Wisata esek-esek Yang Tak Pernah Mati Di Pantai Pulo Manuk Bayah

546
Petugas Kepolisian Sektor Bayah saat melakukan pembongkaran warung remang di kawasan wisata pantai Pulo Manuk, pertengahan Mei 2016 lalu. (dok ist-yuda)

Keberadaan warung remang-remang (warem) di kawasan wisata Pantai Pulo Manuk, Desa Darmasari, kecamatan Bayah, kabupaten Lebak sepertinya  tak pernah mati. Meski kerap ditertibkan, namun hingga kini, tempat esek-esek yang berdiri persis di tepi pantai tersebut masih berdiri kokoh seperti batu karang yang tak pernah ambruk diterjang ombak.

Lebak, BantenTribun.id– Siang itu,  ya siang itu, selasa (9/5/2015) atau  2 tahun silam, cuaca di pantai Pulo Manuk begitu cerah. Semilir angin laut terus menerpa tubuh. seolah berpadu dengan gulungan ombak, membuat sejuk teriknya sengatan matahari. Namun, hari yang cerah dan sejuknya tiupan angin sepoi-sepoi  seperti tak ada arti. Tak  terasa bagi para penghuni warem di pantai itu.

Hari itu, bagi mereka merupakan hari yang suram, hari yang tidak pernah dinantikan kehadiranya. Bagi mereka, tiupan angin dan gulungan ombak seperti badai dan tsunami yang hendak menerjang warem yang mereka tinggali.

Lantas apa yang membuat para penghuni warem itu galau. Rupanya, hari itu merupakan hari terakhir bagi mereka untuk mengosongkan rumah yang mereka tinggali.

“Bagaimana kami semua tidak gelisah, karena hari ini kami semua harus mengosongkan dan membongkar rumah yang kami tempati,” kata Tumirah, seorang pemilik Warem.

Tumirah mengatakan, bahwa para pemilik warem memang sebelumnya sudah diberi ultimatum oleh pihak Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (FKPK) Bayah agar hengkang dari tempat itu.

“Kami bingung harus pindah kemana, sementara tempat tinggal kami jauh di Sukabumi. Kami disini kebanyakan para perantau,” ucapnya sedih.

Sebelumnya, pihak FKPK, warga desa, pemilik lahan dan pengelola warem sudah sepakat untuk mengosongkan tempat tersebut. Alasan pengosongan, karena tempat tersebut kerap dijadikan tempat maksiat seperti praktik prostitusi dan mabuk-mabukan.

Proses pengosongan tempat sendiri tidak berjalan mulus, para penghuni warem beberapa kali menolak untuk hengkang. Setelah tiga kali dilakukan musyawarah, akhirnya pemilik warem menyerah dan siap untuk meninggalkan warem.

“Pembongkaran ini sudah sesuai dengan kesepakatan dan komitmen yang telah disepakati bersama. Kita tidak akan memberikan lagi toleransi,” tegas Camat Bayah Eman Suparman, saat eksekusi pembongkaran.

Kata dia, pembongkaran warem karena bangunan tersebut tak berizin dan berada di kawasan wisata, selain itu tempat tersebut kerap dijadikan tempat esek-esek. Setelah lahan dikosongkan, terang Camat, rencananya tempat eks warem akan dibangun kios dan warung dagangan.

“Kita akan lakukan penataan di lahan tersebut, sehingga kawasan itu sesuai dengan pungsinya sebagai tempat wisata,” paparnya.

Eksekusi pembongkaran warem berjalan mulus tanpa ada perlawanan. Bahkan, para pemilik warem membongkar sendiri bangunanya sebelum dibongkar paksa petugas.

Warem Esek-esek Muncul Lagi Di  Pantai Cipanengah

Rupanya, setelah tempat lamanya dibongkar para penghuni warem ini ternyata membangun kembali warem yang lokasinya berada tak jauh dari tempat yang dulu tepatnya di pantai Cipanengah, Pulomanuk. Hanya dalam hitungan hari, bangunan tempat mendulang dosa itu semakin menjamur hingga ke kawasan wisata pantai Kehutanan.

