Tapak Toleransi Antar Umat Beragama di Banten Lama

304

Tak jauh dari Bangunan  Masjid Agung Banten, masjid yang menjadi ikon Provinsi Banten itu, terdapat sebuah vihara. Bangunan Vihara Avalokitesvara namanya,  berdiri sejak tahun 1652. Hingga  sekarang, bangunan terlihat masih  kokoh dan berfungsi. Sebuah pelajaran sejarah tentang adanya toleransi dari Banten Lama. Bukti toleransi yang sudah muncul dan berjalan selama ratusan tahun sampai saat ini.

Serang,BantenTribun.idIssu “intoleransi” antarumat beragama memang pernah mengemuka  di negeri ini.  Namun, sebuah pelajaran sejarah tentang jejak toleransi, dapat dilihat di Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.

Contoh nyata kuatnya tapak atau jejak toleransi di Banten, dapat dilihat di Kawasan Cagar Budaya ini. Di kawasan ini telah berdiri Vihara Avalokitesvara sejak 1652 dan masih aktif sampai sekarang. Tak jauh dari vihara, berdiri juga sebuah masjid yang menjadi ikon Banten, yakni Masjid Agung Banten.

Masjid Agung Banten ini dibangun pertama kali pada tahun1556, oleh Sultan Maulana Hasanudin (1552-1570),  yang merupakan Sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati.

Masjid Agung Banten merupakan kompleks bangunan, terletak + 100 m di sebelah barat Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Kompleks bangunan masjid ini terdiri dari: Bangunan Masjid Agung,Bangunan Tiyamah, dan Menara masjid.

Meskipun menurut  catatan sejarah, Kesultanan Banten dikenal menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat di bumi nusantara, Namun, di daerah ini tidak nampak adanya pengekangan untuk agama lain. Bukti sejarah yang dapat menunjukkan adanya toleransi,  adalah terdapatnya bangunan Vihara, sebagai tempat ibadah bagi pemeluk Agama Budha atau non Islam.

Pendirian vihara tidak terlepas dari kebesaran nama Sunan Gunung Jati. Dalam cerita sejarah disebutkan, ketika masa kejayaan Pelabuhan Karangantu mencapai puncaknya, banyak saudagar dari luar Banten berdatangan, salah satu di antaranya adalah Putri Ong Tin Nio dari Cina.

Menurut cerita, sesampainya di Banten ia bersama rombongan Putri Ong, memutuskan bermalam selama beberapa hari. Ternyata Banten membuat sang putri ini merasa nyaman, yang pada akhirnya ia-pun menetap.

Namun, kedatangan sang putri membuat beberapa warga sekitar merasa terganggu dan resah, karena khawatir kehadirannya akan merusak tradisi dan kepercayaan masyarakat. Kekhawatiran warga sekitar terus berlanjut hingga berujung pada gesekan yang semakin memanas.

Saat situasi demikian, Sunan Gunung Jati menegur dan meminta agar warga tidak berbuat semena-mena terhadap keseharian sang putri. Kharisma sang sunan membuat warga luluh.  Selang beberapa waktu kemudian ternyata Sang Putri menaruh hati pada Sunan, kemudian Putri Ong Tin Nio memutuskan untuk memeluk Islam dan menikah dengan Sunan Gunung Jati.

Melihat kuatnya kepercayaan pengikut Sang Putri, Sunan pun mendirikan sebuah vihara yang saat ini dikenal dengan Vihara Avalokitesvara. Meski sudah beberapa kali mengalami perubahan, cerita dibalik vihara ini masih melekat.

vihara Avalokitesvara  yang berada di Jalan Raya Serang, Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, memang sudah tidak masuk ke dalam cagar budaya.  Karena vihara ini sudah beberapa kali mengalami perubahan bentuk. *(Nur/Kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here