Terungkap, Penerima Ganti Rugi Lahan Tol Serang-Panimbang Disunat Puluhan Juta

ilustrasi jalan tol@viva
ilustrasi jalan tol@viva

Terungkap, Warga penerima ganti rugi pembebasan lahan tol Serang-Panimbang,di Kecamatan Picung Pandeglang, disunat oleh oknum Satgas. Nilainya mencapai puluhan juta rupiah. Oknum penyunat dan Kades saling tuding.

Pandeglang,BantenTribun.id– Pembebasan lahan proyek jalan Tol Serang-Panimbang yang ditargetkan rampung tahun 2018 guna mendorong percepatan pembangunan daerah, ternyata menyisakan cerita lain.

Sejumlah warga penerima uang ganti rugi pembebasan lahan tol Serang-Panimbang di Desa Bungur Copong, Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang mengeluhkan adanya  pungutan uang yang diduga dilakukan petugas Satuan Tugas (Satgas) pembebasan lahan.

Nilai pungutan itu tak tanggung-tanggung. Besaran uang yang dipungut oleh oknum Satgas tersebut nilainya mencapai puluhan juta rupiah. Adanya pungutan tersebut diakui SK, seorang warga penerima ganti rugi lahan di Desa Bungur Copong, Kecamatan Picung.

Menurut pengakuan SK, uang dari hasil ganti rugi lahan yang pungut oleh Satgas berinisial Af nilainya sebesar Rp 40 juta. Sk mengaku, uang tersebut diserahkan kepada Af (Satgas-red) di rumahnya pada pekan lalu.

“Dia (Af-red) sendiri yang langsung mengambil uangnya ke rumah saya,” kata Sk.

Saat menyerahkan uang, lanjut Sk, dirinya sempat menanyakan kepada Af perihal pungutan uang tersebut. Af menjelaskan jika pungutan uang tersebut berdasarkan kesepakatan antara pemilik lahan yang setuju dipotong sebesar 5 persen dari jumlah dana yang diterima.

“Saya sempat nanya sama Af. Mengenai besarnya pungutanya, dasar pungutan dan peruntukkannya. Kata Af, uang yang dipungut itu sudah berdasarkan kesepakatan pemilik lahan. Karena, para pemilik lahan sudah tanda tangan setuju dana ganti rugi yang akan diterimanya dipotong 5 persen”ujar SK.

Masih kata SK, dirinya memang pernah diminta untuk menandatangani surat perjanjian yang isinya bersedia dana yang diterima dari ganti rugi lahan dipotong 5 persen.

“Awalnya kami di suruh tanda tangan surat perjanjian oleh satgas, jika tidak di tandatangani, dokumen lahan saya yang terkena jalur tol tidak akan di proses dan tidak akan di cairkan. Namun, setelah saya tandatangani ternyata itu surat keterangan yang menyatakan potongan 5 persen dari nominal yang saya dapat,” urainya.

Saat dihubungi, Satgas pembebasan lahan Af mengakui telah meminta sejumlah uang kepada warga penerima uang ganti rugi. Namun, ia mengaku hanya menjalankan perintah dari atasanya dan Kepala Desa (Kades).

“Perihal yang mengkolektif (memungut) uang dari warga benar saya yang mengambil uang tersebut. Uangnya sudah dibagikan Kades,” akunya.

Af mengaku, uang hasil pungutan dari warga terkumpul sebesar Rp 69 juta.

“Uangnya diatur langsung oleh kepala desa saya tidak peruntukanya untuk apa,” tandasnya.

Kades Bungur Membantah

Saat dihubungi, Kades Bungur Copong E. Hujaedi, membantah telah mengatur dan merencanakan pungutan kepada warga penerima uang ganti rugi pembebasan lahan tol Serang-Panimbang.

“Saya tidak tau apa-apa terkait pungli itu, silahkan untuk Wartawan dan LSM  datang langsung dan menghubungi Ketua Satgas, saya juga tidak di beri apa-apa dari pembebasan lahan jalan tol tersebut,” kilahnya.

Sementara Ajat, anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Desa Bungur, juga mengaku tidak tahu menahu jika persoalan pungutan  uang ganti rugi pembebasan lahan tol pada warganya.

“Saya tidak pernah ikutan, silahkan kroscek ke warga langsung, karena warga yang dapat ganti rugi dan satgas tertutup sekali,” terang Ajat, kepada bantenTribun via chat WhatsApp,Selasa,15/5. (Gus /Duy/kar).

 

1 KOMENTAR

  1. Jgn cari kambing hitam, yg salah cepat proces, jgn sampe perbuatan oknum pembangunan jadi lambat. Sebuah pembelajaran bahwa segala yg melawan hukum akan terungkap. Mslh nasional dikotori oleh oknum yg tdk bertanggung jawab.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.