Porprov V Banten, Megah Namun Diduga Penuh Kecurangan dan Mirip Tarkam

Porprov V Banten, megah namun diduga banyak kecurangan dan mirip tarkam

Porprov V Banten, megah namun diduga banyak kecurangan dan mirip tarkam (foto-Hms-BantenTribun) 

Penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V Banten di Kabupaten Tangerang akan berakhir hari ini. Dibalik megahnya penyelenggaraan event empat tahunan ini, ternyata mengundang dugaan kecurangan dari peserta dan bahkan dinilai mirip “Tarkam”.

Pandeglang, BantenTribun.id-Penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V di Kabupaten Tangerang akan segera berakhir. Sesuai jadwal event olahraga empat tahunan ini akan ditutup hari ini, 11 November 2018.

Siapa juaranya? Sejak awal sudah bisa dipastikan yaitu tuan rumah karena hingga Sabtu (10/11/2018) atau sehari sebelum event ini ditutup, Kabupaten Tangerang sudah mengeruk 217 emas.

Jumlah medali emas, perak, dan perunggu yang diraih Kabupaten Tangerang sangat mencolok dibandingkan kabupaten/kota lain. Tidak ada yang mampu menyaingi tuan rumah termasuk pesaing terdekat sekalipun yaitu Kota Tangerang, Tangsel, dan Kota Serang.

Di setiap arena lomba, atlet Kabupaten Tangerang bak raksasa. Sulit dikalahkan dan mendadak “kebal” aturan. Raihan medali Kabupaten Tangerang yang jomplang ini menimbulkan tanda tanya besar dari sejumlah kontingen. Ada kontingen yang menduga tuan rumah banyak menggunakan atlet-atlet profesional dari luar Provinsi Banten dengan maksud mengeruk sebanyak-banyaknya medali. Bukti dugaan kecurangan ini tengah dikumpulkan peserta termasuk Kontingen Pandeglang dan Kota Serang.

Salah satu bukti yang menonjol di arena Porprov dan tertangkap tangan adalah adanya atlet tenis meja nasional asal Jawa Timur yang dipakai Kabupaten Tangerang yang diketahui proses mutasinya ilegal.

“Berdasarkan aturan, mutasi atlet antar daerah ini harus dilakukan 2 tahun sebelum event. Dan mutasi antar kabupaten/kota minimal 6 bulan,” kata Sirojudin, pengurus KONI Banten.

Kasus ini digugat oleh Kontingen Kota Serang ke pengwas pertandingan. Akhirnya Koni Kota Serang berhasil mempertahankan 4 medali emas.

Ada juga kasus penghilangan nomor-nomor pertandingan yang sebenarnya wajib dilombakan. Ini menimpa atlet andalan PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) Pandeglang,

Maesaroh. Atlit Asian Games asal Kecamatan Sukaresmi ini tidak bisa tampil di nomor pavoritnya, lompat jangkit. Alasan panitia, lompat jangkit kurang peserta sehingga dicoret. Akibatnya Maesaroh kehilangan potensi 4 medali emas.

Dugaan sikap curang dan kekacauaan penyelenggaraan Porprov V juga diungkap Ketua KONI Pandeglang Syahruddin, yang selama Porprov V terus melakukan monitoring.

Melihat kekacauan ini, KONI Pandeglang menurut Syahruddin akan melakukan gugatan kepada panitia. Bahkan tidak menutup kemungkinan gugatan hukum.

“Penyelenggaraan Porprov V jauh dari harapan. Tuan rumah hanya mengejar prestise dibanding kualitas. Kalau kami boleh bilang, Porprov kali ini seperti Tarkam (antar kampung),” jelas Syahruddin.

Dikatakannya, di Porprov V, Pandeglang mencanangkan masuk posisi 3 besar dengan target 50 medali emas. Target ini menurutnya didasarkan atas hasil-hasil Kejurda atlet Pandeglang yang cukup bagus.

“Namun kenyataan dilapangan seperti membentur karang. Atlet yang kami hadapi khususnya tuan rumah levelnya diatas rata-rata dan banyak yang bukan asli Banten,” tandasnya.

Syahruddin menceritakan, di arena pertarungan Muaythai, atletnya yang berusia 17 tahun harus berhadapan dengan atlet senior tuan rumah dengan usia 35 tahun dan sering tampil di TV nasional.

“Sekali tendang atlet saya KO. Itu seperti pertandingan antara murid dengan pelatih,” katanya.

Masih kata Syahruddin, di sela-sela monitoring persoalan ini disampaikan ke Ketua KONI Banten, Rumiah.

“Saya sampaikan, atlet lokal Banten tidak punya tempat. Ini sama saja dengan membunuh potensi atlet lokal. Porprov juga terkesan hanya membuang-buang duit. Ratusan milyar dikeluarkan oleh orang Banten tapi yang dapat bonus orang lain. Saya dengar tuan rumah sampai pakai atlet taekwondo luar yang dibayar Rp 200 juta,” bebernya.

Agar persoalan tidak terus muncul, KONI Pandeglang menurut Syahruddin mendesak agar Porprov digelar KONI Provinsi dan daerah hanya dijadikan tempatnya saja. “KONI Provinsi juga harus bertanggungjawab. Jangan semuanya diserahkan ke penyelenggara akibatnya regulasinya dikuasi penyelenggra dan diatur agar menguntungkan tuan rumah. KONI Banten harus hadir untuk semua daerah,” Syahruddin mengkritik.

Protes keras Syahruddin memang tidak berlebihan. Soalnya di arena Porprov V ini, Kontingen Pandeglang paling buncit dengan 19 emas. Medalinya sangat jauh dibanding kabupaten/kota lain terutama Lebak yang merupakan pesaing utama. Lebak kali ini cukup berprestasi dengan raihan 32 emas.

Terlepas dari  kecurangan di atas, Syahruddin juga mengomentari raihan medali Lebak yang jauh diatas Pandeglang. Katanya, Lebak mengalami perbaikan kualitas dan persiapan yang baik. Nomor-nomor yang banyak memperebutkan medali dikuasi lebak misalnya atletik. Lebak juga punya PPLD (pusat latihan daerah). Selama penyelengaraan Porprov, Lebak pun mendapat dukungan maksimal dari ketua-ketua pencab olahraga dan pejabat daerah dengan meminjamkan fasiltas kendaraan hingga ambulan. “Kami juga sebenarnya sejak lama meminta agar Pemkab Pandeglang bikin PPLD. Namun ternyata belum direspon dengan baik,” tandasnya.

Namun demikian, Syahruddin menyatakan secara umum Pandeglang sukses dan diklaim satu-satunya kontingen yang bertanding sesuai buku panduan dan regulasi olahraga. “Secara prestasi kami memang gagal. Namun kami puas karena 100 persen menggunakan atlet lokal. Anggaran kami pun hanya Rp 3,5 milyar atau tidak sebesar kabuaten/kota lain yang rata-rata diatas Rp 10 milyar,” pungkasnya. (Hms/kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.