Rahmat Zultika: Mengolah Rasa di Ketinggian Puncak Gunung

604
Mengolah rasa mendaki gunung
Rahmat Zultika, saat di puncak Gunung Raung Banyuwangi Jatim(foto.dok)

Dengan mendaki gunung, Rahmat Zultika mengakui bahwa cara itu sebagai salah satu cara melatih rasa dalam menguatkan dan menyehatkan batinnya. Menyadari betapa kecilnya manusia, serta memelihara keharmonisan keluarganya.

Pandeglang,BantenTribun.id – Banyak cara yang bisa dilakukan orang untuk mengapresiasiakan kepuasan hidupnya. Ada yang gemar mengumpulkan banyak kendaraan mewah hanya untuk kepuasaan batin. Ada juga para penghobi otomotif, reptil, burung berkicau, ikan hias, pakaian, perhiasaan, bahkan pada kalangan tertentu mengunjungi sejumlah destinasi wisata yang menakjubkan nan mahal di belahan dunia. Semua itu adalah cara dan ekspresi kepuasaan batin yang tidak ternilai.

Hobi, yang dipresentasikan sebagai karakter seseorang atas kondisi psikologis, memang acapkali melampaui batas-batas pekerjaan, usia bahkan gender. Maka tak heran, jikasekarang banyak pria belakangan ini menikmati menjadi chef (jurumasak)misalnya. Begitu pula sekarang ini  banyak klub pendaki gunung dan olahraga beladiri keras dipenuhi kaum wanita.

Tapi bagi Rahmat Zultika (47 tahun), mengapresiasikan kepuasan batin sebagai bentuk mengolah rasa dengan berada diketinggian gunung yang didakinya , adalah kepuasaan batin yang tidak ternilai.

“Mumpung masih kuat dan diberikan rizki oleh Tuhan, saya akan menyisihkan uang agar bisa pergi mendaki gunung. Itu juga kan sebagai bentuk rasa syukur atas ciptaan Tuhan,” ujar Rahmat Zultika, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, kepada BantenTribun, Sabtu (4/11/17).

Rahmat Zultika, memulai pekerjaannya sebagai PNS tahun 1999 di Pemda JawaBarat kala itu. Sempat ditugaskan ke Dinas Perkebunan Pandeglang dan berpindah ke beberapa OPD. Saat ini, ia dipercaya mengisi pos Kabid Sarpras pada Dinas Pertanian.

Selama berkutat dengan pekerjaannya, ketegangan fisik dan psikologis kerap menghampiri tugasnya dibidang tersebut. Bidang ini memang membutuhkan ketelitian dan ketegasan karena kerap bersinggungan dengan proyek dan pemborong yang beraneka karakter. Rahmat hanya tertawa saat disinggung namanya masuk dalam daftar pejabat yang alot  diajak kompromi oleh pemborong.

“Irama pekerjaan itu kadang membuat saya merasa letih. Kadang bisa juga menggiring tekanan karena tuntutan kerja. Nah, mendaki gunung bisa menjadi obat untuk itu,” ujar ayah dari enam anak ini kepada BantenTribun.

Rupanya, kebiasaan Rahmat mendaki gunung sejak SMP dulu, tidak bisa lepas hingga kini. Ia bahkan sempat mengajak kelima anaknya waktu itu, mendaki Gunung Pulosari Pandeglang, sebagai langkah memperkenalkan dunia gunung terhadap keluarganya.

“Saya merasa sangat kecil sekali sebagai mahluk hidup ciptaan Allah SWT, saat berada dipuncak gunung. Dari ketinggian saya bisa merenungi hidup dan merasakan betapa indahnya Indonesia” ujar pria kelahiran Depok 1970 ini.

Rahmat Zultika bersama keluarganya
Rahmat Zultika bersama keluarganya di puncak gunung Pulosari Pandeglang

Rahmat menceritakan pengalaman mendakinya. Menurutnya dari beberapa Puncak gunung tinggi baik di pulau Jawa Sumatra, atau lainnya,   mendaki Gunung Raung di Banyuwangi JawaTimur, dinilai memiliki trek tersulit yang pernah dirasakan. Trek gunung Raung, juga disebut-sebut sebagai jalur sulit  ke dua  di Indonesia setelah Gunung Cartensz di Papua.

“Gunung Raung yang memiliki ketinggian  puncak 3.344 dpl, itu merupakan trek terberat yang pernah saya alami. Kalau  Gunung Kerinci sangat menguji kesabaran,  dan Gunung Semeru  Jawa Timur, itu yang romantis,” tutur Rahmat, yang baru turun dari pendakian Kerinci September 2017 kemarin.

Ia juga merasa bersukur  karena hobinya menapaki trek ke puncak gunung mendapat dukungan istrinya. Bahkan setiap mau berangkat mendaki, istrinya juga terlibat mempersiapkan segala kebutuhannya.

“Persiapan mendaki gunung kadang perlu waktu sampai 6 bulan. Masalah biaya, Alhamdulillah rasanya ada saja jalannya kalau sudah punya niat mah. Istri juga sangat  membantu,” kata suami dari Voni Dewiyanti, guru di SMA Negeri 8 Pandeglang ini.

Dengan mendaki gunung, Rahmat Zultika mengakui bahwa cara itu sebagai salah satu cara melatih rasa dalam menguatkan dan menyehatkan batinnya. Menyadari betapa kecilnya manusia, serta memelihara keharmonisan keluarganya.

“Yang paling terasa kalau sudah perjalanan turun gunung, saya selalu teringat dengan istri dan anak-anak. Ada banyak hikmah dibalik mendaki puncak gunung,” tutupnya.*(kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here