Sekolah Bagi Orang Miskin

Sekolah bagi orang miskin@berita sulsel
Sekolah bagi orang miskin. ilustrasi@berita sulsel

*Oleh : Ginanjar  Hambali

Kemiskinan, seringkali membuat masyarakat kehilangan kesempatan untuk terus sekolah, salah satunya apa yang dialami oleh Engkos, sebut saja begitu nama murid saya yang sedang terancam putus sekolah, gara-gara tidak punya biaya. Sebab biaya sekolah bukan hanya dana iuran siswa, juga bagi sebagian masyarakat yang lokasi rumahnya terhitung berjauhan dengan sekolah, harus mengeluarkan biaya ongkos perjalanan menuju dan pulang dari sekolah.

Pada suatu hari di sekolah, setelah jam pelajaran selesai, pada mulanya saya berniat pulang ke rumah, waktu sudah menujukan sekitar pukul 14.30, namun sejumlah murid dimana saya menjadi wali kelas mereka, mendatangi saya, mereka menyatakan akan menengok Engkos, yang dikabarkan sakit. “Bapak mau ikut?” kata mereka. Saya termenung sebentar, antara ikut bersama mereka, atau langsung pulang. Saya menimbang-nimbang, “Ya, bapak ikut,” kata saya.

Sejak libur semester anak itu tidak masuk kelas, jadi sudah hampir dua pekan, kabarnya sakit. Engkos tergolong anak baik, di kelas dia juga menjabat sebagai Ketua Murid atau biasa disingkat KM. Tugas-tugas juga rajin, anaknya agak pendiam. Sebenarnya tidak ada masalah serius dengan semua guru, cuma masalahnya dia memang sering izin sakit. Saya belum sempat menengok, sebab beberapa hari saya juga terkena flu.

Kami mengendarai motor, murid-murid saya di depan, jumlahnya delapan orang, mereka menumpang empat motor, saya sengaja dibelakang mengikuti. Perjalanan kami, sempat tersendat beberapa waktu, sekitar tiga puluh menit, karena ada perbaikan jalan, di Banten Selatan, pemerintah sepertinya tengah banyak memperbaiki infrastuktur jalan. Setelah melewati jalan provinsi yang beraspal, rombongan kecil berbelok melalui jalan berbatu, sepanjang kanan kiri terhampar luas pesawahan.

Dikejauhan, saya melihat Burung-burung belibis tampak bergerombol, saya melihat kadang mereka terbang rendah, turun, lalu tinggi menuju tempat lain.

Akhirnya sampai juga kami ke tempat yang dituju. Rumahnya, berdinding bata yang terlihat karena belum diplester, atasnya juga belum menggunakan plafon, di depan rumah terdapat amben, amben di rumah itu tempat duduk yang terbuat dari bambu, sebentar kemudian sebelum kami mengucapkan salam, dari dalam rumah muncul seorang perempuan, umurnya, sekitar empat puluhan, sekilas saya melihat kekagetan dari wajahnya, ketika melihat kami datang.
“Teman-teman Engkos, nya,” katanya.

Kami pun bersalaman, kemudian saya tahu dia Ibu-nya Engkos, dia mempersilahkan kami duduk. Sebagian murid masih berdiri, sebagian sudah duduk, ketika saya duduk, amben sepertinya mau rubuh, kelebihan beban, saya pun berdiri kembali.

Tidak lama kemudian, Si Ibu sambil membungkukan badan meminta saya untuk masuk ke dalam rumah. Saya pun masuk ke dalam rumah, sepatu tidak dilepas, sebab rumah itu tanpa lantai, maksudnya masih tanah.

Si Ibu kemudian mempersilahkan saya duduk, di kursi di ruangan itu, sebelumnya tidak lupa dia memerintah pada anak kecil yang menonton kedatangan kami untuk meminta Engkos pulang, kursi di dalam juga terbuat dari bambu, kami duduk berhadap-hadapan, Murid-murid saya, tetap di depan.

Dari mulut Ibu itu kemudian meluncur cerita, Engkos, sekarang sedang masa penyembuhan, harus terus minum obat, “paru-paru,” katanya, menyebut sakit anaknya itu. Barangkali, lanjut ceritanya, karena Engkos, kepikiran atas kasus perceraian orangtuanya. Ibu Engkos, kemudian bercerita, sepeninggal suaminya, dia bekerja di Jakarta, sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT), dan sekarang ‘terpaksa’ pulang, untuk mengurus Engkos.

“Engkos berapa bersaudara bu,” kata saya bertanya.

Engkos, anak kedua, kakaknya dulu kuliah, saya tidak sempat bertanya dimana kuliahnya, namun semenjak peceraian yang terjadi selang setahun yang lalu itu, terpaksa harus berhenti kuliahnya. Saya tertegun. Laki-laki setelah perceraian bagi kebanyakan keluarga miskin kadang begitu, pergi seperti tanpa beban. Beberapa saat. Engkos anak kedua, dan yang terkecil masih duduk di bangku sekolah dasar kelas enam.

