Rony Tewas Seketika Akibat Tergencet Dump Truk Miliknya Sendiri di Lokasi Proyek Underpass

154
Garis-Polisi-TKP-Rony-Tewas-
Garis polisi yang membentang di tempat kejadian tewasnya pemilik dump truk, tepat di salah satu sisi dari lokasi proyek pembangunan “underpass” Matraman-Salemba. Foto diambil pada hari Sabtu (21/10) pagi, sehari setelah kejadian. Garis polisi itu kini sudah dicabut. (Foto: Jefri. – BantenTribun.id).*

Jakarta,BantenTribun.id Rony, 43 tahun, tewas seketika setelah tergencet bak dump truk miliknya sendiri di lokasi proyek pembangunan underpass Matraman-Salemba, Jalan Pramuka, Jakarta Pusat, Jumat (20/10) sore, sekitar pukul 18.30 WIB.

Meski sudah dinyatakan meninggal dunia, korban sempat dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Sementara di lokasi musibah, para petugas dari Kepolisian Sektor (Polsek) Senen memasang garis polisi, dan mengamankan satu unit dump truk.

Menurut keterangan saksi mata, Yuningsih, yang juga merupakan istri korban, peristiwa tragis itu terjadi ketika suaminya sedang membuang tanah ke lokasi proyek pembangunan underpass Matraman-Salemba.

“Waktu itu, bak dump truk dinaikkan untuk menurunkan tanah. Lancar. Setelah selesai, suami saya hendak menurunkan lagi bak itu. Tapi tidak bisa. Seperti macet. Kemudian ia memperbaiki sistem hidroliknya. Tanpa disadari, bak dump truk itu turun. Pelan-pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Akhirnya, bak itu menggencet suami saya yang masih berada di tempat hidroliknya,” kata Yuningsih, yang dijumpai BantenTribun, di kediaman kerabatnya, sekitar Kelurahan Palmeriam, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, Selasa (24/10), saat menggelar acara pengajian bagi korban.

Pada saat kejadian itu, Yuningsih sebetulnya berada tepat di depan dump truk tersebut. Namun, ia mengaku sedang melakukan komunikasi melalui telepon selulernya, sehingga tidak memperhatikan bak truk yang turun saat Rony sedang memperbaiki perangkat hidroliknya.

“Begitu melihat suami sudah tergencet bak truk, barulah saya berteriak-teriak meminta tolong kepada orang-orang yang ada di sana,” kata Yuningsih, tanpa mampu menyembunyikan kesedihannya.

Izin Buang Tanah

Kegiatan Rony membuang tanah ke lokasi pembangunan underpass Matraman-Salemba itu, lanjut Yuningsih, sudah mendapat izin dari pihak PT Jaya Konstruksi (Jakon), pelaksana proyek tersebut.

“Kita buang tanah ke sana juga karena sudah mendapat izin dari pihak Jakon. Pak Rahmat, namanya,” kata Yuningsih.

Menurutnya, selama pembangunan underpass Matraman-Salemba itu, Rony memang merupakan mitra PT Jakon dengan menjadi penyedia 24 dump truk untuk mengangkut dan membuang tanah breaker-an (puing-puing lapisan permukaan) hasil pengerukan di proyek tersebut ke daerah Marunda (Jakarta Utara) dan Babelan (Bekasi).

“Kami sudah mengangkut tanah hasil kerukan Jakon itu sekitar 200-300 trip. Kuitansi pembayarannya dari Jakon ada lengkap kok di saya, sekitar 10 kali. Biasanya kami membuang tanah itu ke daerah Marunda dan Babelan,” kata Yuningsih.

Tidaklah mengherankan kalau kemudian Yuningsih menyampaikan kekecewaannya terhadap pihak PT Jakon, yang hingga saat ini seolah tidak memperlihatkan rasa belasungkawa terhadap musibah yang dialami Rony.

“Padahal, kontribusi Rony terhadap kegiatan PT Jakon sudah lumayan banyak. Memang, sewaktu di UGD RSCM, ada pihak dari PT Jakon, saya tidak tahu namanya, menjanjikan bantuan kepada kami —meski tidak dijelaskan bentuk bantuan seperti apa. Namun, sampai saat ini, belum ada lagi pihak dari PT Jakon yang datang. Telepon pun tidak,” kata Yuningsih.

