Sentra Industri Keripik Melinjo Karangampel: Perhari Butuh 10 Ton Buah Melinjo Pandeglang

671

Pandeglang, BantenTribun –Buah Tangkil atau melinjo asal Pandeglang, ternyata sangat disukai para pengusaha kripik melinjo alias “keceprek” di sentra industri rumahan Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu. Sedikitnya dibutuhkan 10 ton  melinjo  setiap harinya sebagai bahan baku utama.

Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, memang dikenal sebagai pusat industri kripik melinjo sejak tahun 1986-an. Di kecamatan  ini terdapat sekitar 12 pengusaha keripik melinjo yang masih aktif  hingga sekarang.

“ Kalau tahun 2000-mah jumlah pengusaha melinjo ada sekitar 30 orang. Sekarang tinggal 12 saja. Produksi saya perhari sekitar 500 sampai 1 ton” kata Casudi, salah seorang pengusaha kripik melinjo Di Desa Sendang, Kecamatan Karangampel Indramayu.

Industri rumahan ini  memiliki  kemampuan produksi rata-rata perhari sekitar 500 kilo hingga 1 ton.

Menurut pengakuan pengusaha, buah melinjo asal Kabupaten Pandeglang, meski harganya lebih mahal, tetapi lebih disukai dibanding melinjo dari daerah lain. Ukuran melinjo asal Pandeglang,  memang relatif lebih kecil, namun dinilai memiliki tekstur kekenyalan yang cukup baik, tidak mudah pecah saat  proses pemukulan atau pemipihan. Selain itu, kandungan kadar air melinjo Pandeglang juga lebih sedikit, sehingga menghasilkan  produksi keripik  lebih banyak.

“Kalau Melinjo dari Pandeglang,  meski harganya lebih mahal, tapi banyak dicari karena tidak gampang pecah dan bisa menghasilkan lebih banyak,” kata Mudi, pemilik merk dagang keripik melinjo “Subur” di Desa Benda, Kecamatan Karangampel, Indramayu, kepada BantenTribun .

Proses penggorengan melinjo

“Melinjo Pandeglang bisa menghasilkan 65 sampai 75 Kg keripik matang per 1kuintal bahan baku. Jika  melinjo dari daerah lain paling berkisar 55 sampai 62 kg saja,” imbuh Casudi, pemegang merk keripik melinjo “Ibu Sariah”.

Mudi juga memaparkan, para pengusaha  umumnya saat ini sudah menerapkan mesin pemecah kulit keras melinjo dengan menggunakan alat yang dirancang sendiri. Dengan penerapan tehnologi sederhana tersebut, kemampuan rata-rata produksi juga meningkat. Selain itu, lanjut Mudi, sistem pengupahan juga tidak lagi dengan upah harian, tetapi upah berdasarkan jumlah yang bisa dihasilkan pekerja

“Jadi pendapatan perhari meningkat tajam,” jelas Mudi. (Kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here