Usaha Tepung Si “Besar Koneng”Kampung Juhut Butuh Perhatian

308
Juanda, mampu memarut talas beneng sebanyak 50 kg perhari (foto-BantenTribun)

Saat ini, Masyarakat di Kampung Cinyurup, Kelurahan Juhut,  sedang ramai diberdayakan oleh salah seorang pengusaha tepung  berbahan baku talas beneng. Sebuah usaha proses produksi  dari hulu-hilir, untuk meningkatkan nilai jual Talas Si Besar Koneng menembus pasar produk olahan industri kue.

Pandeglang,BantenTribun.id – Mendengar “talas”, barangkali yang langsung terbersit di benak kita cuma Talas Bogor. Padahal Bumi Indonesia, memiliki beragam jenis talas. Nah,  salah satunya  adalah “Talas Beneng”. Komoditi pertanian jenis ubi-ubian ini diklaim asli Pandeglang

Talas ini  cukup melimpah di Kelurahan Juhut, Kecamatan KarangTanjung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Penanaman dan pengelolaannya,  juga telah berhasil dikembangkan warga kelompok tani yang dapat disajikan dalam berbagai bentuk seperti keripik kue dan bahan dasar penganan lainnya.

Salah seorang warga Kampung Cinyurup, nampak sedang menjemur irisan Talas Benengnya.(foto-BantenTribun)

Proses pengolahan talas beneng  ini ternyata cukup memakan waktu. Sebelum diproduksi menjadi tepung, talas harus diiris kecil-kecil terlebih dulu dengan menggunakan alat yang dibuat khusus semacam parut.  Setelah itu, irisan kecil tadi harus dijemur dibawah terik matahari langsung, minimal 2 hari.

Juanda (24), warga  RT 05/05 Kampung Cinyurup, mengaku dalam sehari ia bisa mengolah talas beneng sebanyak 50 kg.  Ia hanya bekerja di hari minggu saja , untuk  mengisi waktu luangnya.

“Sehari bisa saya parut  sebanyak 50 kiloan. Sekedar bantu-bantu orangtua untuk menambah penghasilan. Kalau hari biasa saya kerja di Jakarta,” kata Juanda, kepada BantenTribun, Minggu(8/10).

Seperti halnya Juanda, Ibu Bai (52) mengakui pekerjaan  mengiris dan mengeringkan talas beneng ini, setidaknya bisa menambah penghasilan  untuk mencukupi kebutuhan dapur. Apalagi, menurutnya, usaha warungnya kopinya di Kampung Domba, terancam bangkrut akibat sepinya pengunjung.

Bai menceritakan,  irisan talas beneng yang sudah dijemur kering,  perkilogram dihargai Rp 1400,- Semua bahan baku talas, alat parut dan alas untuk menjemur, disediakan oleh pengepul.

“Lumayan pak, bulan kemarin saya dapat Rp850 ribu dari hasil mengolah talas ini,” terang Bai kepada BantenTribun.

Namun demikian, Keduanya mengakui masih banya menemui kendala dalam mengolah komoditas ini. Cara pengeringan  hasil olahan yang  bergantung dari panas  matahari, kadang membutuhkan waktu yang lebih lama jika cuaca mendung.

Selain faktor cuaca, permintaan pasar terhadap tepung talas beneng ini juga diakui masih  belum terbuka.

“Kalau kami disini hanya mengiris dan menjemur kering saja. Ada  Bandar sendiri yang mengolah  menjadi tepung,” kata Madhadi (53), yang bertindak sebagai pengepul hasil olahan warga.

Belum terbukanya pasar tepung talas beneng , diakui Madhadi menjadi faktor yang menghambat  produksi warganya, selain faktor cuaca tadi.

“Waktu pengambilan talas olahan dari bandar besar untuk digiling jadi tepung, menjadi tidak terjadwal pak. Sepertinya Pemerintah juga harus membantu pemasaran tepung talas beneng ini agar bisa cepat berkembang,” harap Madhadi.*(mi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here