Soal kendaraan dump truk milik Rony yang sebelumnya diamankan di Polsek Senen, Yuningsih mengaku sudah mengambilnya kembali dengan membayar biaya administrasi sebesar Rp 2,5 juta.

Sementara itu, salah seorang warga sekitar, Obih Sobihin, mengaku memang melihat dump truk milik Rony itu membuang tanah ke lokasi proyek pembangunan underpass Matraman-Salemba.

“Dump truk itu memang suka saya lihat membuang tanah ke sana. Setidaknya sudah lebih dari sekali saya melihat,” kata Obih kepada BantenTribun.

Bantah Buang Tanah

Dihubungi secara terpisah, Pelaksana Lapangan PT Jakon, Agung, membantah musibah itu terjadi pada saat korban, Rony, melakukan kegiatan membuang tanah ke lokasi proyek pembangunan underpass Matraman-Salemba.

“Musibah itu terjadi sewaktu dia (Rony) sedang memperbaiki truknya sendiri. Dan, truk itu tidak pernah dipakai di proyek ini, Mas. Jadi, itu truk dia pribadi. Habis dipakai ngangkut dari mana, tiba-tiba rusak. Dan, sebenarnya, perbaikan itu dilakukan di luar (lokasi) proyek kita,” kata Agung kepada BantenTribun, Selasa (24/10), di kantornya.

Hal itu kembali ditegaskan Agung untuk membantah adanya kegiatan pembuangan tanah di lokasi proyek pembangunan underpass Matraman-Salemba.

“Dia (sedang) perbaikan, Mas. Nggak buang tanah. Perbaikan. Saya tidak tahu motivasinya dia apa. Kalau setahu saya, dia perbaikan. Tidak ada pembuangan tanah,” kata Agung.

Pernyataan Agung itu diperkuat Ikhsan, Pelaksana Utilitas PT Jakon, yang sempat dipanggil Polsek Senen untuk memberikan keterangan sebagai saksi dari musibah tersebut.

“Soal membuang tanah, saya kurang tahu persis. Karena, saya (sedang) berada di bawah (lokasi pengerukan). Saya baru naik setelah mendengar teriakan minta tolong. Tapi, saat di Polsek, istrinya (korban) menjelaskan bahwa (Rony) di situ sedang perbaikan (truk),” kata Ikhsan.

Pola pengamanan di lokasi proyek pembangunan underpass Matraman-Salemba itu sebenarnya cukup ketat. Wartawan BantenTribun yang bermaksud mengambil foto di lokasi itu saja ditolak, dan disebutkan harus mendapatkan izin dulu dari kantor PT Jakon.

“Kalau tidak diizinkan, mana mungkin dump truk sebesar itu bisa masuk ke lokasi proyek tersebut. Garis polisinya juga dibuat di lokasi proyek,” kata Fuad, salah seorang warga sekitar yang mengaku sempat menghampiri lokasi kejadian pada saat Rony tewas, kepada BantenTribun.

Sementara itu, saat BantenTribun mengunjungi Polsek Senen, tidak ada seorang pun yang bersedia memberikan keterangan secara rinci mengenai kejadian tersebut.

Salah seorang anggota polisi di Polsek Senen, John, hanya bisa membenarkan adanya peristiwa yang merenggut nyawa Rony itu.

Namun, menurut John, ia tidak mengetahui secara detail kronologi kejadiannya, karena yang peristiwa itu ditangani Tim 2 Polsek Senen.

“Yang tangani (peristiwa) itu Tim 2. Pak Ambarita. Kalau saya kasih keterangan, nanti kan (bisa) salah persepsi. Saya cuma tahu, kejadian itu memang ada. Lebih jelasnya, cobalah kembali lagi besok,” kata John kepada BantenTribun.

Berdasarkan pemantauan BantenTribun, kendaraan dump truk milik Rony itu sudah tidak terlihat lagi di Mapolsek Senen. Garis polisi di tempat kejadian pun kini sudah dicabut. (jfm/kar).*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here