Segera Tarik Buku IPS SD yang Cantumkan “Yerusalem Ibukota Israel”

Seorang pria membentuk siluet saat meniupkan Shofar, tanduk biri-biri, dengan latar belakang Masjidil Aqsa yang berlokasi di kota tua Yerusalem yang dikenal dengan Baitul Maqdis, Minggu (10/12/2017).* (ANTARA FOTO/REUTERS/Ammar Awad )
Seorang pria membentuk siluet saat meniupkan Shofar, tanduk biri-biri, dengan latar belakang Masjidil Aqsa yang berlokasi di kota tua Yerusalem yang dikenal dengan Baitul Maqdis, Minggu (10/12/2017).* (ANTARA FOTO/REUTERS/Ammar Awad )

Pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten diminta segera menarik peredaran buku pelajaran IPS Kelas 6 SD dari semua penerbit yang mencantumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Surat permohonan maaf dari Penerbit Yudistira atas kekeliruan tersebut dinilai tidak cukup, tanpa ada upaya penarikan bukunya. Motiv penerbit harus diselidiki lebih mendalam, karena kesalahan itu cukup fatal dan memalukan ditengah upaya dunia menentang Israel menjadikan Yerusalem sebagai ibukotanya.  

Pandeglang,BantenTribun.id- Semua pihak terkait harus bertindak cepat dan segera menarik peredaran buku pelajaran IPS kelas 6 tingkat SD/MI yang mencantumkan Yerusalem sebagai Ibukota Israel, agar tidak menimbulkan pemahaman yang keliru dari peserta didik.

Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud ) Kabupaten dan Provinsi seharusnya bertindak cepat melakukan langkah-langkah penarikan buku pelajaran  SD dari semua penerbit yang mencantumkan Yerusalem sebagai Ibukota Israel tersebut.

“ Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan disemua jenjang memiliki perangkat yang dapat bergerak cepat melakukan penarikan buku cetakan, karena ada UPT Pendidikan , dan Pengawas SD,” kata Eka Supriyatna, Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Pandeglang, kepada BantenTribun, Rabu (13/12).

Menurutnya, setelah penarikan buku tersebut dari tangan sekolah atau siswa, pihak Disdikbud bisa melakukan langkah selanjutnya dengan pihak penerbit buku yang terkait dengan kekeliruan materi pelajaran tersebut.

 

Surat permohonan maaf dari penerbit Yudistira yang ditujukan kepada kepala sekolah dan guru, tanpa ada kejelasan penarikan buku yang beredar.(BantenTribun)
Surat permohonan maaf dari penerbit Yudistira yang ditujukan kepada kepala sekolah dan guru, tanpa ada kejelasan penarikan buku yang beredar.(BantenTribun)

Menanggapi surat dari permohonan maaf dari  penerbit Yudistira, Eka Supriyatna mengatakan sangat tidak setuju karena penerbit hanya menyampaikan permintaan maaf  atas terjadinya kekeliruan, tanpa ada kejelasan langkah penarikan buku itu.

“Apa artinya jika hanya minta maaf tanpa berupaya segera menarik buku tersebut dari peredaran? Ini sama saja dengan tetap membenamkan pemahaman keliru pada anak didik,” terang Eka.

Pernyataan yang sama disampaikan Nurhaipin, salah satu orangtuasiswa yang mendapati pencantuman “Yerusalem sebagai Ibukota Israel” dalam buku pelajaran yang sama cetakan penerbit CV Bina Pustaka Bogor.

Nurhaipin meminta semua pihak bergerak serius dan cepat dengan menarik buku pelajaran dimaksud yang jelas-jelas keliru.

“Semua pihak yang terkait segera lakukan langkah penarikan buku pelajaran itu, agar tidak terkesan  membiarkan kesalahan nyata secara berlarut-larut. Penerbit juga tidak bisa hanya sekedar meminta maaf,” jelas Nurhaipin.

Penerbit Yudistira , telah mengeluarkan surat permohonan maaf atas pencantuman Ibukota Israel adalahYerusalem. Surat tertanggal 12 Desember tersebut ditandatangan oleh Dedi Hidayat selaku Kepala Penerbitan.

Surat penerbit Yudistira bernomor 12/Pnb-YGI/2017,  itu ditujukan kepada seluruh Kepala Sekolah dan Guru, berisi permohonan maaf atas kekeliruan sumber data yang digunakan penerbit.   Dalam suratnya, penerbit  berjanji akan merevisi edisi cetakan berikutnya, tanpa ada kejelasan terhadap buku yang sudah beredar.

Pemerhati pendidikan dari LSM Kompast, Novan Hidayat mengatakan  pencantuman Yerusalem sebagai Ibukota Israel dalam buku pelajaran SD tersebut, selain mengajarkan pemahaman keliru pada siswa didik, juga bisa memprovokasi dan memancing kemarahan umat Islam.

“Ini harus diselidiki lebih mendalam karena melukai umat Islam dunia, temasuk Indonesia  yang sedang ikut berjuang untuk kemerdekaan Palestina dan menentang kebijakan Trump yang menjadikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel. Buku harus segera ditarik ,” ucapnya.*(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here