Pemandangan Pantai Pulau Manuk Bayah

Seminggu berlalu, suasana malam kawasan wisata pantai yang memiliki pasir putih dan deretan karangnya itu sepi bak kuburan. Tak lagi terdengar dentuman suara musik dari dalam warem.

Tak ada lagi terdengar suara-suara wanita malam yang mengajak pria hidung belang berajojing ria. Yang ada hanya suara hembusan angin dan deburan ombak yang diiringi senandung binatang malam.

Namun, heningnya malam rupanya hanya bertahan satu pekan saja. Dentuman suara musik dugem sayup-sayup kembali terdengar diantara gemuruh suara ombak laut selatan.

Lentingan suara wanita penghibur kembali terdengar begitu syahdu dari bilik dinding warem melantunkan lagu yang membuat para hidung belang bergoyang. Suara-suara hingar bingar itu rupanya tak jauh dari kawasan warem yang dibongkar seminggu yang lalu.

Rupanya, setelah tempat lamanya dibongkar para penghuni warem ini ternyata membangun kembali warem yang lokasinya berada tak jauh dari tempat yang dulu tepatnya di pantai Cipanengah, Pulomanuk. Hanya dalam hitungan hari, bangunan tempat mendulang dosa itu semakin menjamur hingga ke kawasan wisata pantai Kehutanan.

Pantai yang asri nan bersih dikelilingi rindangnya pepohonan, kini berubah total menjadi kumuh dipenuhi bangunan warem. Kehadirannya  tentu saja mengusik ketenangan warga setempat yang merasa terganggu dan risih. Para pemilik warem, kembali menuai protes dari warga yang meminta pemilik hengkang dan membongkar waremnya.

Para pemilik warem yang didominasi dari luar daerah dan sebagian warga lokal tak bergeming. Mereka memilih tetap bertahan di tempat barunya, meski harus berhadapan dengan warga yang tak menginginkan kehadiran warem.

Para pemilik warem harus kembali menelan kenyataan pahit, mereka akhirnya dipaksa untuk hengkang dan membongkar tempat yang baru mereka tempati.

Akhirnya, pada pertengahan Mei, tepatnya Minggu (12/6/2016), FKPK bersama elemen warga desa memaksa para pemilik warem untuk membongkar warem yang baru berumur dua pekan itu.

Kali ini proses pembongkaran tak berjalan mulus. Para pemilik warem berjuang mati-matian mempertahankan warem yang mereka tempati.

“Ini tak adil, kami hanya usaha mencari nafkah. Salahnya apa, lahan yang kami tempati kami sewa. Kenapa kami diusir lagi,” ucap Iyeng seorang pemilik warem.

Perjuangan para pemilik warem membuahkan hasil. Setelah dilakukan musyawah dengan unsur FKPK dan warga desa, akhirnya disepakati hanya ruangan kamar saja yang dibongkar.

Tak hanya itu, para pemilik warem juga dilarang menyediakan minuman beralkohol, wanita penghibur dan tidak beroperasi pada hari dan jam-jam tertentu. Tentu saja, kebijakan itu merupakan angin segar bagi para pemilik warem. Dengan begitu, mereka tetap bisa menempati warem dan membuka usaha meski dibatasi dengan ketatnya persyaratan.

Syarat tinggal syarat, aturan tinggal aturan. Para pemilik warem kembali melakukan usahanya seperti semula. Musik-musik dugem kembali menyala, wanita-wanita penghibur kembali mengisi kamarnya yang dulu dibongkar. Minuman beralkohol kembali dijual bebas dan pria hidung belang yang haus hiburan tanpa malu-malu mendulang dosa bermaksiat ria.

Pejabat Camat baru Suyanto, pengganti camat lama gerah dengan keberadaan warem yang hingga kini masih eksis. Camat berkoar-koar, akan menertibkan keberadaan warem di kawasan wisata karena merusak citra Kota Bayah yang terkenal religius.

“Bila perlu saya akan bawakan buldoser untuk membongkar warem-warem itu,” tegas Suyanto saat Sertijab beberapa waktu lalu.

Namun, pernyataan orang nomor satu di Kecamatan Bayah itu dianggap sekedar cuap-cuap, karena hingga kini warem itu masih berdiri kokoh seperti batu karang ikon pantai Pulo Manuk.*(Yud)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here