Sejarah Baduy Masih Silang Pendapat

Sejarah Baduy hingga kini masih silang pendapat (foto-Nur-BantenTribun)

Sejarah Baduy hingga kini masih silang pendapat (foto-Nur-BantenTribun) 

Asal-usul Baduy belum terungkap jelas dan masih diperdebatkan. Selain pendapat Baduy merupakan warga asli keturunan Batara adam Tunggal, juga ada yang berpendapat Baduy berasal dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang bersembunyi di hutan pedalaman saat Pajajaran runtuh awal abad 16 ketika berkembangnya kekuasaan Islam di Banten yang saat itu dipimpin Maulana Hasanuddin.

BantenTribun.id– Seminar Sejarah Alternatif Banten yang diselengarakan oleh Laboratorium Banten Girang, salah satunya mengangkat tema soal “Sejarah Baduy” yang diselenggarakan di Aula Serbaguna Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang, Selasa (6/11), belum juga mampu mengungkap sejarah asal usul keberadaan masyarakat adat Kanekes atau yang lebih dikenal dengan warga Baduy.

Ketiga narasumber yang ditampilkan masih berkutat pada pendapat masing-masing. Panggiwa Sarman, warga Kampung Marengo, Baduy Luar, didapuk sebagai pembicara pertama, mengatakan bahwa mereka adalah warga asli keturunan Batara Adam Tunggal yang turun-temurun sejak ribuan tahun lalu , diamanatkan untuk menjaga Kabuyutan dan kelestarian alam dengan mengacu pada hukum adat -istiadat dan mengedepankan kejujuran.

“Kami warga Baduy keturunan langsung dari Adam Tunggal diamanatkan untuk menjaga Kabuyutan dan kelestarian alam. Kami bukan pelarian dari Kerajaan Pajajaran” ungkap Sarman.

“Dengan kepercayaan Sunda Wiwitan, kami harus tetap jujur, dengan terus menjaga hukum adat . Diwarga kami tidak menuntut kepinteran tapi kejujuran. Kalau bisa mah selain jujur juga pinter” sambungnya.
Ada keunikan dari paparan Sarman, misalnya penyebutan Sultan Hasanuddin, Maulana Banten pertama yang dititipkan sepasang laki-perempuan keturunan Baduy untuk ditempatkan di Kampung Cicakal Girang.

Pembicara di seminar sejarah Baduy
Pembicara di seminar sejarah Baduy

Diketahui, di kampung yang masuk tanah adat Baduy ini terdapat masjid tua yang dihuni warga muslim. Disini pula warga Baduy melaksanakan nikah secara muslim sebelum melakukan nikah adat didesa mereka masing-masing.

Nanang Dwi Prasdi, meski sepakat dengan pendapat Sarman dan mengungkapkan bahwa Baduy merupakan warga lokal asli. Namun, arkeolog yang banyak melakukan penelitian dan dokumentasi berbagai kelompok etnis di beberapa daerah termasuk Suku Baduy yang menjadi pemateri kedua ini, mengungkapkan berbagai teori tentang suku Baduy. Misalnya laporan tertulis yang pertama kali diungkap oleh C.L. Blume yang melakukan ekspedisi botani ke pedalaman Kanekes pada tahun 1822.
Blume berpendapat bahwa komunitas Baduy berasal dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang bersembunyi di hutan pedalaman saat Pajajaran runtuh awal abad 16 ketika berkembangnya kekuasaan Islam di Banten yang saat itu dipimpin Maulana Hasanuddin.

Berbeda dengan pendapat diatas, Nanang juga mengungkapkan pendapat Van Tricht yang mengungkapkan pendapat bahwa suku Baduy adalah komunitas yang berasal dari daerah itu sendiri, yang memiliki daya tolak terhadap pengaruh luar.

Pendapat tersebut didapat saat dokter kesehatan ini melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, seratus tahun lebih setelah pendapat C.L. Blume.

Selain mengungkap kedua pendapat peneliti diatas, Nanang juga mengungkapkan pendapat para pakar yang konsen dibidang arkeologi, budayawan maupun sejarawan yang dikomparasi dengan keyakinan masyarakat Baduy sendiri.

Berbagai pendapat tersebut justru menimbulkan pendapat yang kontras karena mengaitkan suku Baduy dengan Kerajaan Sunda yang berpusat di Bogor. Ini terkait adanya pelabuhan besar dipesisir Banten sebelum berdirinya kekuasaan Islam yang dipimpin oleh Maulana Hasanuddin di Banten.

Baduy, adalah suku yang mendiami sebuah wilayah seluas sekitar 5200 hektar di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Terdiri dari Baduy Dalam dan Baduy Luar, menjalani kepercayaan Sunda Wiwitan secara turun temurun dengan aturan adat yang masih terus terjaga. Adapun tempat ritual suci adalah Sasaka Domas yang hingga saat ini masih terlarang untuk dimasuki sembarang orang.

Berbagai kegiatan sehari-hari nyaris berhubungan dengan aturan dan hukum adat, seperti prosesi menanam padi, memanen, Seba, berburuh, perkawinan, kelahiran, kematian dan sebagainya. Mereka lebih suka disebut Urang Kanekes, sesuai tempat yang mereka diami. Sebutan Baduy awalnya diungkapkan oleh para peneliti asing sejak lama dengan menyamakan mereka seperti suku pengembara di Arab.

Persoalan serius yang saat ini mereka hadapi adalah pertambahan jumlah penduduk yang terus berkembang, sementara daya dukung wilayah adat yang terbatas sejak turun temurun mengakibatkan berkurangnya lahan akibat tumbuhnya pemukiman-pemukiman baru untuk kebutuhan anak-cucu mereka, belum lagi para penjarah hutan dari luar wilayah mereka.

Hal ini selalu mereka ungkapkan saat melakukan ritual adat Seba Baduy. Persoalan lain adalah tingginya angka kunjungan wisatawan dengan gaya hidup modern yang sedikitnya berpengaruh terhadap gaya hidup generasi muda Suku Baduy itu sendiri. Terlebih kurangnya kesadaran pengunjung atas kebersihan dengan membuang sampah sisa makanan mereka sepanjang jalan yang dilalui pengunjung. (Nur.H/Kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.