh banyak perhatian, proses persalinan, calon ibu butuh dukungan dan motivasi. Saat anak lahir dan tumbuh kembang, perlu kerjasama yang baik.

Seorang ayah yang baik yang ingin anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik harus hadir dan siaga kapanpun dan dimanapun.

Perdalam Agama

Sebagai seorang muslim, tentu ingin anak-anaknya tumbuh dengan pondasi akidah dan agama yang benar.

Semua itu butuh proses bahkan saat pra nikah, nikah, pasca nikah, pra dan pasca persalinan.

Seorang bayi yang lahir harus di lantukan adzan dan iqomah oleh ayahnya. Lalu ada aqiqah, dan syukuran atau selamatan.

Setelah itu anak mulai tumbuh dan berkembang, menjadi remaja, hingga dewasa.

Ayah dengan pemahaman agama yang baik akan mengajarkan Al-qur’an sebagai pedoman hidup, mengajarkan shalat sebagai tiang agama, mengajarkan puasa hingga bersikap selayaknya seorang muslim yang baik.

Pondasi-pondasi itu akan membuat anak memiliki karakter yang kuat, dan menjadi pembela agamanya kelak.

Maka memperdalam agama dengan berguru pada ustadz atau ulama terpercaya, menjadi hal yang tak boleh ditinggalkan oleh seorang ayah.

Bakti Pada Orangtua

Jika kita mau introspeksi, melihat proses lahir hingga tumbuh kembang anak. Akan tergambar seperti itulah perjuangan orang tua kita dulu menjadikan kita sosok yang hadir saat ini.

Seperti sebuah ‘law attraction’ apa yang kita perbuat itu yang akan kita terima. Berbuat baik pada orang tua sejatiny akan berbalik pada kita.

Selain itu, perbuatan baik pada orang tua akan menjadi teladan bagi anak-anak kita. Itu yang akan mereka rekam dan menjadi tolok ukur untuk berbuat baik kepad kita sebagai seorang ayah.

Bersama Anak

Seorang ayah adalah seorang pemimpin. Pemimpin yang baik tentunya sanggup mengendalikan ego dan emosi.

Kesibukan kerja dan tekanan hidup seringkali berdampak pada buruknya interaksi dengan anak. Padahal anak butuh teman dalam setiap proses hidupnya.

Meski tidak mudah, seorang ayah baik selayaknya selalu jadi sosok ‘hero’ bagi anak. Pemberi motivasi, semangat, kata-katanya menjadi inspirasi dan membentuk anak, menjadi apa yang dia inginkan.

Menemani mereka berangkat sekolah, saat belajar, mendengarkan curhatan, hingga mengapresiasi capaian anak, adalah bagian yang tak boleh dilewati seorang ayah.

Jadi Teladan

Orang tua adalah cerminan, buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Sebagian anak mungkin tidak, faktanya banyak anak-anak hebat lahir dari orangtua yang berantakan.

Tapi apakah kita bisa menjamin anak-anak kita punya prinsip hidup yang baik tanpa teladan dari kita sebagai orang tua?

Bukankah kita akan bangga, ketika mereka tumbuh menjadi orang-orang hebat, lalu berkata. “Kesuksesan ini berkat teladan dari ayah saya.”

Pahami Situasi

Situasi akan berbeda dalam setiap tahapan. Saat menghadapi balita, berbeda dengan mereka telah tumbuh menjadi seorang anak kecil yang lucu. Lalu anak tumbuh menjadi remaja, dewasa dan berumahtangga.

Kita tentu tidak bisa berharap anak akan berada disamping kita setiap saat. Akan ada rasa rindu, kehilangan, atau bahkan emosi anak yang seolah tak menghargai keberadaan kita sebagai ayah yang berjuang untuk mereka.

Mereka akan pergi, saat SD, SMP, SMA mungkin mereka akan kembali setiap hari ke rumah, tapi saat kuliah, kita hanya akan melihat mereka saat libur.

Apalagi setelah mereka berumah tangga, dan jauh dari kota tempat dimana kita tinggal. Mungkin mereka hanya akan pulang setahun sekali saat idul fitri. Itupun jika mereka tak mudik ke rumah mertuanya.

Ketika mereka berumahtangga, tidak semua anak akan hidup mapan dan sejahtera. Mendorong mereka untuk terus berusaha menjadi bagian lain yang juga akan kita alami sebagai seorang ayah. Di atas semuanya komunikasi akan menjadi faktor kunci.

Sejalan

Mendidik anak bukan semata tugas ibu, tapi ada peran kita sebagai seorang ayah. Ibu dan Ayah harus sepakat, model pendidikan seperti apa yang ingin diterapkan untuk anak-anak.

Sebagai orang tua, tentu kita ingin anak-anak tumbuh sebagai seorang pribadi yang berkarakter, punya prinsip, dan patuh pada aturan agama.

Akan ada ketenangan, ketika kita bisa memastikan mereka punya pemahaman agama yang baik. Ketenangan ketika kita tiada, akan ada anak-anak shalih yang akan mendoakan kita setiap waktu. Do’a mereka adalah amalan tak terputus dan berdampak pada kita, meski sudah tidak ada di dunia yang fana ini.

Tanpa Pamrih

Saat mereka bekerja, tentu kita ingin mereka memberikan banyak perhatian pada kita sebagai ayah. Mendapat hadiah dari anak, meski sederhana akan terasa istimewa.

Namun kadang kita akan menghadapi situasi berbeda. Mereka terkesan lupa. Atau mereka memutuskan untuk segera berumahtangga, dan fokus perhatian tentu akan bertambah.

Ikhlas tanpa pamrih, akan membuat kita tenang, tetap tersenyum dan sehat lahir batin. Tugas kita hanya mendidik dan mengarahkan mereka untuk menjadi manusia, wakil Allah dibumi.

Jika dewasa, tanggungjawab akan mereka pikul. Jika anak kita perempuan, tanggungjawab kita akan berakhir ketika kita menyerahkan anak-anak kepada calon suami pilihan mereka.

Tingkatkan Amal

Saya teringat dalam obrolan dua orang hebat, mantan menteri pendidikan yang kini menjadi ketua dewan pers, M Nuh dan orang penting dibalik lahirnya Jawa Pos, Dahlan Iskan.

Dalam podcast Disway, mereka berdua mengaku, kesuksesan yang diraih berkat orang tua yang punya tirakat khusus.

Kata tirakat menurut saya identik dengan ibadah khusus. Seperti para sahabat nabi, yang punya ibadah tertentu yang dilakukan berulang, yang menjamin mereka masuk syurga.

Terompah Bilal bin Rabah sudah terdengar disyurga, dengan amalan khusus, tak pernah meninggalkan wudhu dan shalat setelahnya. Begitu pun dengan sahabat nabi yang lain.

Amalan khusus yang dilakukan berulang, seperti bershalawat, dzikir, puasa atau amal lainnya, selayaknya dipegang oleh seorang ayah yang baik. Sangat mungkin itu akan berdampak pada kehidupan anak-anaknya kelak.

Teruslah Berjuang dan Berdo’a

Terakhir dan paling penting, menjadi ayah yang baik adalah sebuah proses. Maka teruslah berjuang memperbaiki diri, seraya terus berdo’a agar anak-anak kita kelak menjadi orang-orang hebat dan teguh memegang prinsip agamanya. ammiin. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.