Ruwatan Bumi Kepuren, Tradisi Tiap 8 Tahun Sekali

246
Tradisi Ruwatan Bumi Kepuren, di Walantaka Serang

Tradisi Ruwatan Bumi yang dilakukan Masyarakat Kepuren, Kelurahan Kepuren,  KecamatanWalantaka, Kota Serang, Provinsi Banten ini hanya dilakukan tiap 8 tahun atau sewindu sekali. Tradisi Ruwatan Bumi Kepuren, merupakan  bentuk ungkapan syukur warga lingkungan Kepuren terhadap Sang Pencipta.

Serang,BantenTribun.id –  Budaya dan tradisi daerah, memiliki ke-khas-an masing-masing. Begitu juga di Provindsi Banten.  kita mengenal Seba Baduy yang dilakukan oleh seluruh masyarakat Baduy, juga Tradisi Seren Taun masyarakat Cisungsang.

Meski tidak  sepamor kedua tradisi diatas, Tradisi Ruwatan Bumi yang dilakukan oleh warga Lingkungan Kepuren, Kelurahan Kepuren, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, sangat menarik disimak, selain rentang waktu pelaksanaannya, juga karena tradisi asli ini berada dalam wilayah kota.

 Generasi ketujuh yang juga Sesepuh Kampung Kepuren Muhammad Kasim Fatmawijaya,  mengatakan, Ruwatan Bumi ini merupakan tradisi asli masyarakat Kota Serang, khususnya Kampung Kepuren. Ia merasa wajib mempertahankan dan melestarikan tradisi tersebut agar terus dikenang oleh generasi berikutnya.

Tahun 2017 ini merupakan tahun digelarnya Ruwatan Bumi Kepuren. Acara itu  telah dilakukan sejak Kamis lalu(5/10) hingga Rabu besok. (11/10).

“Ini merupakan tradisi yang dilakukan oleh leluhur kami, dan akan terus kami turunkan ke generasi berikutnya. Saya kebetulan sudah generasi ketujuh, nanti akan saya lestarikan ke anak saya,” kata Muhammad Kasim,  di sela-sela Ruwatan Bumi, Ahad (8/10).

Menurut Kasim, tujuan Ruwat Bumi adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas terciptanya langit, bumi, dan isinya untuk makhluk yang ada di dunia ini.  Acara ruwatan yang digelar setiap delapan tahun sekali, menurutnya  memiliki arti khusus, karena masyarakat memercayai perputaran alam terjadi setiap satu windu.

“Ada sekitar 1.000 orang terlibat dalam acara ini. Dana yang digunakan dari masyarakat. Perempuan kita minta Rp 200.000. Laki-laki Rp 400.000.  itu bagi yang  sudah berpenghasilan,” katanya.

Hingga saat ini ruwatan bumi masih digelar menggunakan swadaya dari masyarakat, karena belum adanya perhatian dari pemerintah, khususnya Pemkot Serang.  Kasim juga berharap Pemerintah Kota Serang  dapat membantu pendanaan atau menjadikan kegiatan ini sebagai kalender wisata budaya.

“Mudah-mudahan ke depan ada bantuan biar maju tradisi budaya. Lebih bagus kalau dijadikan wisata setiap 8 tahunan,” tuturnya.

Pada hari sakral itu, selain menggelar doa bersama juga ada pemotongan dua ekor kerbau. Daging Kerbau itu disedekahkan kepada warga. Pada hari Ahad merupakan hari sakral, yang dilakukan doa bersama. Selasa malam digelarlah kendang silat. Sementara Rabu akan digelar gendingan dengan menabuh lumpang sambil salawatan dari pukul 07.00-11.00. Pukul 13.00-17.00. dan dilanjutkan dengan wayang golek berisi cerita tentang “Ruwat Bumi” sebagai penutup.*(red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here