Pilkades Adalah Kunci

175

 

Pilkades adalah Kunci

Oleh : Ginanjar Hambali*

Sebanyak 108 desa di Kabupaten Pandeglang, akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Apakah pemilihan itu, akan menghasilkan pemimpin desa yang lebih baik?

Masyarakat desa itu sendiri, yang bisa menjawabnya. Lima November, masyarakat yang mempunyai hak pilih, menentukan pilihannya, mencoblos jagoannya. Baiklah, kita mulai tulisan ini, dengan menggambarkan profil calon secara sekilas.

Profil Calon

Berdasarkan latar belakang pendidikan, banyak diantara  calon kepala desa, yang mengantongi izajah minimal, setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Kejar Paket B. Demikian, calon yang berlatar belakang Sarjana, juga tak sedikit.

Orang boleh mengeluh, ketika menjabat kepala desa, tapi buktinya, kembali mencalonkan diri, walaupun sudah dua priode menjabat. Banyaknya calon petahana, bisa dibaca jabatan kepala desa, itu menarik.

Sepengetahuan penulis, hanya ada satu petahana tak mencalonkan diri. Berdasarkan pembicaraan dengan orang dekat (keluarga, teman, dan tetangga) mantan kepala desa, yang tak ikut mendaftarkan diri, bukan tak tertarik lagi dengan jabatan kepala desa, namun peluang menang cukup berat, di desa tersebut, kepala desa yang mencalonkan kembali, biasanya gagal.

Masih terkait minat. Minat jadi kepala desa yang tinggi bisa dibaca dari jumlah bakal calon. Ada yang sampai delapan bakal calon. Sebab, syarat pilkades hanya boleh diikuti lima calon, maka sejumlah bakal calon terpaksa digugurkan, paniti seleksi.

Panitia seleksi itu terdiri dari unsur Pemerintah Kecamatan, Kepolisian, Koramil, dan KUA. Seleksi bakal calon itu dilakukan melaui tes wawasan kebangsaan, pengetahuan tentang desa sampai agama.

Setelah ditetapkan sebagai calon, lalu panitia pemilihan kepala desa, yang dipilih dari unsur masyarakat, melakukan kerja lanjutan, diantaranya pengundian nomor urut dan warna bendera calon.

Pengerahan massa mulai terlihat, walaupun ada sejumlah calon menyambutnya dengan sederhana, datang saat pengundian hanya didampingi istri dan satu atau dua orang kerabat terdekat.

Selanjutnya, suasana desa semakin memanas. Bakar-bakaran di sejumlah tempat, maksudnya bakar ikan, mulai sering terjadi. Tapi, itu semua butuh biaya, dan dari mana lagi, kalau bukan dari calon.

Latar Pilihan

Seperti memilih Bupati, Walikota, Gubernur sekalipun, seringkali bukan calon sempurna yang hadir. Begitu pun  dengan, calon kepala desa. Ketidaksempurnaan itu terlihat walau ukuranya berbeda; pendidikanya bagus tapi kurang bermasyarakat, bermasyarakat tapi tingkat pendidikan serta program untuk membangun desa, lemah.

Banyak juga yang lemah dari bidang pendidikan, lemah pula program untuk membangun desanya. Bagaimana tidak lemah, berbicara di depan umum saja masih gugup, cuma uangnya banyak. Ada juga pendidikan lemah, program lemah, uang juga tak ada. Modal nekad saja, namanya.

Tapi, begitulah pesta demokrasi, pemilihan pada akhirnya bukan memilih pemimpin yang terbaik dari orang-orang pilihan, demikian mestinya memilih pemimpin yang lebih baik, dari sejumlah calon yang biasa-biasa saja atau cenderung buruk, bisa menjadi jalan.

Penilaian lebih baik juga kadang menimbulkan perdebatan, lebih baik menurut siapa? Baiklah, bab itu kita tinggalkan dengan pertanyaan, Apalagi, bila pemilihan itu diwarnai perilaku kurang baik, yang melukai proses demokrasi itu sendiri. Maka memilih calon terbaik pun, akan menjadi semakin bias.

Bermain curang, seperti memberikan janji-janji manis untuk mempengaruhi pilihan, sampai membagi-bagikan sembako, uang dan sebagainya, terutama menjelang pemilihan. Seperti praktek sebelum-sebelumnya, sudah mulai terdengar, kembali dan akan terulang.

Ironisnya, karena tak dibentuk pengawas pemilihan, maka pilkades tak ubahnya seperti pertandingan, tanpa wasit yang meniup pluit, mengeluarkan kartu kuning, sebagai peringatan atau kalau memungkinkan memberi kartu merah, mengeluarkan calon yang bermain curang berlebihan.

Memang betul, ada perjanjian tertulis calon dengan panitia dan tokoh masyarakat, seperti Pilkada Damai, siap kalah dan menang, dan sebagai-sebagainya. Tapi, janji-janji seperti itu, bercermin pada pilkades sebelumnya, tak begitu berarti.

Uang, pada akhirnya menjadi begitu dominan dipercaya banyak calon, begitu pun masyarakat untuk memenangkan pemilihan. Hal itu juga dipengaruhi tingkat persaingan antar calon kepala desa, kebanyakan tipis atau peluang untuk menang, sama-sama ketat. Paling tidak menurut pengakuan calon dan pendukung.

Selain uang, banyaknya keluarga dimana calon berada, diyakini berpengaruh pada keterpilihan. Soal keluarga yang tak mendukung kerabat, sering berbuntut panjang. Hubungan kekeluargaan bisa putus, paling tidak untuk beberapa tahun ke depan.

Kebersamaan penduduk di kampung yang sebelumnya ‘adem ayem’, juga terbelah, tidak mau bertegur sapa salah satu contohnya. Masyarakat yang merasa beda pilihan dengan pemuka agama, sering juga mengambil sikap berlebihan, misalnya meninggalkan sholat jumat, ketika tokoh agama tersebut, naik keatas mimbar khotbah.

Harapan

Mewujudkan pemerintahan desa yang lebih inovatif, transparan dan sebagai-sebagainya, yang semuanya akan berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Pilkades bisa menjadi kunci, memilih pemimpin yang lebih baik, secara program dan kemampun untuk memimpin.

Tapi, faktor lain kadang menelikung. Seperti dijelaskan sekilas diatas, faktor uang, kekeluargaan, dan sebagainya. Faktor keluarga, tentu itu menjadi modal, tapi yang lebih bagus, kalau calon itu juga punya latar belakang dan program yang bagus dalam membangun desa.

Pada akhirnya, kita berharap pada masyarakat, jangan terlalu banyak meminta pada calon. Kasihan pada calon yang sudah berniat baik untuk terjun ambil bagian dalam demokrasi desa. Semakin cerdas menentukan pilihannya, mencoblos dengan hati nurani, untuk kemajuan desa, bukan karena uang atau kekeluargaan sekalipun, mana calon yang paling bagus, pilihlah.

Sekali lagi, Pilkades adalah kunci. Kunci, bukan hanya membangun desa itu sendiri juga membangun Indonesia dari pinggiran, seperti Nawa Cita pemerintah pusat. Kunci desa akan menjadi lebih baik. Kunci, bagaimana proses demokrasi yang lebih dekat dan terasa, dipraktekkan. Semoga, Pilkades akan menjadi lebih baik, dalam prakteknya.*(Penulis: Pegiat Nalar Pandeglang)

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here