Engkos masuk. Memakai kaos, menggunakan celana levis selutut. Wajahnya terlihat pucat. Menyalami saya. Kemudian, saya persilahkan duduk di kursi yang bersebelahan dengan ibunya. Ibunya bangkit, permisi untuk kebelakang.

“Sudah sehat,” kata saya berbasa-basi.
Engkos kemudian menjawab, dia masih merasa sakit, dan masih minum obat.
“Tapi, mungkin sudah bisa sekolah,” kata saya.

Sebelum Engkos menjawab, ibunya datang dengan membawa minuman, bersama makanan jajanan warung. “Silahkan pak, ngga ada apa-apa,” katanya, sambil menuangkan minuman ke dalam gelas yang diletakan di depan saya, warnanya hijau dan dingin karena ditambah dengan es, saya menduga itu minuman yang dicampur dengan pemanis yang biasanya untuk jajanan anak-anak yang banyak dijajakan di warung-warung.

Saya meminta air hangat, sebab waktu itu saya juga sedang sakit flu. Ibunya, menyimpan jajanan warung di depan saya, dan membawa minuman dan sejumlah gelas ke luar, untuk murid-murid yang ada di depan rumah. Kemudian, kembali ke dapur.

Saya kembali menatap Engkos, wajah murid saya itu kemudian menunduk, Ibunya datang, lalu pelan sekali kata-kata Engkos itu, “Bapak, Engkos mau berhenti saja dari sekolah,” katanya.

“Berhenti, kenapa,” kata saya kaget.

“Saya sih, masih ingin melihat anak sekolah pak, tapi tidak punya ongkos untuk Engkos, tidak kuat lagi membiayai, motor tidak punya,” kata Ibunya.

Saya menunduk, tidak tega, melihat air mata meleleh di pipi perempuan berperawakan kurus itu.
Saya bertanya, kira-kira jarak dari rumah ke sekolah pada Engkos, dan mendapat jawaban diperkirakan sekitar delapan kiloan.

Pada mulanya, Engkos, biasa menumpang bersama dengan saudaranya, namun karena saudara pindah sekolah, yang jaraknya berjauhan, tumpangan itu tidak ada lagi. Sementara itu, angkutan umum memang tidak ada, di daerah pedesaan itu.

Saya termenung, sementara sekolah terdekat untuk SMA di kampung itu, ya hanya ke SMA dimana Engkos sekarang sekolah. Setelah beberapa pilihan saya sodorkan, seperti bagaimaan kalau Engkos tinggal di pesantren yang dekat dengan sekolah, tampaknya akan menimbulkan masalah karena adik yang kecil harus diurus sama Engkos, karena Ibunya bekerja di Jakarta.

Saya kemudian, hanya meminta Engkos, untuk datang ke sekolah, dan berusaha untuk membantu Engkos. Ditengah perjalanan pulang, saya tiba-tiba teringat sama mereka, ketika Saya meminta Engkos datang ke sekolah, Ibu dan Anak itu, saling berpandangan,”Mudah-mudahan ada ongkos,” kata Si Ibu.

Saya menyesal, mengapa tidak memberi mereka uang untuk ongkos, paling tidak untuk Engkos, ke sekolah. Saya berjanji untuk datang kembali, pada mereka.

***
Engkos, hanya sebuah kisah tentang bagaimana anak-anak dari keluarga miskin kesulitan untuk membiaya pendidikan. Saya banyak menemukan itu. Besok Engkos mungkin tidak akan hadir ke sekolah, sementara sejumlah murid datang dengan kesusahan dan persoalan keluarga mereka.

Saya berharap misalnya ada orangtua asuh untuk anak-anak yang kesulitan. Sebab sebagai guru, saya menyadari kelemahan saya yang tidak bisa membantu untuk persoalan-persoalan seperti Engkos.

Selanjutnya, sering juga terutama dalam hati saya bertanya-tanya, terkait dengan pelajaran di sekolah, benarkah pelajaran yang kita berikan bermanfaat dan berguna untuk bekal mereka menghadapi kehidupan? Benarkah pelajaran ekonomi tentang ekonomi mikro-makro, APBN dan APBD, jenis-jenis pasar, itu berguna bagi ‘orang-orang miskin’?

Apa manfaatnya bagi anak-anak dari keluarga miskin, mempelajari sejarah, sejarah jaman batu, kemerdekaan, perjuangan revolusi sampai revormasi? Benarkah yang diajarkan oleh guru-guru itu berguna untuk murid-murid kita? Benarkah, kita mengajari mereka ilmu-ilmu yang diinstrukusikan kurikulum dari pusat itu, sementara mereka sendiri sedang menghadapi kesusahan menghadapi kelaparan. Benarkah, guru mengerti persoalan sesungguhnya mereka?*(Penulis : Aktivis Nalar Pandeglang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.